Alumni SMA Taruna Nusantara kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam bidang pertahanan udara Indonesia. Letkol Pnb Anwar Sovie (kanan) mengukir sejarah di kokpit jet tempur F-16 dengan menuntaskan 3.000 jam terbang. Foto: Puspen TNI
JAKARTA, (ERAKINI) - Alumni SMA Taruna Nusantara Magelang kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam bidang pertahanan udara Indonesia. mengukir sejarah di kokpit F-16.
Keduanya adalah penerbang tempur TNI AU yang bertugas di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur. Danlanud Iswahjudi Marsma TNI Muchtadi Anjar Legowo menegaskan bahwa 3.000 jam terbang bukan sekadar pencapaian angka, namun wujud nyata dedikasi, loyalitas, dan profesionalisme seorang penerbang tempur dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara di udara.
Prestasi 3.000 jam terbang dengan F-16 merupakan prestasi yang patut dibanggakan oleh setiap penerbang tempur. Sebab, pencapaian 3.000 jam terbang membutuhkan waktu panjang, usaha keras, dan penuh kegigihan, serta kondisi fisik prima.
Perwira Terbaik dengan Prestasi Mentereng
Letkol Pnb Anwar “Weasel” Sovie memang bukan sosok sembarangan. Dirangkum Erakini, Rabu (19/11/2025), Letkol Pnb Anwar Sovie merupakan alumni SMA Taruna Nusantara tahun 2002 (TN 10). Letkol Pnb Anwar Sovie saat ini menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 3 (Skadud 3), Satuan Tempur Buru Sergap di bawah kendali Wing Udara 3 Tempur, Lanud Iswahyudi yang bermarkas di Maospati, Kabupaten Magetan.
Skadron Udara 3 merupakan salah satu skadron tertua dan nomor 3 yang dibentuk Presiden Soekarno pada 21 Maret 1951. Skadron Udara 3 dulu mengoperasikan pesawat P-51D Mustang (1950–1975), OV-10F Bronco (1976–1989) dan sekarang mengoperasikan pesawat tempur buru sergap andalan TNI AUF-16 Fighting Falcon.
Anwar Sovie merupakan alumni Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2005 dan lulusan Sekolah Penerbang (Sekbang) Angkatan 74. Anwar Sovie sukses mencapai 1.000 jam terbang pada pesawat F-16 ketika masih bertugas di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru pada tahun 2015. Saat itu, Anwar Sovie masih berpangkat Kapten Pnb dan menjabat sebagai Danflightops C Skadron Udara 16.
Anwar Sovie selama ini dikenal memiliki prestasi mentereng dan menjadi salah satu perwira terbaik TNI AU yang telah menempuh berbagai pendidikan di dalam dan luar negeri. Pada tahun 2016, Anwar Sovie yang masih berpangkat Kapten mengikuti kursus instruktur penerbang tempur atau Fighter Weapon Instructor Course (FWIC) di Lanud Iswahjudi. Ia dinyatakan lulus mengikuti kegiatan FWIC dengan hasil baik.
FWIC 2016 merupakan kursus instruktur penerbang tempur yang pertama kali dilakukan di Lanud Iswahjudi Magetan. FWIC tersebut diikuti oleh sembilan peserta, yakni lima penerbang dan empat perwira Korps Lek dari Pusat Pendidikan Pertahanan Udara Nasional (Pusdik Hanudnas).
FWIC juga merupakan sarana peningkatan sumber daya manusia bagi penerbang tempur Indonesia, di mana terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui bagi seorang penerbang tempur. Mulai dari basic, advance, kemudian menjadi instruktur yang salah satunya adalah weapon instructor. Mereka harus menjalani dua fase pembelajaran, yakni fase di bawah (academy training) dan fase terbang (flight training).
Pada tahun yang sama, Anwar Sovie dikirim mengikuti pendidikan pengembangan umum secara bersamaan pada tiga jenjang sekolah di Air University, Maxwell AFB, Alabama, Amerika Serikat. Saat itu, Anwar Sovie berhasil meraih predikat Distinguished Graduate (DG). Anwar Sovie sukses menembus kelompok 10% terbaik dari 600 siswa.
Kriteria untuk dapat meraih DG adalah siswa yang berada dalam top 10% terbaik dan lulus dari semua graded assignment atau setiap bagian dalam commandant’s challenge. Selain itu, siswa juga harus mahir berkomunikasi serta memiliki jiwa kepemimpinan, berkarakter, dan berkemampuan membangun tim dalam kelompoknya.
Sesuai misinya, pendidikan pengembangan umum di Air University Maxwell AFB bertujuan mendidik, melatih, memotivasi, dan membina para perwira menjadi pemimpin angkatan udara masa kini dan masa depan yang mampu mendesain strategi operasi gabungan, memimpin operasi udara, dan mengawaki alutsista serta sistem perang udara modern.
