Ali Sadikin mendapat gelar Jenderal Kehormatan dari Presiden Prabowo pada 10 Agustus 2025 lalu. Ali Sadikin pun tercatat sebagai jenderal penuh (bintang 4) pertama dari pasukan elite TNI AL, Marinir. Foto: Ist
Ali Sadikin merupakan legenda dan sesepuh Korps Marinir TNI AL yang pernah terlibat dalam perang-perang kemerdekaan. Di lingkungan TNI AL, Ali Sadikin pernah menempati berbagai posisi strategis, di antaranya Wakil Panglima KKO AL, dan Deputi II Panglima Angkatan Laut.
Dikutip dari Buku Kepemimpinan Militer 1: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto, Ali Sadikin merupakan salah satu figur TNI yang sangat menonjol pada masanya.
Ia dikenal sebagai tokoh Marinir sekaligus tokoh Angkatan Laut Indonesia, terutama saat pasukan Marinir masih bernama Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL).
Sebagai perwira, Ali Sadikin terkenal berani, kharismatis, dan disegani. Namanya mencuat ke seluruh negeri ketika ia menjabat Komandan Batalyon berpangkat kapten di usia muda, 26 tahun.
Salah satu kiprah pentingnya adalah saat terlibat dalam pendaratan KKO di Minahasa, Sulawesi Utara, dalam operasi penumpasan Permesta. Pasukan KKO yang dipimpinnya berhasil menjadi pelopor dalam merebut Kota Manado.
Aksi tersebut berlangsung hampir bersamaan dengan operasi RPKAD yang merebut Lapangan Terbang Mapanget (kini Bandara Sam Ratulangi). Setelah Manado direbut, TNI melanjutkan operasi ke kedalaman Minahasa.
Untuk menuju Minahasa Tengah, pasukan harus melewati Kinilow yang berada di kaki Gunung Lokon. Jalur ini dikenal sulit karena adanya tikungan berbentuk huruf “S” yang menjadi pertahanan kuat Permesta. Berkali-kali pasukan TNI gagal menembusnya.
Ali Sadikin kemudian diminta turun tangan. Dengan strategi memanfaatkan jalur tikus dan menyerang dari belakang, pasukannya berhasil merebut titik pertahanan Kinilow. Kemenangan ini membuka jalan bagi TNI untuk bergerak cepat merebut Tomohon dan wilayah Permesta lainnya.
Atas prestasi tersebut, Ali Sadikin naik pangkat menjadi mayor. Berbagai keberhasilan berikutnya menjadikannya Brigadir Jenderal KKO termuda kala itu, di usia 35 tahun. Julukan “the boy general” pun melekat padanya.
Kecemerlangan karier militer membuat Ali Sadikin menjadi salah satu perwira favorit Presiden Soekarno. Ia pernah menjabat Komandan KKO, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim, hingga Gubernur DKI Jakarta.
Lahir di Sumedang pada 7 Juli 1926, Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 1966 hingga 1977, salah satu masa kepemimpinan terpanjang di ibu kota. Sebagai gubernur, ia akrab disapa “Bang Ali”.
Sejak awal kepemimpinannya, Bang Ali memberi perhatian besar pada kehidupan generasi muda. Ia ingin menghadirkan pesta rakyat murah meriah yang bisa dinikmati semua kalangan.
Awalnya, ia kesulitan menentukan bentuk perayaan HUT Jakarta yang berbeda dari sebelumnya. Bang Ali kemudian terinspirasi dari Pasar Gambir peninggalan era Belanda serta festival di luar negeri. Dari situlah lahir Djakarta Fair (kini Pekan Raya Jakarta/PRJ) dan Malam Muda-Mudi, yang terinspirasi dari karnaval di Rio de Janeiro.
Malam Muda-Mudi menjadi pesta jalanan yang meriah, diikuti ratusan ribu warga Jakarta. Setelah karnaval, masyarakat menikmati hiburan beragam, seperti air mancur merah putih, Jakarta Fair, kesenian tradisional gambang kromong, hingga gamelan Sunda.
Lewat berbagai terobosan dan pencapaiannya, Ali Sadikin dikenang sebagai pemimpin visioner, berani, sekaligus dekat dengan rakyat. Tak heran, sosoknya hingga kini masih dijadikan panutan oleh banyak orang.