Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memastikan akan memasukkan nama Dwi Sasetyaningtyas ke dalam daftar hitam (blacklist) di seluruh instansi pemerintah. Foto: YouTube/Instagram
JAKARTA, (ERAKINI) — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan akan memasukkan nama Dwi Sasetyaningtyas ke dalam daftar hitam (blacklist) di seluruh instansi pemerintah. Dwi Sasetyaningtya dianggap telah melanggar komitmen dan etika sebagai penerima negara melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan () Kemenkeu.
"Nanti saya akan blacklistdia (Dwi). Di seluruh pemerintahan enggak akan bisa masuk. Nanti kan kita lihatblacklistyang lain seperti apa," ujar Purbaya saat konferensi pers APBN KiTa edisi Februari 2026, Senin (23/2/2026).
Sosok Dwi Sasetyaningtyas belakangan disorot warganet karena membanggakan anaknya mendapat kewarganegaraan Inggris. Mirisnya, Dwi menyebut tidak ingin anaknya jadi warga negara Indonesia (WNI).
Purbaya mengaku sangat menyayangkan sikap Tyas tersebut. Purbaya mengingatkan kepada seluruh penerima beasiswaLPDP bahwa dana yang digunakan untuk menempuh studi berasal dari pajak rakyat. "Itu hal yang kami sesalkan. Jadi kami akan menegakkan aturan yang ada di LPDP, sehingga yang bersangkutan menyelesaikan tanggung jawabnya di LPDP," kata Purbaya.
Purbaya menegaskan bahwa beasiswa yang dipakai Tyas selama penddikan merupakan uang dari pajak rakyat. Karena itu, Purbaya tidak terima dengan hinaan Dwi terhadap negara. Sikap Dwi dinilai tidak sejalan dengan tujuan pemberian beasiswa.
"Saya harapkan ke depan, teman-teman yang dapat pinjaman (beasiswa) LPDP, ya kalau enggak senang ya enggak senang, tapi jangan menghina-hina negara lah, jangan begitu. Itu uang dari pajak dan sebagian dari utang yang kita sisikan untuk memastikan SDM kita tumbuh," tegas Perbaya.
Perbaya memastikan akan menagih seluruh uang negara yang telah digunakan oleh Tyas, termasuk bunganya. Kata Purbaya, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama LPDP Sudarto sudah berkomunikasi dengan suamiya Dwi yang juga merupakan awardee LPDP, dan menyatakan bersedia mengembalikan seluruh dana beasiswa yang dihabiskan.
“Bosnya LPDP sudah berbicara dengan suami yang bersangkutan. Dan dia sepertinya sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dipakai dari LPDP. Jadi, termasuk bunganya loh. Uang LPDP kan kalau saya taruh di bank, kan ada bunganya, dengan treatment yang fair," sebut Purbaya.
Purbaya tak ingin ke depan ada kejadian serupa. Ia meminta seluruh penerima LPDP lebih bertangggung jawab dan bangga sebagai warga negara Indonesia. "Saya ingatkan kepada teman-teman yang lain dari LPDP, dan saya pastikan yang ini (Dwi) akan diblacklist dengan serius," tegasnya.
Diketahui, polemik beasiswaa LPDP ini bermula dari unggahan Tyas di akun Instagram pribadinya pada Jumat, 20 Februari 2026. Dalam video tersebut, alumni LPDP itu memperlihatkan paspor Inggris milik anak keduanya yang baru memperoleh kewarganegaraan Inggris.
Dalam keterangan di unggahannya itu, Tyas menuliskan pernyataan yang kemudian menuai kontroversi karena dinilai merendahkan akses paspor Indonesia serta dianggap tidak menunjukkan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia. "Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA," tulisnya.
Alumni ITB
Tyas bukanlah sosok biasa. Ia dikenal sebagai mahasiswi berprestasi dengan rekam jejak kuat. Ia menempuh sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2009. Ia memilih jurusan Teknik Kimia, salah satu program studi yang dikenal menantang. Pada 2013, Tyas berhasil menyelesaikan studinya dengan IPK 3,34. Selama kuliah, ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif sebagai asisten laboratorium.
Pada 2015, ia lolos seleksi beasiswaLPDP angkatan PK-35 untuk melanjutkan studi magister ke Belanda. Ia diterima di Delft University of Technology dan mengambil program Sustainable Energy Technology. Dalam studinya, ia meneliti model bisnis panel surya (Solar PV) sebagai solusi penyediaan listrik bagi desa-desa terpencil di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelum terbang ke Belanda, Tyas sempat mencicipi dunia korporat sebagai Customer Business Development Manager di perusahaan multinasional, P&G. Namun, jiwanya tampaknya lebih terpanggil ke bidang lingkungan. Sepulangnya ke Tanah Air, ia membuktikan tanggung jawabnya sebagai alumni LPDP dengan mengabdi selama periode 2017–2023. Di masa inilah ia dikenal sebagai aktivis lingkungan dan sociopreneur.
Saat ini, Tyas tinggal di Inggris bersama suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro, yang bekerja sebagai Senior Research Consultant di University of Plymouth. Keduanya sama-sama penerima beasiswaLPDP.