JAKARTA, (ERAKINI) - Ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam tidur, Anisa Hadi Prayitna justru sudah terjaga. Tepat pukul 02.00 dini hari, hampir setiap hari selama penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, alarm hidupnya berbunyi lebih cepat dari matahari.
Dengan mata yang masih berat, Anisa meninggalkan empuknya kasur demi memastikan satu hal yang kerap luput dari sorotan: konsumsi ribuan calon petugas haji harus tersedia tepat waktu, tepat porsi, dan memenuhi standar gizi.
Perempuan yang dikenal murah senyum ini telah hampir dua tahun bergabung dalam tim konsumsi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, milik Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI. Bersama timnya, Anisa bertanggung jawab melayani kebutuhan makan para jemaah haji yang dikarantina serta para petugas haji yang tengah mengikuti Diklat.
Dalam agenda Diklat PPIH Arab Saudi, Anisa berada di barisan terdepan. Ia mengawal konsumsi peserta Diklat Kompi A yang menempati gedung utama Asrama Haji. Setiap dini hari, ia tak sekadar berkoordinasi lewat pesan atau telepon, tetapi juga berkali-kali mendatangi langsung dapur milik vendor penyedia konsumsi. Pengecekan dilakukan untuk memastikan sarapan pagi tidak terlambat tersaji.

“Kalau pagi, jam lima sudah harus ready,” tutur Anisa saat bercerita kepada erakini, akhir pekan lalu.
Anisa mengatakan, ketika seluruh peserta sudah sarapan pagi, pekerjaannya tentu belum usai. Ia harus memastikan ribuan calon jemaah haji mendapatkan layunan makan siang. Dia menyebut, biasanya makan siang harus siap pukul 11.00, sementara makan sore pukul 17.00. Proses memasak sendiri dimulai sejak tiga jam sebelumnya, bahkan persiapan sayur sudah dilakukan sejak sekitar pukul dua dini hari.
Anisa menyebut, seluruh konsumsi Diklat PPIH dikelola melalui vendor. Dapur di Asrama Haji hanya digunakan untuk persiapan, karena kapasitasnya belum mencukupi untuk melayani hingga seribu orang. Dalam kondisi seperti itu, ketepatan waktu menjadi taruhannya.
Lebih lanjut, Anisa mengakui, tekanan waktu adalah bagian dari keseharian tim konsumsi.
“Kita ngerasa punya tanggung jawab. Gimana caranya peserta makannya tepat waktu, tepat porsi,” ujarnya.
Perasaan deg-degan kerap muncul ketika waktu makan semakin dekat, sementara makanan belum tiba. Salah satu momen paling menguras tenaga terjadi pada hari ketiga Diklat, saat distribusi nasi kotak untuk kegiatan malam terlambat datang.
Makanan baru tiba sekitar pukul 19.15, padahal peserta sudah harus memasuki kegiatan selanjutnya sejak pukul 19.00. Malam itu, Anisa dan tim harus menunggu hingga semua urusan selesai sebelum bisa beristirahat.
Ada pula masa-masa ketika waktu tidur nyaris tak ada. Pada agenda tertentu, Anisa hanya sempat memejamkan mata sekitar tiga jam. Bahkan, ia mengaku pernah tidak tidur sama sekali saat menghadapi jadwal padat yang datang sore hari dan kembali berlanjut menjelang subuh.
Meski demikian, seluruh kelelahan itu terbayar. Selama Diklat berlangsung, tidak ada keluhan berarti terkait konsumsi.
“Alhamdulillah, semua peserta dan panitia tidak ada yang mengeluhkan,” katanya.
Menurut Anisa, keberhasilan ini bukan hasil kerja satu orang. Di balik kelancaran layanan konsumsi, ada kerja kolektif tim dapur, tim distribusi, vendor, dan panitia. Dengan jumlah gedung mencapai lebih dari tujuh lokasi, koordinasi harus berjalan cepat dan presisi.
Tim konsumsi PPIH sendiri berjumlah 13 orang. Setiap orang memegang tanggung jawab satu gedung, kecuali dua gedung yang ditangani oleh dua orang. Di setiap gedung, mereka juga dibantu tim katering sekitar empat hingga lima orang.
“Kuncinya kerja sama dan komunikasi,” tegas Anisa.
Selain itu, keterbukaan terhadap masukan juga menjadi perhatian. Selama Diklat yang berlangsung lebih dari 20 hari, kejenuhan menu kerap muncul. Tim konsumsi pun membuka ruang permintaan menu, selama tetap sesuai standar gizi.

Menu makanan ditentukan oleh tim khusus dan disesuaikan dengan standar yang berlaku. Jika peserta memiliki permintaan, tim berupaya mengakomodasi.
“Kalau mau request, silakan. Kita tamu,” ujarnya. Bahkan, permintaan sederhana seperti sayur asem bisa dipenuhi.
Sebagai informasi, Diklat PPIH Arab Saudi yang diselenggarakan Kementerian Haji dan Umrah berlangsung dari 10 Januari hingga 30 Januari 2026. Hari ini, Rabu (21/1/2026), Diklat PPIH sudah memasuki hari ke-12. Kegiatan ini diikuti sekitar 1.600 petugas haji dari sembilan bidang layanan, mulai dari konsumsi, akomodasi, transportasi, kesehatan, hingga perlindungan jemaah.
Selain pembekalan teknis, peserta juga menjalani latihan fisik bersama fasilitator TNI dan Polri serta pendidikan bahasa Arab sebagai bagian dari persiapan bertugas di Arab Saudi.
Di balik agenda besar dan ribuan peserta, kisah Anisa Prayitna menjadi potret kerja sunyi yang jarang terlihat. Ia dan timnya memastikan bahwa setiap petugas haji bisa menjalani pelatihan dengan perut terisi dan energi terjaga, meski harus dibayar dengan waktu tidur yang kerap terpangkas.