Resensi ‘Ketika Kata Menjadi Hantu’
Alexander Robert Nainggolan
Judul Buku : Hantu Padang (Himpunan Puisi)
Penulis : Esha Tegar Putra
Penerbit : JBS, Yogyakarta
Tahun : Januari 2024
Tebal : 74 halaman
Di atas meja kerjaku, masih seperti dulu, kubiarkan sajak
merantau-mengembara-melanglang buana jauh
menempuh jalan nasib
jalan tanpa karib (Puisi “38”, hal. 68)
APAKAH puisi dapat mengembara begitu jauh? Menghapus setiap lipatan jarak, tanpa ada batas? Melompat jauh ke depan, meninggalkan kampung halaman, melewati batas penjagaan Bahasa dan negara, juga tanpa perlu ada passpor untuk memasuki wilayah baru yang tak pernah dikenali sebelumnya?
Dan saya terkenang pada H.B. Jassin yang pernah menyebut jika karya sastra memang bersifat universal, ia menjelajah jauh bukan merupa katak dalam tempurung. Puisi barangkali lebih bersifat kekal karena ia melengkapkan bahasa yang paling asli, bahasa dari manusia itu sendiri. Ia mutlak mengambil cakupan sebagai bagian dari humanisme universal.
Demikianlah lewat sekumpulan kata, puisi tertulis. Bisa dengan latar belakang apa saja. Sehimpunan kata yang bergaung, barangkali dapat dengan “terang” ditangkap maknanya, sesekali tersirat. Setidaknya, setiap gaung kata bersahutan saat membacanya, bersama aura bunyi yang berkelindan di sana. Membaca puisi, mungkin adalah menikmati kenangan.
Sebuah ingatan yang melingkar, dengan selusup kata-kata yang dipenuhi getar, sekaligus debar. Terkadang ingatan itu mengapung, sesekali tenggelam. Kenangan itupun merupa pelampung. Yang bertahan di ingatan, bertahun-tahun. Selebihnya memang, sebagaimana yang pernah diungkap Heidegger, jika puisi merupakan pengungkapan kebenaran. Maka, tak heran pula jika puisi begitu dekat dengan realitas, meskipun pada mulanya bersandar pada imajinasi seorang penyair.
Maka, membaca buku puisi yang ditulis adalah upaya untuk memahami bagaimana ia terjerat dalam sejumlah ingatan dari kota satu ke kota yang lain. Namun justru dengan proses keratifnya, berusaha untuk menjala lebih banyak paradoks yang menghimpun citraan baru. Katakanlah untuk lebih mengkhidmati wilayah baru yang dimasukinya, kota baru yang coba ia pahami lagi. Dengan melakukan adaptasi dengan segala hal-ihwal di dalamnya,mendekap kebisingan, ketergesaan dan sejumlah jadwal sibuk yang hinggap di sana.


















