Search

Ngabuburit Kebangsaan: Densus 88 Beberkan Kelompok Teror Manfaatkan Ruang Digital sebagai Jalur Utama Perekrutan

SEMARANG, ERAKINI – Satuan Tugas Wilayah Jawa Tengah Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri menyebut akses ruang digital tanpa kontrol rawan disusupi jaringan terorisme untuk merekrut anggota baru. Kelompok teror memanfaatkan ruang digital sebagai jalur utama perekrutan. Prosesnya berjalan bertahap melalui berbagai platform.

Sebab itu, Densus mengajak khalayak luas, terutama para orangtua meluangkan waktu untuk memantau aktivitas online anak, mengajak mereka berdialog dan memastikan setiap langkah digital mereka tetap berada di jalur aman.

“Mereka (kelompok perekrut) memprovokasi anak-anak termasuk di Jawa Tengah melalui media sosial, sekarang ada 22 anak yang terpapar,” kata Kepala Unit Idensos Satgaswil Jateng Densus 88/AT Polri Kompol Lugito Ghofar saat jadi pembicara kegiatan Ngaburit Kebangsaan: Memperkuat Nasionalisme, Memperkokoh Toleransi di hadapan 150 pelajar SMA, di Gedung FISIP, Universitas Diponegoro, Kota Semarang, Kamis (5/3/2026) sore.

Pada paparannya, dia membeberkan modus perekrutan anak dan pelajar oleh jaringan terorisme. Terinci yakni; platform terbuka. Yakni; penyebaran awal propaganda dilakukan di media sosial, gim daring dan platform terbuka lain seperti Faacebook dan Instagram. Gim daring dimanfaatkan karena menyediakan fitur komunikasi antar-pemain.

Selanjutnya adalah pendekatan personal. Jika ada anak yang dinilai sebagai target potensial, pelaku mulai menghubungi secara pribadi melakui akun media sosial. Kemudian ruang komunikasi tertutup. Yakni, setelah korban menunjukkan ketertarikan, komunikasi dipindahkan ke platform tertutup seperti WhatsApp atau Telegram.

Kemudian bentuk propaganda. Materi propaganda disebarkan dalam bentuk video pendek, animasi, meme maupun musik yang dikemas menarik untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan ideologis.

“Kami sudah menangani orang-orang dewasa yang jadi admin beberapa grup, seperti Al Kohjah, Qiyas, TCC. Kami lakukan penyelidikan kemudian penangkapan, yang cukup umur kami proses hukum,” lanjut Ghofar.

“Modus perekrutan seperti ini sangat berbahaya sekali. Jadi jangan sampai adik-adik (pelajar, anak) terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan,” sambungnya.

Sebab mayoritas anak yang terekrut itu berstatus pelajar, Densus, sebut Ghofar memberikan strategi pencegahan untuk sekolah. Yakni; deteksi dini aktivitas digital, pengawasan ruang game center sekolah, pendidikan literasi digital, bimbingan konseling aktif, program anti-bullying struktural, kerjasama orangtua-guru dan kampanye keamanan digital di kelas.

“Kerentanan ini (anak – pelajar) dieksploitasi oleh konten ekstrem atau individau tak bertanggungjawab melalui gim online dan media sosial seperti Facebook, WhatsApp, TikTok. Platform ini sering dipakai untuk menyebarkan ide ekstrem, propaganda kekerasan, ajakan ke grup tertutup dan penyebaran narasi kebencian,” jelasnya.

Densus juga membeber indikator dini yang harus diwaspadai sekolah dan orangtua. Yakni; perubahan perilaku online, perubahan dalam cara bicara, konten yang dicari seperti video kekerasan, ancaman, senjata atau simbol tertentu hingga tindakan impulsif seperti membawa benda menyeramkan, membuat tulisan atau coretan ancaman dan mengunggah pesan gelap.

Edukasi Lewat Film 

Pada kegiatan Ngabuburit Kebangsaan itu juga turut diputar film dokumenter bertajuk Road to Resilience karya Kreasi Prasasti Perdamaian. Penulis buku 300 Hari di Bumi Syam sekaligus protagonis film tersebut, Febri Ramdani, tampil langsung jadi narasumber di depan ratusan pelajar SMA yang hadir.

Salah satu peserta menanyakan bagaimana solusi konkret yang bisa dilakukan agar tidak tergelincir radikalisme di media sosial. Febri menimpali, salah satunya dengan mengkritisi informasi, mencari informasi pembanding.

“Jangan mudah percaya kepada segala hal yang tersebar di media sosial, informasi yang ada dikritisi,” kata Febri.

Perwakilan Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng sekaligus Tim Anti-Radikalisme Undip M. Adnan tak menampik narasi heroisme palsu kerap disebarkan para perekrut jaringan radikal. Sasaran utamanya, khususnya anak laki-laki yang ingin dianggap “maskulin”.

“Untuk pelajar, jadilah hero (pahlawan) di ilmu pengetahuan. Kalau ada ajakan eksklusif, intoleran, jangan ikuti,” kata Adnan berpesan.

Pendidikan Karakter

Salah satu pelajar peserta kegiatan itu, Ayla Nara Ardananta alias Ayla berargumen acara itu sangat bagus sebab membuka pikiran, menambah wawasan terkait ideologi bangsa Indonesia. Selain itu juga membeberkan bagaimana diskriminasi dan terorisme itu sangat merugikan tak terkecuali di kalangan pelajar.

“Dan di sini juga kita belajar langsung dari sumbernya, yang ternyata pernah berkaitan langsung dengan hal-hal tersebut, jadi pendekatannya di sini, infonya A1 langsung dari pusatnya,” kata Ayla yang merupakan pelajar kelas X SMAN 4 Semarang itu.

Dia menambahkan melalui kegiatan itu, salah satunya dia memperoleh wawasan tentang siapa kelompok teror ISIS dan bagaimana ISIS menyebarkan propagandanya yang berpengaruh sampai ke Indonesia.  

“Seharusnya memang kita mempelajari hal ini sedari dini, jadi karakter kita sudah tertanam dari kecil dan terbawa sampai kita dewasa,” lanjutnya.

Pelajar lainnya, Alif Aditya alias Alif mengatakan di dunia yang semakin prural, model edukasi seperti kegiatan tersebut sangat diperlukan generasi muda.  

“Maka dari itu, hal -hal seperti ini, seminar seperti ini, ditingkatkan, diperbanyak lagi untuk sosialisasi terutama kepada kalangan muda,” kata Alif yang duduk di kelas XI SMAN 4 Semarang ini.

Kolaborasi

Kegiatan yang digelar di FISIP Undip di bulan Ramadan itu merupakan kerjasama pihak kampus, pemerintah, difasilitasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah. Mereka berkolaborasi dengan Kreasi Prasasti Perdamaian hingga Densus 88/AT, termasuk dari dinas pendidikan.

Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Badan Kesbangpol Jateng M. Agung Hikmati mengatakan pihaknya merespons cepat ketika pihak Densus memberikan informasi adanya anak-anak yang terpapar kekerasan hingga terorisme via ruang digital.

“Dari awalnya 11 anak yang terpapar, di Januari 2026 sudah ada 22 yang terpapar, jadi kami berkolaborasi untuk melakukan pencegahan dengan interaksi aktif dengan anak-anak, terutama pelajar. Kegiatan seperti ini kami upayakan akan digelar juga di tempat-tempat lain,” kata Agung saat pembukaan acara.