JAKARTA, (ERAKINI)-Anis Baswedan mendapatkan sorotan publik pasca Partai NasDem mendukungnya menjadi calon presiden di Pilpres 2024. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini dikenal sebagai seorang pengajar dan profesor yang memiliki banyak prestasi akademik. Namun sayangnya, sebagai pejabat publik, kinerja Anies dinilai kurang memuaskan.
Hal ini dapat dibuktikan ketika dirinya dipecat Presiden Joko Widodo dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 2014-2019. Belum genap tiga tahun, Anies direshufle karena masuk ke dalam kategori menteri dengan kinerja tak memuaskan.
Sejak dari sana, Anies Baswedan kerap bersebrangan dengan Presiden Joko Widodo dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Puncaknya pada tahun 2016, yang mana saat itu Anies Baswedan mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI bersama Sandiaga Salahudin Uno yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera.
Setelah dinamika yang panjang, akhirnya pasangan ini berhasil mengalahkan Ahok-Djarot Syaiful Hidayat yang diusung PDIP. Setelah tidak menjadi Gubernur DKI, nama Anies terus menjadi pemberitaan media massa, karena sikap bersebrangan dengan pemerintah.
Teranyar, Anies kembali menjadi perbincangan setelah dirinya mendeklarasikan bersama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2024 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/9/2023).
Namun, tahukan Anda, ternyata Anies di usia memang sudah terbiasa mengikuti aktivisme dan gerakan pemuda. Tak hanya itu, dia juga memiliki banyak prestasi terutama di bidang akademik. Berikut ini erakini sarikan profil Anies Baswedan saat masih muda:
Anies Rasyid Baswedan lahir di Kuningan, Jawa Barat, pada 7 Mei 1969 dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid. Dia memiliki 2 orang adik, yakni Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan.
Anies dibesarkan di Yogyakarta dan mulai mengenyam pendidikan pada usia 5 tahun di Taman Kanak-kanak (TK) Masjid Syuhada. Menginjak usia 6 tahun, Anies masuk ke Sekolah Dasar (SD) Laboratori, Yogyakarta.
Di usia kecilnya, Anies dikenal sebagai seseorang yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Setelah menyelesaikan pendidikan dari SD Laboratori, Anies melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Yogyakarta.
Prestasi Anies Baswedan mulai terlihat, ketika tahun 1987 dia terpilih mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat.
Hal tersebut membuatnya harus menempuh masa SMA selama empat tahun dan baru lulus pada tahun 1989. Setelah kembali ke Yogyakarta, Anies mendapat kesempatan berperan di bidang jurnalistik.
Anies bergabung dengan program Tanah Merdeka di Televisi Republik Indonesia (TVRI) cabang Yogyakarta dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional.
Deretan pendidikan dan pengalaman tersebut membuat Anies semakin aktif berkiprah dalam kegiatan akademik dan non-akademik sejak masa mudanya. Oleh karena itu, setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Anies melanjutkan pendidikannya ke Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1989-1995, salah satu universitas terbaik di Indonesia. Di kampus ini, Anies juga menyabet banyak penghargaan.
Di UGM, Anies sempat bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam, lalu menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi HMI UGM. Sementara di fakultasnya, Anies berhasil menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidangi kelahiran kembali Senat Mahasiswa UGM setelah pembekuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada waktu itu.
Selang beberapa tahun, Anies terpilih menjadi Ketua Senat Universitas pada kongres tahun 1992 dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan di UGM. Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif memosisikan senat sebagai lembaga legislatif yang disahkan oleh kongres pada 1993.
Selama masa kepemimpinannya, dia memulai gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang menyangkut putra Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra. Anies turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada bulan November 1993 di Yogyakarta.
Ketika sedang duduk di bangku kuliah, tepatnya pada 1993, Anies mendapat beasiswa dari JAL Foundation untuk mengikuti kuliah pada musim panas di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia.
Adapun beasiswa itu, dia mendapatkannya setelah memenangkan sebuah lomba menulis dengan tema tentang lingkungan.
Pada 1995, Anies mendapat gelar sebagai Sarjana Ekonomi (Bachelor of Science equivalent) dari Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, Indonesia. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Maryland, College Park, Amerika Serikat (AS).
Meskipun sudah menikah, Anies tidak berhenti untuk menimba ilmu. Dia melanjutkan pendidikan S2. Pada 1998, dia mendapat gelar sebagai Master of Public Management, Sekolah Urusan Publik dari Universitas Maryland.
Tak lelah menimba ilmu, kemudian dia juga melanjutkan pendidikan di Northern Illinois University, AS. Tepat pada 2004, dia menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar Doctor of Philosophy, Departemen Ilmu Politik dari Universitas tersebut.
Ketika sedang menimba ilmu S3, dia berkarir sebagai Research Assistant di Kantor Penelitian, Evaluasi, dan Studi Kebijakan, Northern Illinois University pada 2000 sampai 2004.
Setelah menyelesaikan pendidikan S3, Anies tetap berkiprah dalam banyak hal. Dia sering berkarier dan mendapat posisi bergengsi yang membuat dia semakin dikenal oleh publik. Pada 2004-2005, Anies berkarier sebagai Research Manager, IPC Inc., Bannockburn, Illinois, USA.