Ilustrasi untuk cerpen berjudul 'Klinik Gigi Mantri Nasir' karya Tin Miswary. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini).
CERITA ini berawal ketika Mantri Nasir membuka klinik gigi di Bukit Seurani, sebuah kampung urban yang hanya berjarak 500 meter dari terminal kota. Hampir semua penduduk kampung itu memiliki masalah dengan gigi. Itulah sebab kenapa Mantri Nasir nekat mengambil pinjaman di koperasi, menyewa tempat dan membeli alat-alat praktik gigi.
Dia melihat ada peluang besar di sana, peluang mendapatkan uang agar bisa membiayai anaknya kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi, dan sisanya untuk naik haji. Namun, oleh sebab-sebab yang akan kita lihat nanti, Klinik Gigi Mantri Nasir akhirnya disegel polisi.
Perkenalanku dengan Mantri Nasir sudah cukup lama. Aku ingat saat itu para pejuang baru saja melucuti senjata Jepang di pelabuhan udara Geulanggang Labu, 45 km dari Kota Bireuen. Aku mengetahui kejadian itu dari pembicaraan Yusuf Tank dan teman-temannya yang baru pulang dari sana. Mereka singgah di sebuah kedai samping Bioscoop Bireuen. Suara mereka yang keras, diiringi gelak tawa, membuat aku dan Nasir yang sedang memungut potongan karcis bekas di sana, bisa mendengar kisah heroik itu dengan jelas.
Saat itu, usiaku dan Nasir sekitar 13 tahun, dan kami sama-sama menjadi siswa sekolah rakyat di Bukit Meurak. Kami harus berjalan kaki selama satu jam untuk bisa sampai ke sana. Kadang-kadang kami juga menumpang gerobak milik Wak Saleh yang hendak ke pasar.
Kedekatanku dengan Nasir bukan saja karena kami sama-sama sekolah di tempat yang sama, atau karena kami sering memungut karcis bekas di depan Bioscoop, tapi dia adalah keponakan ayahku, dan aku keponakan ayahnya. Menurut cerita Ibu, kelahiran kami juga hampir bersamaan, aku lahir di waktu Subuh dan Nasir menjelang Magrib.
Sejak kecil Nasir sudah terlihat cerdas. Dia menguasai ilmu hayat dan pelajaran berhitung dengan cukup baik. Saat itu, aku beberapa kali dimarahi Ibu karena tidak mampu menandingi nilai yang diperoleh Nasir. Antara Ibuku dan ibunya Nasir memang ada sejenis persaingan, meskipun kami sebenarnya kerabat. Tapi, walau bagaimana pun aku tak pernah bisa melampaui Nasir yang selalu juara.
Usai lulus SR, saat itu sudah berubah menjadi SD, Nasir melanjutkan ke SMP, sementara aku, atas permintaan ayah, terpaksa membantunya menjual rokok di terminal Bireuen. Sebenarnya aku ingin melanjutkan sekolah seperti Nasir, tapi kata ayah, aku tidak punya bakat selain berjualan atau menjadi buruh angkut di terminal. Tentu saja aku tak bisa membantah. Lagi pula ayahku dulunya juga tidak sekolah. Berbeda dengan ayah Nasir yang menjadi anak kesayangan kakek. Dia disekolahkan sampai lulus Mulo, sementara ayahku sedari kecil buta huruf dan memilih menjadi kuli terminal.
“Satu keluarga cukup satu orang saja yang sekolah,” kata ayah, mengutip kata-kata kakek. Tentu aku mengerti maksud ayah. Dia sudah memilih adikku, satu-satunya anak dari keluarga kami yang melanjutkan sekolah sampai sarjana muda. “Nanti, kalau adikmu sudah jadi pegawai, dia bisa bantu kita,” kata ayah lagi, “sama seperti pamanmu, ayahnya si Nasir, yang sekarang sering membantu ayah kalau lagi butuh uang.
