Foto bersama para diaspora Indonesia di Australia usai kegiatan IBC Business Networking Night bertajuk Connect Beyond Borders yang digelar di Central Park, Jakarta Barat, Jumat (16/10/2026) malam (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Indonesia Business Council (IBC) Australia didorong dapat memperkuat akses usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia ke pasar internasional, khususnya Australia, melalui kolaborasibisnis dan investasi lintas negara. Upaya tersebut terungkap dalam kegiatan IBC Business Networking Night bertajuk yang digelar di Central Park, Jakarta Barat, Jumat (16/10/2026) malam.
Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 ini juga menjadi momentum peringatan 20 tahun berdirinya IBC Australia. Acara tersebut dihadiri mantan diaspora Indonesia di Australia yang juga hakim Mahkamah Konstitusi (MK) RI, Arsul Sani; Presiden IBC Australia Josep Rustam; Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Sydney Kementerian Perdagangan, Devi Sandra; Founder UN White Noise Renny Winarto; serta Direktur Utama Unikids Indonesia, Aditya Widarto Putra.
Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku usaha, diaspora Indonesia di Australia, dan pemangku kepentingan guna memperluas jaringan bisnis sekaligus membuka peluang ekspor produk lokal.
Kepala ITPC Sydney Devi Sandra mengatakan, IBC Australia merupakan mitra utama ITPC Sydney dalam menjembatani pelaku usaha Indonesia, khususnya UMKM, untuk memasuki pasar Australia. Menurut Devi, kolaborasi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong produk lokal menembus pasar internasional.
"IBC Australia ini partner utama dari kami ITPC Sydney, di mana kita berkolaborasi, sangat engage ya untuk bisa menjembatani pelaku-pelaku usaha, khususnya UMKM yang sekarang kita lagi galakkan," kata Devi.
Lebih jauh, Devi menjelaskan bahwa pemerintah berupaya mendorong pelaku UMKM agar mampu meningkatkan kapasitas usaha dan memasarkan produknya ke luar negeri.
"Kan memang arahannya adalah lokal ke global, gitu. Jadi kita mau meningkatkan ekspor melalui UMKM-UMKM yang memang sangat potensial masuk ke pasar Australia," tuturnya.
Devi menilai, ITPC Sydney berperan sebagai pusat informasi perdagangan sekaligus membantu pelaku usaha menemukan calon pembeli potensial di Australia.
Dalam kesempatan yang sama, mantan diaspora Indonesia di Australia yang juga hakim MK RI, Arsul Sani, mengatakan, keberadaan IBC Australia dapat menjadi sarana memperkuat jaringan antara diaspora Indonesia dan pelaku bisnis di Tanah Air. Hakim Konstitusi tersebut menilai, jaringan IBC Australia harus dimanfaatkan untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan produk Indonesia di pasar Australia.
"Ini kan organisasi, wadah yang menjadi sarana networking dan channeling-nya para diaspora Indonesia yang ada di Sydney, di New South Wales, terutama tentu teman-teman entrepreneur, para pebisnis yang ada di Jakarta," kata Arsul.
Arsul Sani menegaskan, hubungan antara diaspora dan pelaku usaha dapat menjadi salah satu sarana untuk mendukung upaya pemerintah dalam memperluas pemasaran produk Indonesia ke luar negeri.
Sementara itu, Presiden IBC Australia Josep Rustam menyatakan sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Arsul Sani bahwa peran diaspora Indonesia dalam memperluas jaringan bisnis dan memperkenalkan produk Indonesia ke pasar internasional perlu diperkuat dan dikembangkan.
Josep menyebut, IBC Australia juga terus berupaya memperluas jaringan dengan melibatkan masyarakat dari negara-negara ASEAN yang memiliki kedekatan budaya dan selera dengan masyarakat Indonesia.
"Tepat sekali kalau kita ingin memperkuat peran dari diaspora. Nah, IBC juga memperlebar network, tidak hanya pada orang Indonesia saja, tapi juga pada orang ASEAN yang punya cita rasa dan punya lidah yang kurang lebih sama dengan kita," kata Josep.
Josep melihat perluasan jaringan tersebut dapat membantu memperkenalkan produk Indonesia melalui berbagai kegiatan bersama di Australia. Lebih dari itu, Josep berharap kegiatan jejaring bisnis tersebut dapat mempertemukan entrepreneur di Australia dengan pelaku UMKM di Tanah Air sehingga terbangun kepercayaan terhadap produk lokal.
"Jadi, dengan bertemunya diaspora Indonesia dari Australia dan UMKM Indonesia dalam event business networking ini, semoga semakin membangun trust sehingga produk Indonesia bisa lebih cepat sampai ke Australia," katanya.
Produk lokal berpeluang menjangkau diaspora
Sementara itu Direktur Utama Unikids Indonesia, Aditya Widarto Putra, mengatakan, diaspora Indonesia yang tinggal di berbagai negara berpotensi memperkenalkan produk-produk dalam negeri, termasuk makanan khas Indonesia. Menurut Aditya, kerinduan diaspora terhadap produk dari Tanah Air dapat menjadi motivasi bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar.
"Banyak diaspora-diaspora Indonesia di negara-negara lain yang harusnya sih kangen sama produk-produk makanan kita. Nah itu bisa kita provide," kata Aditya.
Aditya kemudian menyoroti pentingnya mengembangkan produk lokal agar mampu tumbuh secara berkelanjutan, baik dari sisi produksi maupun ekonomi.
Di sisi yang lain, Founder UN White Noise Renny Winarto menilai, produk fesyen lokal Indonesia memiliki peluang untuk bersaing dipasar internasional. Sebagai salah satu anggota IBC Australia sekaligus peserta pameran dari IBC Australia untuk kali kedua di TEI, Renny menyebut produknya telah menjangkau sejumlah negara di Asia Tenggara.
Dalam TEI 2026 ini, UN White Noise menandatangani MoU dengan ITPC-Osaka, sebagai kelanjutan pembicaraan yang dimulai sejak mengikuti pameran di TEI tahun sebelumnya.
"Sebagai salah satu member IBC dan juga exhibitor pada TEI ini, kami mewakili salah satu brand lokal di industri fesyen. Kami sangat bangga, sebagai brand lokal yang sudah bisa diterima dengan relatif mudah oleh pasar manca negara, seperti itu," kata Renny.
"Jadi sudah ada beberapa negara yang kami sentuh, Pak; Singapura, Thailand, Bangkok, dan Malaysia," lanjutnya.
Renny berharap kolaborasi antarpelaku usaha dapat memperluas pengenalan produk lokal Indonesia di pasar global. Renny ingin menunjukkan bahwa keterampilan dan kualitas pengerjaan produk Indonesia mampu bersaing dengan produk dari negara lain.
"Dan besar harapan kami dengan pertumbuhan seperti ini, kita bersinergi sama-sama bagaimana menunjukkan brand lokal produk Indonesia, jahitan tangan orang-orang Indonesia, dapat berkiprah di manca negara," pungkas Renny.