Ilustrasi - Hari Puisi Nasional diperingati setiap 28 April. Mengenal sejarah Hari Puisi Nasional dan menelusuri jejak sang legenda Chairil Anwar. (Foto: Wikipedia)
JAKARTA (ERAKINI) – Setiap tahunnya, masyarakat Indonesia memperingati Hari Puisi Nasional pada tanggal 28 April. Tanggal ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengenang sosok monumental dalam dunia sastra Indonesia yaitu Chairil Anwar, penyair yang telah memberikan warna baru bagi perkembangan puisi di Tanah Air.
Melansir Ensiklopedia Sastra Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hari Puisi Nasional resmi diperingati setiap 28 April yang bertepatan dengan tanggal wafat Chairil Anwar pada tahun 1949. Penetapan ini dipelopori oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari Kemendikbud yang bekerja sama dengan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia.
Tujuannya bukan hanya sekadar mengenang kepergian sang penyair, tetapi juga untuk merayakan kontribusinya yang besar terhadap dunia sastra Indonesia. Dalam perjalanan kariernya, Chairil telah menulis sekitar 90 karya, termasuk 70 puisi yang membawa pembaruan gaya dan tema dalam puisi Indonesia modern. Karena dedikasinya, ia pun dikenal sebagai tokoh sentral dalam Angkatan 45—kelompok penulis yang membawa semangat baru dalam sastra setelah kemerdekaan.
Namun demikian, terdapat dua versi peringatan tanggal Hari Puisi Nasional. Meskipun 28 April telah lama dikenal sebagai Hari Puisi Nasional, terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal yang tepat untuk memperingatinya. Beberapa kalangan menyuarakan bahwa 26 Juli, yang merupakan hari kelahiran Chairil Anwar pada 1922, lebih tepat dijadikan momentum nasional.
Usulan tersebut pertama kali dimunculkan oleh Presiden Sastrawan Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, bersama 40 sastrawan lainnya dalam deklarasi yang berlangsung di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau, pada 22 November 2012. Meski berbeda versi, keduanya tetap bertujuan menghormati jasa tokoh yang sama.
Lahir di Medan pada 22 Juli 1922, Chairil Anwar dikenal sebagai penyair yang hidup dan bernapas lewat sajak-sajaknya. Dunia kepenulisan bukan sekadar profesi baginya, melainkan jalan hidup. Ia menggantungkan hidup dari menulis puisi dan prosa, dan sempat bekerja sebagai redaktur di majalah seperti Gema Suasana dan Siasat.
Karya pertamanya yang terkenal, ‘Nisan’, ditulis pada 1942. Dalam kurun waktu yang singkat, ia menghasilkan lebih dari 70 puisi orisinal, beberapa sajak saduran dan terjemahan, serta sejumlah prosa. Keberaniannya menulis dengan gaya bebas dan ekspresif telah membawa angin segar dalam tradisi puisi kala itu.
Namun, perjalanan kreatif Chairil tak selalu mulus. Beberapa pihak menuduhnya menjiplak karya dari penyair luar negeri, serta menyebarkan pemikiran individualisme dan humanisme yang dianggap bertentangan dengan ideologi komunis yang populer kala itu. Meski demikian, semangat Chairil dalam menulis tak pernah surut. Puisinya tetap hidup dan terus dikaji hingga kini.
Sajak-sajak Chairil Anwar terus menggema hingga hari ini, bahkan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Inggris, Prancis, dan Belanda. Di antara karya terkenalnya yang bertema perjuangan adalah "Aku", "Karawang-Bekasi", dan "Diponegoro". Sementara itu, nuansa cinta dan spiritualitas hadir dalam puisi seperti "Doa", "Senja di Pelabuhan Kecil", dan "Selamat Tinggal".
Karya-karya tersebut menjadikan Chairil Anwar sebagai ikon tak tergantikan dalam dunia kepenyairan Indonesia, yang kontribusinya dirayakan setiap tahun lewat Hari Puisi Nasional.