Hasnawati, guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Desa Nggele, Kecamatan Taliabu Barat Barat Laut, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara, di sela-sela mengikuti pelatihah. Foto: Erakini/Thomas Pulungan
TERNATE, (ERAKINI) - Hasnawati, guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Desa Nggele, Kecamatan Taliabu Barat Barat Laut, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara, rela menempuh perjalanan laut selama 2 hari demi bisa menambah pengetahuan pembelajaran.
Hasnawati adalah salah satu dari 120 peserta Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah di Daerah 3TMaluku Utara Angkatan ke-6, yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) melalui Madrasah Reform atau Realizing Education's Promise-Madrasah Education Quality Reform (REP-MEQR) di Kota Ternate pada 13-17 Agustus 2024.
Hasnawati merupakan guru MAN yang satu-satunya sekolah negeri di kampungnya. Pulau Taliabu adalah Pulau Terluar di Provinsi Maluku yang berjarak 495 km dari Kota Ternate. Jadi, Hasnawati merupakah salah satu peserta paling jauh yang datang ke pelatihan ini.
Hasnawati, seorang guru muda yang baru tiga tahun mengajar di MAN, mengaku tidak masalah menempuh perjalanan laut dua hari demi mengikuti pelatihan ini. Ia berangkat dari kampungnya menaiki kapal laut terlebih dulu menuju Pala, Kepulauan Sula, yang membutuhkan waktu satu malam.
Dari Pala ia transit untuk menuju Sanana yang masih satu wilayah dengan Kepulauan Sula. Ia berangkat pada pagi hari dan tiba di Sanana sore hari. Perjalanan menuju Ternate belum selesai. Ia masih membutuhkan waktu satu malam lagi untuk tiba di Kota Ternate.
Hasnawati rela menempuh perjalanan laut berhari-hari itu karena sangat tertarik dan bersemangat begitu mendapat undangan untuk ikut pelatihan guru-guru madrasah ini.
"Saya melihat judulnya pelatihan untuk guru 3T, wah menarik ini, berarti dari pemerintah pusat ada perhatian untuk daerah 3T. Jadi saya pikir mungkin (dengan) mengikuti pelatihan ini bisa menambah wawasan lagi buat kami para guru-guru madrasah," katanya ditemui di sela-sela pelatihan, Jumat (16/8/2024).
Hasnawati baru kali ini mengikuti pelatihan guru madrasah. Ia pun sangat bersyukur karena pelatihan ini sangat membantu bagi guru-guru di daerah 3T untuk mendapatkan ilmu baru. "Sangat membantu kami guru-guru. Alhamdulillah, semua berjalan lancar, kami mendapatkan hal-hal baru yang diberikan oleh fasilitator (pemateri)," ucapnya.
Dalam pelatihan ini Hasnawati mengikuti Kelas MA Bahasa Inggris. Ia sangat senang mengikuti pelatihan karena metode yang diajarkan para fasilitator sangat asyik dan mudah dicerna.
"Materi yang kami dapatkan seperti belajar tentang model-model pembelajaran, metodologi pembelajaran, strategi pembelajaran, terus bagaimana mengefisienkan kelas anak-anak, pembelajaran berdiferensiasi, dan pengenalan kurikulum merdeka. Kita juga dilatih dengan metode game. Pokoknya asyik, all about the class," ucapnya.
Ia merasa metode-metode yang diajarkan para fasilitator sangat mudah untuk diaplikasikan kepada anak-anak didik di sekolahnya yang berjumlah 100 orang lebih dengan 6 kelas.
"Insya Allah materi yang disampaikan oleh fasilitator bisa diaplikasikan ke para murid, karena memang seru materinya, semuanya tentang pengelolaan kelas," katanya.
Hal senada dikatakan guru madrasah dari Pulau Taliabu lainnya, Nurkila Abijah. Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) dalam pelatihan ini mengikuti Kelas MI Literasi.
Nurkila yang juga menempuh perjalanan serupa dengan Hasnawati mengaku rasa lelah terbayar dengan mengikuti pelatihan ini. Selama mengikuti Kelas MI Literasi, kata dia, para guru mendapatkan pembelajaran tentang berdiferensiasi, metode-metode pembelajaran, hingga kurikulum. Semua itu disampaikan dengan suasana asik oleh Instruktur Pelatihan.
"Pelatihannya sangat menarik. Sebelumnya banyak yang tidak diketahui, sampai di sini banyak dikenalkan dengan model-model, metode, dan pendekatan, seru," katanya.
Kegiatan ini merupakan salah satu komponen dari program Madrasah Education Quality Reform, yakni Program Komponen 3 (perluasan akses). Asisten Program Komponen 3 Project Management Unit (PMU) REP-MEQR Adib Zaenal Fanani, mengatakan, pelatihan Guru dan Kepala Madrasah di Daerah 3T Provinsi Maluku Utara ini merupakan angkatan ke-6. Sebelumnya pelatihan serupa sudah dilaksanakan di Batam, Palembang, Pontianak, Kupang, dan Aceh.
Pelatihan angkatan ke-6 ini diikuti sebanyak 120 peserta yang difokuskan pada 3 kepulauan, yaitu Kepulauan Sula, Pulau Morotai, dan Pulau Taliabu. Dalam kegiatan ini terdapat 4 kelompok/kelas pelatihan, yakni MI Literasi, MTs Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), MA Bahasa Inggris, dan Kelas Kepala Madrasah.
Dalam setiap kelas peserta mendapatkan materi atau modul bagaimana melakukan inovasi pembelajaran, pembelajaran yang efektif dan bermakna, serta pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen. Melalui pelatihan ini guru-guru MI di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) diharapkan melek atau memahami model-model pembelajaran yang inovatif, efektif, dan berdiferensiasi sesuai dengan Kurikulum Merdeka Madrasah.
PMU REP-MQR menghadirkan 12 Fasilitator atau Instruktur selama kegiatan ini. Mereka adalah Nuril Nuzulia dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (Kelas MI Literasi), Sugiati dari MIS Al Falah Tambolaka (Kelas MI Literasi), Fitria Martanti dari Universitas Wahid Hasyim Semarang (Kelas MI Literasi), Nani Rohmani dari Balai Diklat Keagamaan Bandung (Kelas MTs IPA), Djud Saleh dari MTSS AKETALAGA (Kelas MTs IPA), dan Arnie Rieska Amanda dari MTs N 4 Bandung Barat (Kelas MTs IPA).
Kemudian, Junainah Helmi dari MAN 1 Boyolali (Kelas MA Bahasa Inggris), Aminah dari Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah (Kelas MA Bahasa Inggris), Dhiah Fitrayati dari Universitas Negeri Surabaya (Kelas MA Bahasa Inggris), Masnur dari MI Nur Ikhlas Kabupaten Siak (Kelas Kepala Madrasah), Yusri Siraju dari Kementerian Agama Kabupaten Halmahera Utara (Kelas Kepala Madrasah), dan Anisa Yunita Sari dari Universitas Narotama Surabaya (Kelas Kepala Madrasah).