Ilustrasi untuk cerpen berjudul 'Madumongso' karya Faisal Fadhli dengan nama pena GoresTerka. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini)
TOPLES kaca di atas etalase itu sempat menarik perhatian Mbah Saripto. Bukan karena bentuknya yang cukup kuno, tapi isinya yang warna-warni. Sekilas tampak seperti bungkus-bungkus permen, hijau, biru, merah dan kuning.
Mbah Saripto sebetulnya enggan berbelanja di toko tersebut. Kalau tidak karena rengekan Dafa, cucunya, ia jelas tidak sudi mampir. Bocah enam tahun itu dari kemarin memaksa Mbah Saripto untuk dibelikan Risol Mayo dan Bola Ubi.
“Empat puluh ribu, Kung,” ucap Husin. Bibir Mbah Saripto mengerut, ia sedikit kesal, mentang-mentang jual jajanan kekinian, Husin ambil untung tidak kira-kira. Di pasar, dua jajanan itu bisa dibawa pulang hanya dengan harga tiga puluh ribu.
Uang pensiun Mbah Saripto masih tersisa beberapa, untungnya tidak ia habiskan semua hanya demi kegemaran memelihara ayam jago. Saat sibuk memilih lembaran uang, matanya kembali ke toples kaca di depannya. Toples bening model lama, dengan pegangan bulat di bagian penutup. Namun dada pensiunan guru itu mendadak seperti ditusuk linggis, saat melihat tulisan kecil MADUMONGSO pada tempelan di bagian bawah toples.
Toples itu ternyata berisi kue kesukaannya, yang dibungkus plastik aneka warna. Mbah Saripto bergeming, ia terpaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Kung, ayo pulang,” kata Dafa sambil menarik kemeja batik si kakek, hanya saja Mbah Saripto sudah tidak lagi di sana, ingatannya melalang jauh, kembali ke masa kecilnya puluhan tahun lalu.
“Rip, besok kamu kembali kesini lagi ya!" suara serak Paklik Heru menggema dari dalam toko. Sambil menikmati udud, pemilik toko di selatan Pasar Pon itu mengipas-ngipasi dirinya. Entah mengapa cuaca begitu sumuk di pertengahan September itu.
Sarip baru dua hari bekerja di toko, ia mendapatkan pekerjaan itu karena Bapaknya adalah teman dekat Paklik Heru.
“Iya Paklik,” sarip menjawab sambil memasukkan panci-panci dalam kardus, untuk kemudian digantung di langit-langit dengan tali rafia. Sarip bekerja dengan rajin, apalagi Paklik Heru dan istrinya, Bulik Munah, memperlakukan Sarip dengan baik.
Paklik Heru juga memberinya gaji harian yang lumayan, uang itu ia tabung untuk membeli sepeda jengki merk Steco. Sarip sudah membayangkan akan menjadi bocah paling gagah saat mengendarainya. Tentu alasan ini yang membuat Sarip lebih memilih bekerja di toko Paklik Heru.
Daripada menjadi bocah angon penjaga kambing-kambing milik Pakdhe Yatmo, yang pelitnya Naudzubillah. Hari itu entah mengapa mata Sarip selalu tertuju pada toples kaca di etalase depan. Bukan karena toplesnya, tapi bungkusan merah di dalamnya.
Paklik Heru yang sedari tadi mengawasi pekerjaan Sarip menyadari hal itu, ia lalu berjalan mendekati Sarip,
“Kamu mau to Rip?” tanya Paklik Heru, sambil mengangkat toples kaca tersebut,
“Tidak Paklik,” jawab Sarip malu-malu, tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.
“Sudah nggak apa-apa, ambil satu!” Paklik Heru bercerita jika ia ditawari seseorang di pasar tadi pagi, orang itu bermaksud untuk menitipkan dagangannya yang berupa jajanan.
“Namanya Madumongso, Rip,” kata Paklik Heru, Sarip membuka bungkus merah itu, isinya kue berwarna kehitaman. Bentuknya lonjong memanjang, kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa. Terbuat dari campuran tape ketan hitam, santan dan gula. Dengan sekali gigit saja, rasa manis dan sedikit asam langsung melekat di langit-langit mulut.