Pada tahun 2019, Anwar kembali mencetak prestasi membanggakan di London. Anwar Sovie yang sudah berpangkat Mayor Pnb berhasil menyelesaikan pendidikan militer Advance Command and Staff College (ACSC) di Defence Academy of The UK, Shrivenham.
ACSC merupakan salah satu pendidikan militer yang menjadi incaran setiap perwira menengah di Inggris. Pendidikan ini diselenggarakan di Defence Academy of The UK, Shrivenham dan diikuti oleh 230 orang siswa yang berasal dari tiga matra (Darat/Laut/Udara). ACSC mensyaratkan 20% personel terbaik di setiap matra untuk dapat mengikuti pendidikan yang dilaksanakan selama 11 bulan.
Tujuan dari pendidikan ACSC adalah untuk mempersiapkan perwira pada level operasional agar mampu memfokuskan kemampuan intelektual, membangun kemampuan analisa, tajam dalam mengambil keputusan, serta memiliki kemampuan berkomunikasi dan mengembangkan profesionalisme.
TNI saat itu harus mengirimkan perwira terbaiknya. Hasil proses seleksi yang panjang kemudian memunculkan nama Mayor Pnb Anwar Sovie, yang saat itu menjabat sebagai Kasiops Skadron Udara 16, Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.
Bersama dengan 103 siswa internasional dari 55 negara, Mayor Pnb Anwar berhasil menyelesaikan kurikulum ACSC dengan predikat Sangat Memuaskan. Indonesia bertambah bangga, karena berkat keaktifannya dalam mengikuti pendidikan, Mayor Pnb Anwar juga menorehkan prestasi dengan menjadi “The Best Speaker” dalam event debat yang diselenggarakan oleh ACSC UK dan Ecole de Guerre (ACSC Perancis).
Pada tahun 2023, Anwar Sovie juga mendapat kehormatan terbang back seat bersama KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menggunakan pesawat T-1612.
Syarat Menjadi Pilot Pesawat Tempur
Duduk di kokpit pesawat tempur bukan perkara mudah. Pilot pesawat tempur harus punya ilmu dan kemampuan yang mumpuni. Seorang Taruna AU yang ingin menjadi pilot militer harus mengikuti pendidikan di Sekbang.
Pada fase selanjutnya, lulusan terbaik dari Sekbang akan dipilih untuk mengikuti Operational Conversion Unit (OCU). OCU adalah unit dalam AU di suatu negara yang memiliki tupoksi mendukung persiapan misi operasional pesawat terbang tertentu dengan menyediakan personel yang memiliki kompetensi.
Di TNI AU, OCU dilaksanakan oleh Skadron Udara 15 Wing 3 Lanud Iswahjudi. Latihan di Lanud yang merupakan jantung pertahanan udara nasional tersebut diarahkan agar penerbang dapat mengenal berbagai manuver yang dapat dilakukan menggunakan pesawat tempur.
Pada tahap inilah instruktur mulai memberikan penilaian apakah para siswa mampu memenuhi persyaratan sebagai penerbang tempur. Penilaian yang diberikan terkait performa fisik dan keterampilan (skill).
Persyaratan pertama yang harus dimiliki oleh seorang penerbang tempur adalah kondisi fisik. Fisik wajib berada dalam kondisi prima karena harus mampu menahan gaya gravitasi yang berat ketika menerbangkan pesawat tempur.
Kondisi fisik seorang pilot tempur memang harus selalu diperhatikan karena sangat menentukan keterampilannya ketika terbang. Untuk pesawat tempurF-16 Fighting Falcon misalnya, pilot harus dapat melakukan manuver hingga mencapai sembilan kali gaya gravitasi bumi (9G). Artinya, pilot yang menerbangkannya harus memiliki kemampuan untuk menahan berat yang mencapai sembilan kali lipat dari berat badannya.
Tidak hanya menahan berat, penerbang juga harus terus berpikir ketika melihat musuh, baik sesama pesawat tempur di udara maupun artileri pertahanan udara (Arhanud) yang berada di darat.
Selain menahan berat badan dan terus menerus berpikir, jantung seorang penerbang tempur juga harus selalu memompa darah ke seluruh tubuh terutama ke bagian otak. Sebagai organ tubuh yang paling vital, otak harus tetap dalam kondisi sadar ketika seorang pilot sedang menerbangkan pesawat tempur.
Itulah mengapa selain keterampilan dan kecerdasan, kondisi fisik sangat menentukan sekaligus diperhitungkan pada fase seleksi penerbang tempur. Jadi, tidak berlebihan jika seorang penerbang harus mampu memenuhi berbagai kualifikasi ilmu maupun kemampuan.
SMA Taruna Nusantara memang tidak secara langsung mendidik siswa menjadi pilot pesawat tempur. Namun, gemblengan mental, fisik, dan disiplin menjadi modal penting bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke Akademi Angkatan Udara (AAU), sebagai gerbang awal menjadi pilot pesawat tempur.