Cerpen ’Guru Bakar bin Usman Tersenyum’
Ilham Wahyudi
DI KAMPUNG itu hiduplah seorang pria saleh yang kesalehannya telah menyebar ke antero negeri. Para orang tua yang memiliki anak perempuan berlomba-lomba ingin menikahkan anak mereka kepada pria saleh tersebut. Dan pria saleh itu bernama Abdul Jamil.
Sejak usia 5 tahun Abdul Jamil telah menjadi yatim piatu. Ia pun kemudian dibesarkan oleh seorang guru yang juga merupakan ulama di kampung tersebut. Semua persoalan masyarakat, pun soal agama, selalu pendapat serta nasehat guru tersebut yang dijadikan rujukan. Guru sekaligus ulama itu sering dipanggil dengan Guru Bakar bin Usman.
Guru Bakar bin Usman sememang suka membantu dan menolong orang. Tak pernah sekalipun dia membeda-bedakan siapa saja yang datang kepadanya. Bahkan tatkala seorang pemabuk, penjudi, dan juga pezina datang dan kemudian mengajaknya berdiskusi, Guru Bakar bin Usman menerimanya dengan suka-cita serta hati yang lapang-gembira. Dan seorang pemabuk, penjudi, dan pezina itu bernama Mahli Rumi.
"Guru, apakah orang sepertiku masih pantas diberi maaf oleh Tuhan?" tanya Mahli Rumi kepada Guru Bakar bin Usman.
Sambil tersenyum, Guru Bakar bin Usman menjawab, "Tentu saja! Tuhanmu maha pengasih dan maha pengampun. Tiada yang sulit bagiNya mengampuni dan memaafkanmu, Anakku."
Maka, sejak itu Mahli Rumi pun tinggal di rumah Guru Bakar bin Usman. Kini Guru Bakar bin Usman memiliki dua murid yang tinggal bersamanya: Abdul Jamil dan Mahli Rumi. Murid pertamanya, Abdul Jamil, tampak bersuka gembira ketika mengetahui Guru Bakar bin Usman mengangkat Mahli Rumi sebagai murid. Ia pun bersedia berbagi tempat tidur kepada saudara segurunya itu.
”Tidurlah di kamarku, Mahli. Pakailah semua yang aku miliki. Kini milikku adalah milikmu pula,” kata Abdul Jamil saat mengantarkan Mahli Rumi ke kamarnya.
Mahli Rumi tersenyum. Sungguh tak menyangka kalau sambutan Abdul Jamil kepadanya betapa menawan dan mewahnya. Bagaimana pun dalam hatinya, Mahli Rumi masih merasa sebagai seorang pendosa, yang sekiranya diperlakukan tidak baik pun, dia sudah siap dan menganggap itu sebagai bagian dari pembersihan dosa-dosanya.
Waktu berjalan serupa kereta kuda yang berjalan menuju tujuannya. Hingga suatu hari datanglah seorang lelaki paruh baya ke rumah Guru Bakar bin Usman. Lelaki itu datang dengan menggendong sebongkah tujuan—ingin menjodohkan anak perempuannya kepada Abdul Jamil. Sebab, menurut cerita yang ia dengar, Abdul Jamil masih belum juga menerima satu lamaran pun dari orang-orang yang datang melamar.


















