Asap membubung akibat ledakan setelah serangan pesawat nirawak (drone) terhadap sebuah gudang di Al Shuaiba, Kuwait, dalam gambar diam yang diambil dari video media sosial yang dirilis pada 14 Juli 2026. (Foto: Reuters).
DUBAI, (ERAKINI) - Ketegangan di Timur Tengah kembali melonjak ke titik yang mengkhawatirkan setelah Amerika Serikat (AS) memperluas serangan militernya hingga menjangkau wilayah yang lebih dalam di Iran. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan rentetan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah negara sekutu Washington di kawasan Teluk, yakni , , dan , pada Kamis dini hari.
Perkembangan terbaru ini menandai babak baru eskalasi konflik yang berpusat di kawasan strategis Selat Hormuz, jalur pelayaran energi terpenting dunia yang kini semakin menjadi titik panas perseteruan antara Washington dan Teheran.
Militer Iran mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania menggunakan drone kamikaze sebagai respons atas gelombang serangan terbaru yang dilakukan Washington.
Dalam laporan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, Angkatan Darat Republik Islam Iran menyatakan, "Sebagai tanggapan atas agresi musuh, kami menargetkan sistem komunikasi dan fasilitas penyimpanan bahan bakar milik militer AS di Yordania menggunakan drone bunuh diri."
Tidak hanya Yordania, Iran juga mengaku menyerang sejumlah instalasi militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sasaran yang disebut meliputi sistem radar, baterai pertahanan udara Patriot, fasilitas penyimpanan bahan bakar di Pangkalan Udara Ali Al-Salem, Kuwait, hingga fasilitas militer Amerika di Pangkalan Udara Sheikh Isa, Bahrain.
Pemerintah Yordania menyatakan pasukannya berhasil menghancurkan delapan rudal yang mengarah ke wilayah kerajaan tersebut. Informasi itu disampaikan melalui kantor berita resmi Petra.
Di Kuwait, otoritas keamanan melaporkan sistem pertahanan udara mereka sukses mencegat sejumlah rudal dan drone Iran sebelum mencapai target. Sementara itu, Bahrain sempat dilanda kepanikan setelah sirene peringatan serangan udara berbunyi di berbagai wilayah dan warga diminta segera mencari perlindungan.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian menegaskan bahwa operasi militer mereka memang menyasar fasilitas militer AS di ketiga negara tersebut. Menurut pemerintah Kuwait, empat rudal dan 21 drone berhasil dicegat. Serangan itu menimbulkan kerusakan material, namun tidak menyebabkan korban jiwa.
Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan Iran telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke sejumlah negara Arab di kawasan Teluk yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika.
Di sisi lain, militer AS mengumumkan telah menyelesaikan gelombang operasi udara terbaru yang menyasar berbagai titik strategis di Iran. Melalui unggahan resmi di platform X, CENTCOM menyebut serangan ditujukan ke pusat komando, sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pantai, hingga kemampuan peluncuran rudal dan drone milik Iran.
Target utama berada di sejumlah wilayah penting, termasuk Bandar Abbas yang menjadi pelabuhan terbesar Iran sekaligus basis vital Angkatan Laut dan Garda Revolusi di sekitar Selat Hormuz.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir, serangan AS juga dilaporkan menjangkau wilayah yang lebih jauh ke utara. Media pemerintah Iran menyebut ledakan terjadi di sekitar Teheran dan Provinsi Semnan, kawasan yang memiliki keterkaitan dengan fasilitas rudal balistik serta program antariksa negara tersebut.
Selain itu, CENTCOM mengaku melancarkan operasi di Pulau Greater Tunb dengan sasaran sistem pertahanan pantai, lokasi peluncuran rudal jelajah, dan berbagai fasilitas militer yang dinilai mengancam kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz.
Media Iran juga melaporkan serangan di Ahvaz, Bandar Abbas, Konarak, Sirik, dan Pulau Qeshm. Lembaga penyiaran IRIB menyebut serangan di sekitar Ahvaz sempat memaksa evakuasi pusat perawatan kanker anak yang berada dekat lokasi ledakan. Hingga kini, otoritas Iran belum mengumumkan jumlah korban dari gelombang serangan terbaru tersebut.
Namun, dalam laporan terpisah, televisi pemerintah Iran menyebut serangan AS terhadap markas Brigade Infanteri Mekanis ke-388 di Provinsi Sistan dan Baluchestan menewaskan tujuh tentara serta melukai sejumlah personel lainnya.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengungkapkan bahwa serangan udara AS dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan lebih dari 35 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka.
Data tersebut menjadi laporan resmi pertama dari pemerintah Iran mengenai total korban sejak eskalasi terbaru pecah. Meski demikian, Kermanpour tidak merinci jumlah korban sipil maupun personel militer. Pihak militer Iran menegaskan bahwa respons terhadap serangan Amerika belum berakhir dan akan terus berlanjut. Menurut laporan televisi pemerintah, militer Iran menyiapkan "tanggapan tegas" terhadap operasi yang dilakukan Washington.