Demi menuruti kehendak ayah, aku pun bertahan di terminal, menjual rokok dan sesekali menjadi buruh angkut. Saat itu aku masih sering berjumpa Nasir. Waktu pulang sekolah atau di hari-hari libur dia selalu datang ke terminal untuk duduk dan berbincang denganku. Namun, sejak dia lulus SMA dan memutuskan merantau ke Medan, kami tidak lagi bertemu.
Nasir tidak pulang selama bertahun-tahun. Bahkan ketika ayah ibunya meninggal dalam kecelakaan kereta api, laki-laki bertubuh gempal dengan kulit sedikit gelap itu juga tak muncul. Dia seperti hilang ditelan bumi. Saat itu ada rumor kalau Nasir diculik orang-orang PKI. Namun, beberapa orang yang baru pulang dari Medan mengaku tidak pernah melihat Nasir di sana. “Mungkin dia ke Jawa, bukan ke Medan,” kata orang-orang itu.
Begitulah. Sosok Nasir terus menjadi misteri selama bertahun-tahun, dan akhirnya orang-orang Bukit Seurani pun mulai melupakan laki-laki itu. Namun, tanpa diduga-duga pada penghujung April 1984, saat usiaku menginjak 52 tahun, Nasir tiba-tiba muncul di terminal. Dia mendatangiku yang masih menjual rokok di sana. Kami berpelukan lama sekali, membuat orang-orang di sana terheran-heran dan menatap kami dengan bola mata penuh tanya.
“Kemana saja, kau?” tanyaku, seraya menghapus air mata kerinduan yang tiba-tiba saja tumpah membasahi pipi. Aku lihat Nasir juga menangis dan lalu kami pun menuju sebuah kedai kopi. Sambil berjalan aku katakan kalau ayah ibunya sudah lama meninggal. Dia hanya mengangguk, tak menjawab apa-apa. Namun, raut kepedihan terpancar jelas di matanya.
Tiba di kedai, Nasir mulai bercerita tentang pengalamannya di penjara, membuat aku terkejut bukan kepalang.
“Aku tak pernah berniat membunuhnya,” kata Nasir, “tapi sakit gigiku yang teramat sangat membuat aku tak sanggup menahan diri. Dia membuat aku marah pada saat yang tidak tepat. Dan … begitulah. Aku hantam wajahnya pakai batu.”
“Memang apa yang dia lakukan?” tanyaku.
“Sebenarnya persoalannya sepela saja. Dia maksa minta uang. Aku bilang gak ada uang dan gigiku lagi sakit. Tapi dia ngotot dan menampar mukaku, tepat di gigi yang sakit.”
“Lalu?”
“Ya, seperti kubilang tadi. Sakit gigi adalah persoalan serius. Jadi, ya, aku balas. Aku hantam wajahnya pakai batu dan kebetulan dia mati.”
Aku mengangguk dan sedikit bergidik mendengar cerita Nasir. Lalu ia pun mengisahkan bagaimana kemudian ia ditangkap polisi, padahal istrinya baru hamil dua bulan. Dia divonis 20 tahun penjara. Dia menangis saat mengatakan itu, sebab dia baru saja akan mengajak istrinya pulang untuk menjenguk ayah ibunya, tapi laki-laki sialan yang memaksa meminta uang itu mengacaukan semua rencana.
“Andai gigiku tidak sakit hari itu, mungkin tidak serunyam ini,” katanya lagi. “Maka dari itu, begitu bebas, aku minta izin istri dan anakku untuk pulang ke sini. Aku mau buka klinik gigi di Buket Seurani. Kau kan tahu sendiri, dari dulu orang kampung kita, termasuk kau, sering bermasalah dengan gigi?”
Aku tersenyum mendengar ledekan Nasir. Benar memang, di kampung kami, hampir semua penduduk punya masalah dengan gigi, termasuk aku. Pernah beberapa kali, ketika gigiku lagi sakit, aku tiba-tiba marah pada ayam yang berkokok dan hampir saja ayam itu kusembelih. Bahkan kucing yang mengeong pun terdengar menjengkelkan. Masalah gigi memang serius dan tidak main-main. Tapi, kalau sampai membunuh orang gara-gara sakit gigi, baru kali itu kudengar dari Nasir.