Sarip mengingat sesuatu, ia pernah mencicipi kue ini sebelumnya. Tentu saja, di hajatan nikahan Mbak Utari. Kala itu Lilis, adik Mbak Utari, yang juga teman sekelas Sarip menghidangkannya langsung,
"Monggo dicoba Mas Sarip," ujarnya tersenyum, sambil mengingat kejadian itu, Sarip menelan Madumongsonya, tambah manis. Kue ini tidak akan ditemui Sarip setiap hari, hanya ada pada perayaan hari besar atau hajatan seperti nikahan. Harga ketan hitam yang mahal jadi penghalang. Proses membuatnya juga cukup memakan waktu, diaduk terus-menerus, mirip dengan jenang.
“Wah, manis Paklik,” ujar Sarip yang disambut tawa Paklik Heru, ia mengelus kepala bocah tersebut. Paklik Heru tidak memiliki anak, bahkan setelah pernikahan keduanya dengan Bulik Munah, ia tahu bahwa dirinya mandul. Sarip menikmati Madumongso pelan-pelan, sambil meneruskan pekerjaannya. Madumongso itu kini menjadi jajanan kesukaan Sarip di toko tersebut.
“Jangan pulang dulu Rip, makan dulu sini!” panggil Bulik Munah, ia menghidangkan makanan sesaat sebelum Sarip pamit pulang. Sarip tentu tidak akan menolak, jangan bening, dengan lauk dadar telur bebek dan sambal bajak membuat perutnya berbunyi. Tentu lebih enak dari jangan genjer Emak di rumah, batinnya.
Saat pulang melewati depan Masjid desa, Sarip melihat gerombolan orang sedang mengobrol tidak jauh dari sana. Sarip kenal beberapa diantaranya seperti Pak Puguh, Pak Misto, Mas Amir. Mereka berhenti bercakap-cakap saat melihat Sarip lewat di depannya, Sarip tidak ambil pusing dan bergegas pulang.
Malamnya saat akan mengantar Lepet Ketan buatan Emak ke rumah Bu Rohayat, Sarip melewati halaman rumah Paklik Heru. Di halaman yang luas itulah Sarip kembali melihat gerombolan Pak Puguh, Pak Misto, Mas Amir sedang duduk-duduk. Ia tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang itu di sana.
Bahkan kegiatan berkumpul itu sudah terjadi sekitar satu bulan hingga menjelang akhir Oktober. Hampir tiap malam Sarip melihat mereka di halaman rumah Paklik Heru. Entah sambil ngopi, entah sambil menikmati udud, mereka mengobrol semalam suntuk. Hanya saja Paklik Heru maupun Bulik Munah jarang sekali terlihat berada di luar rumah untuk ikut berkumpul.
Itu karena setiap pagi buta, Paklik Heru dan Bulik Munah harus segera ke pasar. Menjalankan rutinitas membuka toko dan kulakan dagangan. Suatu hari Sarip mendengar Bulik Munah berdebat dengan Paklik Heru, Bulik Munah sepertinya tidak suka dengan kegiatan kumpul-kumpul orang di halaman rumah mereka.
Wajar saja Bulik Munah begitu, Sarip pun tidak menyukai mereka. Terutama Mas Amir, perangainya buruk. Lelaki itu suka menyombong, ingin diakui hebat oleh setiap orang. Suaranya nyaring, dan jika tertawa lakak-lakak. Mas Amir sering membuat keributan, apalagi jika sedang terlibat di acara kesenian desa.
Pernah suatu ketika, Sarip melihatnya naik pitam dan membentak panitia acara seni. Itu terjadi karena ia menganggap panitia tidak becus kerja. Rencananya di sela-sela acara seni, akan diselipkan pidato dari perwakilan pemuda. Perwakilan pemuda tersebut datang dari jauh, kata orang pidatonya sangat bagus, membius. Tapi karena panitia menolak, maka perwakilan pemuda tersebut tak jadi hadir. Kalau tidak salah namanya Aidit.
Mana mungkin Paklik Heru mengusir para tetangganya itu, bisa jadi omongan orang nanti. Terlebih lagi Paklik Heru juga tidak ikut berkumpul dengan mereka, tidak tahu menahu tentang kegiatan tersebut. Sarip melihat Paklik Heru, beliau tersenyum seakan tidak ingin membuat bocah tersebut ikut gundah.
Sore itu Sarip, Paklik Heru dan Bulik Munah seperti biasa makan bersama sebelum Sarip pamit pulang. Hanya saja suasananya tampak berbeda, masih tersisa kemarahan, terlebih pada raut muka Bulik Munah.
