Novel ‘Tanah Para Bandit’: Kegagalan Misi Feminisme
Akhmad Idris
Judul : Tanah Para Bandit
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Sabak Grip Nusantara
Tahun : Februari 2023
ISBN : 9786238829675
Halaman : 436 halaman
Pada pertengahan bulan Februari ini, Tere Liye merilis serial aksinya yang ketujuh dengan judul ‘Tanah Para Bandit’. Secara garis besar, novel ini bercerita tentang perjuangan tokoh Padma dalam membasmi kebusukan para bandit yang tampak jelas ‘terilhami’ oleh kasus-kasus kriminal di negeri ini bukti bahwa karya sastra sangat dekat dengan realita sebagai wujud olah mimesis.
Melalui sepak terjang tokoh Padma, Tere Liye agaknya ingin membawa misi feminisme di dalam karya mutakhirnya. Sayangnya misi tersebut dapat dianggap gagal karena keberadaan alur cerita yang tidak sejalan dengan konsep feminisme itu sendiri.
Perempuan Itu Istimewa
Sejak awal Padma dideskripsikan dengan gagah, bukan sebagai perempuan lemah yang butuh dilindungi agar bisa berdiri sendiri. Hal ini dapat ditemui dalam kutipan berikut ini,“Pertama kali aku menemukannya, kakiku, tanganku, juga bagian tubuh lain tidak terhitung meninggalkan baret dari duri, onak, atau ujung daun yang tajam, pun bisa membuat luka.” (halaman 5)
Padma juga dianggap sebagai anak yang istimewa karena menjadi satu-satunya anak perempuan dalam garis keturunannya sebagaimana dalam kutipan berikut ini, “Kau bukan anak biasa, Padma. Kau spesial sekali.” (halaman 23)
Deskripsi-deskripsi ini sudah jelas merepresentasikan tentang kesetaraan, menolak akar-akar patriarki yang selalu menempatkan laki-laki dalam posisi superior. Akar-akar ini dapat dijumpai lewat pola pikir masyarakat Arab zaman jahiliyah yang sedikit banyak juga memengaruhi pola pikir masyarakat kita yang menganggap bayi perempuan adalah kehinaan, sementara bayi laki-laki merupakan kebanggan.


















