JAKARTA, (ERAKINI) – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga nyaris menyentuh USD117 per barel, menyusul adanya laporan yang menyebut Amerika Serikat (AS) bersiap memperpanjang blokade terhadap Iran.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ancaman gangguan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar global terhadap pasokan energi dunia.
Minyak mentah Brent naik ke sekitar USD116,98 per barel pada Rabu (29/4/2026) sore, level tertinggi sepanjang bulan ini, setelah ditutup di kisaran USD110 per barel pada Selasa malam.
Kenaikan ini terjadi setelah laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden AS Donald Trump memerintahkan para penasihatnya untuk menyiapkan perpanjangan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan perekonomian Teheran.
Sementara Iran menegaskan akan terus mengganggu lalu lintas kapal yang melintas di Selat Hormuz sebagai respons atas blokade AS.
Harga minyak mengalami fluktuasi tajam sejak perang pecah, karena Selat Hormuz praktis tertutup selama berminggu-minggu akibat konflik tersebut.
Iran memperketat pelayaran di selat itu—jalur yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia—sebagai balasan atas serangan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Awal bulan ini, Teheran memperingatkan bahwa kapal apa pun yang mendekati selat tersebut akan menjadi sasaran. Sebagai tanggapan, AS mengumumkan pasukannya akan mencegat atau memutarbalikkan kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran.
Harga Brent sempat turun ke USD90 per barel pada 17 April setelah diumumkan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. AS juga menyatakan akan menghentikan sementara serangan terhadap Iran pada 8 April. Namun, harga tetap jauh di atas level pra-perang.
Dalam 12 hari terakhir, patokan harga minyak itu terus naik seiring berlanjutnya blokade AS. World Bank memproyeksikan harga energi akan melonjak 24 persen pada 2026 ke level tertinggi sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina empat tahun lalu, jika gangguan paling parah akibat perang Iran berakhir pada Mei.
Krisis Ekonomi Iran Kian Dalam
Di sisi lain, ekonomi Iran kini menghadapi krisis yang makin dalam, ditandai lonjakan harga, melemahnya nilai tukar, dan ancaman berhentinya ekspor minyak. Menurut Pusat Statistik Iran, inflasi tahunan negara itu melonjak menjadi 53,7 persen. Mata uang rial juga jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah.
Pemerintah Iran pekan lalu menyebut sekitar dua juta warga kehilangan pekerjaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, akibat perang.
Pada Rabu, Trump mendesak Iran agar segera bertindak cerdas dan menandatangani kesepakatan setelah beberapa hari negosiasi mengalami kebuntuan. Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan Iran tidak mampu membereskan masalahnya.
The Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang menyebut Trump memilih terus menekan ekonomi dan ekspor minyak Iran lewat blokade, karena opsi lain—melanjutkan pemboman atau meninggalkan konflik—dinilai berisiko lebih besar.
Namun, Pejabat Iran menyatakan negaranya mampu bertahan dari blokade karena telah menggunakan jalur perdagangan alternatif.