Cerpen ‘Rahasia di Kepala Kecoak’
Haniah Nurlaili
AWALNYA, aku dan kawan-kawanku bermukim di sebuah gudang apak yang berisi barang-barang rumah tangga. Kami kerap berlarian di antara sapu, panci, tempat sampah, gayung dan barang lainnya. Barang-barang yang masih terbungkus plastik itu tak begitu terurus. Kami menduga barang-barang itu tak segera laku, jadi menumpuk di gudang ini tanpa segera ditindaklanjuti oleh sang pemilik. Setiap hari kami bebas berkeliaran, beranak pinak dan melakukan apa saja. Gudang sesak bau apak dengan satu kamar mandi kumuh ini adalah tempat sempurna bagi kami.
Sekitar dua minggu kemudian, pada siang yang teramat panas, tetiba saja mata kami disilaukan oleh sebuah cahaya dari pintu gudang yang sudah berbulan-bulan tidak dibuka. Terlihat sang pemilik datang dengan mobil pick up bersama seorang pegawainya. Si pemilik menunjuk barang-barang plastik itu untuk diangkut ke dalam mobil. Aku dan kawan-kawanku sebenarnya sudah sering menghadapi situasi seperti ini, tapi kenyamanan selama berbulan-bulan ini membuat kami tak siap melarikan diri.
Aku meneriaki anak-anak dan istriku, menyuruh mereka untuk segera kabur sebelum sapu si pemilik gudang mendarat di kepala kami. Tapi ternyata aku lupa mengajarkan pada mereka bagaimana cara mempertahankan diri akibat kenyamanan yang kami rasakan selama berbulan-bulan ini. Sepertinya istriku berhasil kabur, tapi tidak dengan anak-anak kami. Sapu si pemilik gudang telah menghantam tubuh mungil mereka secara bertubi-tubi.
***
Saat itu aku bersembunyi di sebalik ember plastik. Walaupun aku sangat sedih karena berpisah dengan anak, istri dan kawan-kawanku, tapi aku harus berpikir keras untuk terus melanjutkan hidup. Aku ikut ke dalam bak mobil itu dan berkeliling perumahan. Rupanya, sang pemilik gudang menjajakan barang-barang plastik itu dengan harga yang sangat murah.
Kulihat ibu-ibu berkerumun. Aku tetap menjaga diriku, jangan sampai mereka melihatku. Tahu sendiri kalau aku adalah hewan paling menjijikkan bagi kaum perempuan. Aku masih sembunyi di sebalik ember plastik. Aku hanya mempertahankan posisiku agar tidak terbalik. Karena sekali tubuhku terbalik, matilah aku.
“Saya ambil ini ya, Bang!” seorang ibu muda menyodorkan sejumlah uang pada pemilik gudang. Aku gelagapan karena tiba-tiba ember plastik itu melayang. Rupanya, ibu muda itu mengangkut ember plastik hitam beserta diriku ke rumahnya.
Sesampainya di rumah ibu muda itu, aku segera berlari kencang ke kamar mandi. Namun, aku tidak begitu menyukai tempat yang seharusnya menjadi habitatku ini karena menurutku tempat ini sangat bersih. Selain bersih, kamar mandi ini juga berlimpah cahaya, wangi, dan tidak lembab sama sekali. Kalau aku berlama-lama di sini, bisa-bisa aku akan mudah tertangkap lantas mati.

