“Rip, kamu harus rajin sekolah ya!" suara serak Paklik Heru tiba-tiba memecah keheningan, beliau menasehati Sarip agar rajin belajar dan tidak membolos sekolah apapun alasannya.
Selesai makan, Paklik Heru memberi Sarip upah kerja berlebih. Sarip kegirangan sambil menggenggam uang itu. Memasuki November Sarip makin giat bekerja, ia bahkan sering datang pagi-pagi sekali jika hari itu libur sekolah.
Suatu hari di waktu Ahad, Sarip datang ke toko dengan semangat. Ia ingin memamerkan pada Paklik Heru, bahwa telah berhasil membeli sepeda jengki bekas merk Steco. Tapi toko Paklik Heru tutup, pintu toko di gembok dengan gembok besar. Sarip memanggil-manggil Paklik Heru namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Ia memutuskan pulang.
Melewati halaman rumah Paklik Heru, lagi-lagi tidak terlihat aktifitas apapun. Rumahnya seperti kosong tidak berpenghuni. Sarip menganggur, ia belum tahu mengapa toko Paklik Heru tutup. Keberadaan Paklik Heru dan Bulik Munah pun nihil. Saat sedang leyeh-leyeh di depan rumah, sepupunya yaitu Saiful mengajak untuk angon.
Ya daripada tidak ada penghasilan apapun pikirnya. Mereka menggembala kambing-kambing di tepi sungai desa. Saat mencari rumput untuk pakan, Sarip merasakan aritnya tumpul,
“Bentar Pul, aku mau mengasah arit dulu!" teriak Sarip pada Saiful, seraya berjalan menjauh. Sarip termenung mengasah di tepi sungai, ia merasa pagi ini suasana desa cukup sepi. Tengah melamun itulah ia melihat pantulan wajahnya di permukaan air, tapi tidak lama kemudian pantulan itu berubah. Air sungai yang tadinya jernih seketika jadi keruh kecoklatan, dan tak lama kemudian, memerah.
“Ada yang nikahan apa ya?” gumam Sarip, mungkin sedang ada warga yang memotong hewan untuk hajatan. Biasanya sisa organ hewan dilarung di sungai. Hanya saja warna merah itu kian pekat dan diikuti bau anyir yang menyengat. Sarip tersadar, ini bukan hewan ternak. Sarip bergegas menuju hulu sungai, saat sampai di sana ia bergidik ngeri. Ia melihat ada sekitar tiga mayat terapung dengan luka sayat di leher, Sarip mengenali salah satunya,
“Paklik Heruuuuuu!!!!” Sarip tercekat lalu berlari kesetanan meninggalkan Saiful. Sesampainya di rumah, Emak langsung memarahinya. Sarip tidak boleh keluar dari rumah. Malam hari saat Bapaknya pulang, ia membawa cerita tentang Paklik Heru.
Ternyata Paklik Heru sudah dibawa orang beberapa malam yang lalu. Beliau dituduh ikut dalam organisasi partai komunis di desa, karena ternyata gerombolan Pak Puguh, Pak Misto, Mas Amir adalah bagian dari partai tersebut.
Mereka menggunakan halaman rumah Paklik Heru untuk berdiskusi, membicarakan rencana pemberontakan mereka. Saat ditangkap, Paklik Heru sudah berkata bahwa ia tak tahu apapun tentang hal itu. Namun orang-orang yang mendobrak rumahnya tidak percaya. Ia diculik beserta puluhan simpatisan lain. Sedangkan Bulik Munah berhasil kabur setelah lari dari pintu belakang, dan diselamatkan tetangga sekitar.
“Kung, ayo Kung!” rengek Dafa, suaranya membuat Mbah Saripto kembali dari kenangan pahit itu. Beliau menghapus air matanya yang hampir tumpah dengan telapak tangan yangsudah keriput.
“Mau Madumongso, Kung?” tanya Husin pada Mbah Saripto yang tampak termangu depan toples,
“Nggak!!!” bentaknya lalu keluar dari toko.
Faisal Fadhli,
Lulusan Fakultas Hukum yang menyukai seni, film, olahraga serta sejarah. Dikenal dengan nama pena GoresTerka, sekarang sedang menekuni dunia kepenulisan. Terutama cerpen, sudah menulis sejak remaja dan mulai mengirimkan karya di tahun 2022.