Mengenal Jejak Panjang Sastrawan Indonesia dari Masa ke Masa
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Sastra merupakan salah satu warisan intelektual paling berharga di Indonesia. Ribuan karya telah lahir dan berkembang seiring perjalanan sejarah bangsa, mencerminkan kondisi sosial, budaya, dan politik di zamannya. Dalam lintasan waktu tersebut, muncul tokoh-tokoh sastrawan besar yang meninggalkan jejak abadi dalam khazanah literasi Nusantara.
Walau belum terdapat klasifikasi resmi yang baku, para pakar sastra umumnya menyepakati bahwa sejarah sastra Indonesia dimulai dari era pujangga lama—periode di mana karya-karya sastra muncul sebelum abad ke-20. Ini merupakan fondasi awal yang kemudian melahirkan berbagai periode sastra berikutnya.
Berikut ini jejak panjang sastrawan Indonesia dari masa ke masa, dirangkum Erakini, Rabu (14/5/2025) dari berbagai sumber!
Masa Balai Pustaka
Menjelang awal abad ke-20, muncul fase penting dalam sejarah sastra nasional yang dikenal sebagai periode Balai Pustaka. Dimulai sekitar tahun 1920 hingga 1930, masa ini ditandai oleh kemunculan roman-roman berbahasa Melayu Tinggi. Karena dominasi pemerintah kolonial Belanda saat itu, sebagian besar karya yang diterbitkan berasal dari penulis Sumatera.
Beberapa nama besar dari periode ini antara lain: Armijn Pane, Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, M. Kasim, Amir Hamzah, dan Hans Bague Jassin. Karya yang paling dikenal dari era ini adalah novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli.
Periode Pujangga Baru
Era berikutnya dimulai pada tahun 1933 dengan terbitnya majalah Poedjangga Baroe, yang menjadi wadah ekspresi sastrawan-sastrawan muda saat itu. Gerakan ini menolak intervensi kolonial dan mendorong kebebasan berkreasi.
Tokoh-tokoh penting yang mewarnai masa ini termasuk Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armijn Pane, J.E. Tatengkeng, hingga Ali Hasymi. Salah satu karya paling ikonis dari masa ini adalah Layar Terkembang, tulisan Sutan Takdir Alisyahbana.


















