Kemenag Gandeng Leiden University dan NIMAR Perkuat Riset Studi Islam Internasional
Abdul Rahman Ahdori
RABAT, (ERAKINI) - Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng Leiden University dan Netherlands Institute in Morocco (NIMAR) untuk memperkuat kolaborasi akademik antara Indonesia, Maroko, dan Belanda. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui program international short course dan simposium internasional di Rabat, Maroko, pada 12-22 Oktober 2026.
Program bertajuk Comparing Islam Across Cultures: Knowledge, Practice and Public Life in a Changing World ini bertujuan memperkuat riset komparatif tentang Islam, meningkatkan kapasitas akademisi, serta memperluas jejaring penelitian internasional, khususnya di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) dan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kemenag dan Leiden University. Dokumen kerja sama itu ditandatangani Sekretaris Jenderal Kemenag Prof. Dr. phil. Kamaruddin Amin, MA, dan Presiden Dewan Eksekutif Leiden University Prof. Luc Sels.
Sebanyak 12 peserta mengikuti program tersebut. Mereka mempresentasikan proposal penelitian dan artikel akademik untuk mendapatkan masukan langsung dari akademisi serta peneliti internasional.
Selain menjadi forum pelatihan, program ini diarahkan untuk menghasilkan proposal riset kolaboratif dan publikasi ilmiah internasional.
Direktur NIMAR Prof. Léon Buskens mengatakan, kolaborasi yang mempertemukan akademisi Indonesia, Maroko, dan Belanda tersebut telah digagas sejak 2017.
"Setelah hampir satu dekade, gagasan tersebut akhirnya dapat diwujudkan melalui kolaborasi NIMAR, Leiden University, dan Kementerian Agama Republik Indonesia," ujar Buskens dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/10/2026).
Buskens menyambut baik realisasi program tersebut, terlebih NIMAR tengah merayakan hari jadinya yang ke-20. Dia berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penyelenggaraan short course, tetapi berkembang menjadi berbagai program akademik yang berkelanjutan.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian ialah pengembangan model South-South-North cooperation. Model ini mempertemukan Indonesia dan Maroko sebagai negara dari kawasan Global South dengan Belanda sebagai mitra dari kawasan Global North.
Melalui pendekatan tersebut, ketiga negara diharapkan dapat membangun kolaborasi akademik yang lebih setara, mempertemukan beragam perspektif keilmuan, serta menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga diberikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Rabat, Maroko.
Mewakili Duta Besar RI untuk Kerajaan Maroko, pejabat Fungsi Politik dan Ekonomi KBRI Rabat Regia Mutiara Rozuah menyampaikan apresiasi kepada NIMAR dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program tersebut.
Menurut Regia, kolaborasi akademik ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Maroko, terutama di bidang pendidikan tinggi, penelitian, dan pertukaran pengetahuan.
Keterlibatan akademisi dan perguruan tinggi dinilai dapat memperluas ruang dialog antara kedua negara sekaligus membangun pemahaman lintas budaya.
Sementara itu, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag Prof. Arskal Salim yang mewakili Sekretaris Jenderal Kemenag mengatakan, kerja sama dengan Leiden University memiliki sejarah panjang dan telah berkontribusi terhadap perkembangan studi Islam di Indonesia.
Kehadiran Maroko sebagai mitra ketiga dinilai membuka peluang untuk memperluas kajian Islam melalui perspektif yang lebih komparatif.
Arskal menggarisbawahi tiga sasaran utama program tersebut, yakni meningkatkan kapasitas penelitian dan penulisan akademik, mengembangkan kolaborasi riset internasional, serta memperkuat perspektif komparatif untuk memperkaya pengajaran, penelitian, dan kebijakan pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Dia juga mendorong agar kerja sama tersebut berlanjut dalam bentuk program yang lebih konkret. Sejumlah peluang yang dapat dikembangkan meliputi research fellowship, program visiting professor, penelitian bersama, dan publikasi internasional.
"Salah satu agenda yang diharapkan dapat ditindaklanjuti ialah penyusunan proposal penelitian kolaboratif untuk skema pendanaan MORA AIR Fund 2027," ujarnya.
Arskal mengingatkan para peserta bahwa keikutsertaan mereka dalam program tersebut bukan sekadar untuk mengikuti pelatihan. Mereka juga membawa tradisi keilmuan Islam Indonesia ke dalam forum akademik internasional.
Dalam kuliah pembukaan, Arskal mengangkat pentingnya memperbarui pendekatan komparatif dalam studi Islam, terutama untuk memahami perkembangan Islam di Indonesia dan Maroko.
Dia menyinggung karya antropolog Clifford Geertz berjudul Islam Observed yang terbit pada 1968. Buku tersebut menjadi salah satu karya klasik yang membandingkan kehidupan keagamaan Islam di kedua negara.
Namun, menurut Arskal, perubahan masyarakat Muslim selama lebih dari setengah abad terakhir menuntut pendekatan penelitian yang lebih dinamis dan kritis.
"Alih-alih memandang Islam Indonesia dan Maroko sebagai dua bentuk keagamaan yang memiliki karakter tetap, penelitian komparatif perlu memperhatikan bagaimana tradisi Islam dibentuk, diperdebatkan, dan dipraktikkan melalui institusi, pengetahuan, serta perubahan sosial," ungkap Arskal.

















