Puisi-Puisi Sirajudin A. Sanusi
Sirajudin A. Sanusi
Seorang Tualang Mati yang Merasa Mabuk dan Membaca Puisi di Pinggir Sungai
Sesaat sebelum mati menimbun di dadanya
seoarang tualang bergegas ke dalam mimpi
tak dijumpainya lagi perempuan-perempuan
atau pelana kuda dan jalanan yang mengombak
hanya hidup yang pasrah, juga kesendirian
ia merasa mabuk dan melangkah ke utara
kerongkongannya kering, ia meminta air
namun tak ada jawaban, bahkan tuhan pun
sebegini sepi kah kematian, katanya
ia melangkah dalam benak yang kusut
hilang arah, ia linglung dan tersesat
ia memanggil-manggil nama ibu
dengan menahan dahaga yang tak putus
sampai ketika maut yang baik hati
menunujukkan tualang itu sebuah sungai
: pergilah kesana, seru sang maut
mandilah dan puaskan dahagamu!
tapi, tuan, kata si tualang
sebelum itu, bolehkah aku membaca puisi
untuk yang terakhir kali?
maut yang baik hati itu tak menjawab
seorang tualang mati yang merasa mabuk
membaca puisinya di pinggir sungai
: dalam dan kencang
hanya maut yang mendengarnya
hanya maut yang menyimaknya
penuh seksama
Tangerang, 2024
Di sepanjang kau, ikan-ikan melompat
mabuk mencari udara segar
sedang air masih begitu tenang
menyisir rambutmu di kedalaman basah
di kota yang sebegini pagi
gerimis turun pelan-pelan
dan bocah pendayung sampan
menyela arus, mendekat padamu
kau masih diam dan bisu
kau menolak semua kata-kata
kecuali dingin dan kaku
: selebihnya cuma kecipak air melulu
kau membayangkan wajah ibu
dan teringat kisah masa kanak-kanak
tentang buaya putih yang bertapa
menunggu jiwa yang malang terseret ke sini


















