Esai ‘100 Tahun AA Navis (1924-2024): Pengarang Tersandung Bahasa’
Bandung Mawardi
ORANG-orang telanjur menganggap dan mengakui AA Navis (17 November 1924-22 Maret 2003) itu pengarang kondang. Ia memang mewariskan cerita-cerita apik dan berpengaruh di Indonesia. Kita kadang kecewa cerita-cerita itu diajarkan di sekolah dan universitas tapi tak menambah gairah bersastra atau merangsang untuk mengenali pengarang, Minangkabau, majalah, Islam, bahasa, dan Indonesia.
“Bahasa Indonesia saya tidak lancar,” pengakuan AA Navis (1978). Ia tak berbohong. Diri sebagai pencerita mengalami kesulitan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Cerita-cerita digubah justru diakui sebagai persembahan terbaik dalam sastra Indonesia. Kita diajak membedakan dulu kemahiran bercerita dan kerepotan berbahasa Indonesia.
Navis melanjutkan: “Jadinya saya selalu tersandung dalam menggunakan bahasa.” Di keseharian, ia berbahasa Minangkabau. Situasi pendidikan dan pekerjaan memungkinkan ia mengerti bahasa Indonesia tapi tak sefasih jika berbahasa Minangkabau. Dua bahasa bermasalah saat menulis cerita. Kita sebagai pembaca cuma mengetahui cerita-cerita Navis sudah diterbitkan sejak masa 1950-an itu berbahasa Indonesia.
Ia memiliki siasat: berpikir dengan struktur bahasa Minangkabau dan ditulis dalam bahasa Indonesia. Para pembaca mula-mula mungkin tak sadar jika membaca cerita gubahan Navis ada “sandungan” bahasa Indonesia. Ia bertumbuh dan mengenali suasana sastra saat bahasa Indonesia dalam perkembangan berpusat di kota-kota. Bahasa Indonesia menanggungkan beban-beban revolusi dan “dipaksakan” menjadi modern meski masih berusia muda.
Pengarang tersandung bahasa Indonesia itu diharuskan sabar. Ia biasa melakukan pembacaan dan pemberesan cerita bisa berulang empat kali. Sabar ditebus dengan hasil cerita-cerita memikat: memicu perhatian para pembaca dan kritikus sastra Indonesia. Navis lekas menjadi “pujaan”.


















