Puisi-Puisi Ariyo Rizky Valentino
Ariyo Rizky Valentino
Lima detik lagi kereta akan berangkat
Aku ingin memelukmu dengan erat
dengan mantap, tanpa ingin meratap
Tapi kereta ini sangat-sangat keparat
Maka dari itu, mari kita berpisah tanpa menatap
2024
Tiada perantau yang tidak merindukan rumah
meskipun bangunan yang katanya kokoh itu tak kunjung ia temukan
meskipun telah mengembara menyibak aspal dan debu jalanan
meskipun telah diburu, rumah selalu bersembunyi di ketiak sang misteri
Rumah sangat betah di sana, seperti diberi makan dan minum saja. Muncullah, nona.
Tiada perantau yang tidak merindukan rumah
Ia akan selalu dipukuli oleh sepi yang sunyi
Tubuhnya biru lebam dan matanya selalu terpejam
Rumah terlalu kejam
bagi seorang perantau malang
2024
Sepulang dari sawah, petani itu tergesa-gesa pergi ke dapur
Memanggang air, meracik cinta dari sebuah bubuk kopi legenda
Hari ini ia ada janji dengan senja
Tapi gula telah habis, lalu ia meminjam senyum istrinya
Senja hampir sampai, Ia bergegas pergi ke kamar mandi Mengguyur letih yang tersimpan di dalam pinggang dan dadanya Menggosok rindu yang sudah di depan mata

















