Dark
Light
Dark
Light
Top Banner

AICIS 2024: Ajang Bergengsi, Bereputasi dan Berekognisi

AICIS 2024: Ajang Bergengsi, Bereputasi dan Berekognisi

Perhelatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 tahun ini dilaksanakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mulai tanggal 1-4 Februari 2024. Kegiatan akbar ini merupakan program kegiatan tahunan Kementerian Agama RI yang dilakukan dalam rangka menghadirkan para ilmuan, akademisi, praktisi yang kompeten di bidang keilmuannya masing-masing guna membahas sekaligus menyelesaikan berbagai problematika yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, berbangsa dan bernegara baik di tingkat lokal, nasional bahkan global-internasional. 

Pelaksanaan AICIS tahun ini terlihat berbeda dengan pelaksanaan AICIS di tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, selain menghadirkan para akademisi dari berbagai negara, panitia AICIS juga mengundang para tokoh agama se-Asia Tenggara yang sudah terkonfirmasi bisa hadir di acara tersebut.

Tokoh-tokoh agama yang akan hadir dalam perhelatan ini adalah Yahya Cholil Staquf (Indonesia), Pimpinan PP Muhammadiyah (Indonesia), Philip Kuntjoro Widjaja (Indonesia), Wisnu Bawa Tenaya (Indonesia), Vanh Keobundit (Laos). Kemudian Yon Seng Yeath (Kamboja), Bounthavy Phonethasin (Laos), YB Datuk Dr Hasan bin Bahrom (Malaysia), Phra Dr. Anilman Dhammasakiyo (Thailand), Pendeta Gomar Gultom (Indonesia), Romo Hery Wibowo (Indonesia), Ws Andi Gunawan (Indonesia), A Elga J Sarapung (Indonesia), dan Bishop Pablo Virgilio Siongco David (Philippines).

Para tokoh agama tersebut akan ikut serta berperan aktif dalam membahas dan mencari solusi atas serangkaian persoalan kontemporer dari perspektif keagamaan. Pertemuan mereka akan menjadi ajang berbagi ide, gagasan, dan wawasan berbasis pengalaman mereka dalam merespons isu-isu keagamaan dan kemanusiaan. 

Ajang Bergengsi dan Bereputasi

Dari itu, harus diakui bahwa AICIS merupakan kegiatan berkelas dan bergengsi. Berkelas karena secara nyata peserta AICIS adalah peserta kelas dunia atau level internasional yang tidak terbatas oleh wilayah geografis yakni tidak hanya diikuti oleh para intelektual/cendikiawan dari berbagai daerah di nusantara, akan tetapi diikuti pula oleh para cendikiawan yang berasal dari manca negara. Sedangkan bergengsi mengandung makna bahwa tidak semua para intelektual atau para cendikiawan baik nusantara maupun mancanegara secara otomatis diterima sebagai peserta, namun mereka yang terpilih sebagai peserta adalah mereka yang telah mengirim artikelnya, kemudian di review dan diseleksi secara ketat kemudian dinyatakan accepted oleh reviewer AICIS yang ahli di bidangnya. 

Sungguh berbahagia dan patut berbangga bagi mereka yang terpilih dan turut serta di ajang berkelas dan bergengsi ini. Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai “reuni” dan silaturrahmi akademik yang spektakuler karena para intelektual dan cendikiwan bertemu, berkumpul, dan berdiskusi dalam sebuah komunitas akademik guna mencari sekaligus memberi solusi terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya, agama dan lain sebagainya. 

Hadirnya para akademisi, cendikiawan, dan para tokoh agama di acara bergengsi ini menandakan masih kuatnya “ghirah” dan komitmen intelektual mereka untuk berkontribusi dalam menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia. Mereka adalah orang-orang terpilih yang disinyalir oleh Nabi Muhammad SAW sebagai manusia terbaik karena senantiasa bermanfaat bagi sesama. Sebagaimana sabda beliau “khairunnas ‘anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia.

Sampai kini, dalam kurun waktu 23 tahun lamanya, AICIS masih tetap dipertahankan keberlangsungannya, masih tetap dilaksanakan, sekaligus ia menjadi tradisi akademik dan salah satu ikon kegiatan Kemenag RI yang telah menuai banyak apresiasi dan rekognisi baik nasional maupun internasional. Hal ini terbukti dari banyaknya jumlah calon partisipan yang mengirim paper atau artikel tahun ini (1.957 artikel yang masuk dan yang terpilih berjumlah 328 artikel) dari berbagai belahan dunia.

Semoga ikhtiar Kemenag lewat AICIS untuk mewujudkan masyarakat yang damai, adil, makmur dan bermartabat dapat terwujud di bumi Indonesia tercinta khususnya dan di belahan dunia pada umumnya. Ikhtiar ini merupakan bagian dari implementasi firman Allah SWT

“Dan katakanlah,”Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (Al-Taubah:105)”. 

Ayat di atas menjadi pegangan sekaligus penguat bagi siapa saja untuk senantiasa tetap semangat dan optimis menatap masa depan dan hari esok yang lebih baik. Tidak ada usaha yang sia-sia, bekerja dengan penuh semangat, dedikasi tinggi dan berintegritas pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan. Karena siapapun yang menanam kebaikan maka pasti ia akan memperoleh hasil dan balasan yang baik pula. Lewat gala AICIS, berdiskusi dan berdialog intensif bersama orang-orang pintar pasti akan menghasilkan solusi cerdas “bergizi” dan bermanfaat bagi umat. AICIS Smart, Kemanag Hebat Bermartabat. 

Wallahul Haq wa A’lam bi al-Shawab.

Penulis: Prof Masnun Tahir M.Ag., (Rektor UIN Mataram) dan Dr. Khairul Hamim, M.A., (Dosen UIN Mataram)


Editor:

Gagas Terkini