Ulang Tahun ke-25, PSMTI Didorong Jadi Wadah Persatuan Etnis Tionghoa di Indonesia
Abdul Rahman Ahdori






HUT PSMTI kali ini mengusung tema “Pesta Demokrasi Sukses, PSMTI Maju, Indonesia Sejahtera”. Melalui tema tersebut, perayaan yang digelar menjadi lebih spesial, dimana selain mengundang anggota dan pengurus PSMTI seluruh provinsi dan kabupaten/kota, PSMTI juga mengundang Presiden Joko Widodo beserta jajaran Menteri kabinet.
Ketua Umum PSMTI, Wilianto Tanta mengatakan, HUT ke 25 ini merupakan tahun perak bagi PSMTI. Oleh karena itu, PSMTI ingin memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa PSMTI memiliki kekompakkan hubungan sosial, budaya, dan kebersamaan antara keluarga-keluarga dengan marga atau keturunan Tionghoa di Indonesia.
"Juga sekaligus memelihara tradisi Tionghoa termasuk dalam hal pendidikan, budaya, dan kegiatan amal. Dalam hal ini, PSMTI merupakan salah satu contoh dari upaya untuk mempertahankan dan memperkaya keragaman budaya di Indonesia," tuturnya.
Di tempat yang sama, salah seorang tokoh yang diberi kesempatan menyampaikan testiomoni yakni Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsyudi Suhud, berharap, PSMTI dapat menjadikan warga Tionghoa semakin menyatu di NKRI.
PSMTI merupakan organisasi etnik Tionghoa berskala nasional yang didirikan sejak pasca Reformasi. Saat ini, PSMTI dipimpin oleh Wilianto Tanta selalu Ketua Umum Pusat.
Kiai Marsudi mengatakan, bahwa Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan bahasa.
Untuk itu, pada HUT ke 25 PSMTI ini, Kiai Marsudi menginginkan kedepannya PSMTI dapat menjadi roda pemersatu bangsa yang menjunjung persatuan dan kesatuan yang dapat melebur perbedaan antar satu dan yang lainnya.
"Mudah-mudahan ke depan semua bisa menerima dengan baik atas perbedaan yang pasti ada. Berbagai perbedaan dalam konteks budaya, perbedaan dalam konteks bahasa hingga perbedaan dalam konteks warga bangsa," kata dia.
Lebih lanjut dia menegaskan, bahwa suku bangsa apapun ketika sudah menetap dan di sah kan oleh negara sebagai bangsa Indonesia, maka tidak ada perbedaan yang patut di pertentangkan lagi.
"Dulu, mungkin disebut Tionghoa, China, tapi ketika sudah jadi bangsa Indonesia, tak ada bangsa lainnya, tetapi hanya satu, bangsa Indonesia," tegasnya.
Selanjutnya, Kiai Marsudi juga membahas poin pendidikan yang menjadi salah satu target dari PMSTI.
Dia menyambut dengan sangat baik, karena menurutnya pendidikan merupakan salah satu hal yang tidak akan pernah terhenti. Karena ketika manusia dilahirkan, maka manusia membutuhkan pendidikan.