“Aku serius soal ini,” kata Nasir lagi, “aku juga berniat menyekolahkan anakku di Fakultas Kedokteran Gigi agar tragedi-tragedi yang disebabkan oleh sakit gigi tak lagi terjadi. Jadi, aku pikir, dengan membuka klinik gigi, selain bisa membantu orang-orang di Bukit Seurani, aku juga bisa mendapatkan sedikit modal untuk membiayai anakku, dan jika ada lebih aku akan naik haji.”
Mendengar pengakuan Nasir, aku benar-benar tertegun. Serius betul dia. Namun, mengingat dari dulu dia memang anak yang pintar, aku pikir tak ada alasan untuk meremehkan cita-citanya. Meskipun usianya sudah tak semuda dulu, tapi aku yakin dia mampu mewujudkan mimpinya, mimpi yang membuat ia tiba-tiba pulang ke kampung ini. Lagi pula, klinik gigi Nasir akan menjadi yang pertama, bukan saja di Buket Seurani, tapi juga di kota Bireuen.
Maka beberapa hari setelah pertemuan itu, Nasir mulai mempersiapkan segalanya. Namun, segera setelah bersiap-siap, ia menemukan satu kendala besar yang tak pernah terpikir sebelumnya. Sebagai mantan narapidana, ia sama sekali tidak memiliki modal. Nasir menyampaikan keluhan itu padaku dan lalu aku menyarankan untuk meminjam dana koperasi. Sebagai jaminan ia menyerahkan sertifikat tanah warisan orangtuanya yang sebelumnya dipegang ayahku, sebagai satu-satunya ahli waris setelah Nasir hilang berpuluh tahun.
Mulai saat itu Nasir pun memiliki lakab baru: mantri, tepatnya Mantri Nasir. Di hari pertama klinik itu beroperasi, ada tujuh pasien yang berobat, semuanya dari Buket Seurani, termasuk aku sendiri yang memang mengidap sakit gigi menahun. Beberapa pasien yang giginya sembuh setelah dirawat Mantri Nasir akhirnya menyebarkan kebahagiaan itu pada orang-orang.
Alhasil, hampir setiap hari Klinik Gigi Mantri Nasir dipenuhi orang-orang sakit gigi dengan berbagai corak, mulai dari gigi berlubang, gigi dimakan ulat, gigi berkarang, gigi kuning, gigi bercabang, gigi patah sampai gusi bengkak. Mereka datang dari berbagai penjuru kota dan lalu mengantre di klinik. Melihat ramainya pasien saat itu, aku pun memutuskan memindahkan dagangan rokokku ke sana dan syukur laris manis.
Demikian bertahun-tahun sampai kemudian, pada 1989, ketika koran-koran sibuk memberitakan peristiwa di Talangsari, di Klinik Mantri Nasir juga terjadi satu peristiwa mengejutkan yang mengubah nasib Nasir untuk selamanya. Aku ingat, saat itu usiaku dan Nasir memasuki 57 tahun, sudah lumayan tua dan lemah.
Siang itu matahari seperti sedang mengamuk, panasnya bukan saja membakar atap-atap rumah, tiang listrik dan jalanan berdebu di depan klinik, tapi juga menyulut amarah beberapa manusia yang giginya sedang nyut-nyut dan ngek-ngok. Saat itulah aku melihat lima orang laki sedang berdebat di klinik, seraya memegang pipi masing-masing. Mereka saling tunjuk dan saling maki. Tidak jelas masalah apa yang mereka perdebatkan, tapi dari suara-suara yang aku dengar di depan klinik, mereka seperti saling kenal.
Saat itulah, ketika perdebatan sedang memuncak dan matahari semakin mengganas, Mantri Nasir tiba-tiba saja keluar dan mencoba melerai keributan. Namun, entah siapa yang memulai, lima pasien asing itu memukuli Nasir tanpa ampun, membuat seluruh giginya rontok bagai bulir jagung, sementara aku yang melihat langsung kejadian itu terdiam bagai patung.