Di Tengah Gempuran AS ke Iran, Trump Klaim Mojtaba Khamenei Tewas
Akhmad Baihaqi Arsyad
WASHINGTON, (ERAKINI) – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait perkembangan konflik antara Washington dan Teheran. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengklaim bahwa Iran telah kehilangan sebagian besar kekuatan militernya, termasuk para komandan tertinggi serta jajaran pemimpin strategis negara tersebut.
Pernyataan yang paling menyita perhatian adalah klaim Trump mengenai kondisi Mojtaba Khamenei, yang disebut-sebut menjadi sosok penting dalam kepemimpinan Iran pasca-kematian ayahnya. "Mereka tidak punya angkatan laut, tidak punya angkatan udara, semuanya sudah lenyap. Pertahanan anti-pesawat mereka sudah musnah, para pemimpin mereka telah tewas, pemimpin-pemimpin terbaik mereka telah tewas," kata Trump.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut para pemimpin utama Iran telah tersingkir akibat perang yang berlangsung beberapa bulan terakhir. "Mereka sudah tiada. Khomeini sudah tiada," ujar Trump, yang tampaknya merujuk kepada mendiang Ali Khamenei, meski yang disebut adalah nama Ruhollah Khomeini yang wafat pada 1989.
Trump kemudian menambahkan klaim yang memicu spekulasi luas. "Putranya sudah 90 persen tiada," ujarnya.
Mojtaba Menghilang dari Publik
Hingga kini, Mojtaba Khamenei belum terlihat di hadapan publik sejak 28 Februari, ketika serangan gabungan AS dan Israel menghantam sejumlah target penting di Iran. Serangan tersebut dilaporkan juga menewaskan Ali Khamenei.
Ketiadaan Mojtaba dalam berbagai agenda kenegaraan, termasuk saat prosesi pemakaman ayahnya, memunculkan berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatan maupun keberadaannya. Namun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran terkait klaim yang disampaikan Trump. Pernyataan Trump muncul di tengah kembali memanasnya konflik setelah berakhirnya masa gencatan senjata yang sempat berlangsung selama beberapa bulan.
Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang pada akhir pekan lalu. Trump juga telah secara resmi memberi tahu Kongres AS mengenai dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran setelah memerintahkan serangkaian serangan ke berbagai target strategis di negara tersebut.
Di sisi lain, Trump mengusulkan kebijakan baru yang menuai perhatian internasional, yakni mengenakan biaya kepada kapal-kapal asing yang melintas sebagai imbalan atas jaminan keamanan pelayaran yang diberikan Amerika Serikat.
Usulan tersebut dinilai sebagai perubahan besar dari kebijakan tradisional Washington yang selama berabad-abad mendukung prinsip kebebasan navigasi internasional.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan yang menargetkan Bahrain serta dua kapal tanker yang memiliki keterkaitan dengan Uni Emirat Arab saat melintas di kawasan Selat Hormuz.
Serangan itu dilaporkan menewaskan seorang pelaut asal India dan menyebabkan delapan orang lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah Uni Emirat Arab kemudian mengancam akan memberikan respons terhadap tindakan Iran, sebuah langkah yang berpotensi memperluas konflik di kawasan Teluk.
Saat ini, Amerika Serikat dan Iran terus berupaya memperkuat pengaruh mereka di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang pada masa normal menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam dunia.


















