Farid Mustofa
Staf Pengajar di Fakultas Filsafat UGM
Setiap Ramadan tiba, hadis Nabi disampaikan di mana-mana.
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Apabila Ramadan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
Tapi nyatanya? Media sosial masih penuh fitnah. Komentar jahat bertebaran. Banyak yang berpuasa masih menyakiti sesama. Bahkan yang rajin shalat tarawih dan ibadah di malam hari, lisannya tajam di siang hari. Lalu bagaimana maksud setan dibelenggu?
Kebanyakan orang membayangkan setan makhluk melayang di sekitar kita, membisikkan godaan dari telinga ke telinga. Makhluk yang menggoda manusia dari luar.
Al-Qur'an memberi gambaran jauh lebih dalam. Surah An-Nas ayat 6 menyebut setan bisa berasal dari golongan jin dan manusia sekaligus.
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
Dari golongan jin dan manusia.
Ini bukan kekeliruan redaksi. Justru di sini kuncinya. Setan bukan jenis makhluk, tapi sifat. Siapa pun yang menanggung sifat setan, kesombongan, hasad, suka menyesatkan, suka merusak, maka sedang menjalankan fungsi setan, terlepas dari apakah dia jin atau manusia.
Iblis sendiri yang raja setan ditegaskan dalam QS Al-Kahfi ayat 50 berasal dari golongan jin, yang mendurhakai perintah Tuhan
كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
Iblis bukan jenis makhluk tersendiri. Mulanya hanya jin yang kemudian menanggung sifat kesetanan ketika memilih sombong dan menolak perintah Allah. Kalau jin bisa kesetanan, manusia pun bisa.
Bukan kerasukan seperti klenik, tapi dalam arti merawat sifat setan, kesombongan, iri, dengki, nafsu merusak, hingga sifat itu menjadi karakter melekat.
Maka ketika Ramadan membelenggu setan, yang dibelenggu bukan sekadar makhluk di luar manusia. Godaan dari luar memang dilemahkan. Tetapi sifat setan yang sudah lama dipelihara dalam diri manusia tidak otomatis ikut terbelenggu.
Kesombongan, iri, dengki, dan kebiasaan menyakiti sesama sudah tumbuh menjadi karakter. Ramadan tidak datang menghapusnya. Ramadan hanya memberi ruang agar manusia belajar mengekangnya.
Allah sebenarnya sudah memberi petunjuk. Manusia membawa dua kecenderungan dalam dirinya.
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. (QS As-Syams: 8).
Nafsu manusia membawa dua potensi sekaligus, yakni kecenderungan menuju kebaikan dan keburukan. Potensi buruk yang sudah lama dirawat dapat berjalan sendiri tanpa dorongan dari luar.
Bayangkan orang yang sudah bertahun-tahun merokok lalu tangannya diikat. Apakah keinginan merokoknya langsung hilang? Tidak. Rasa ingin itu sudah bukan lagi pengaruh dari luar. Tapi sudah menjadi kebiasaannya.
Begitu juga sifat kesetanan yang bertahun-tahun dirawat dalam diri. Setan boleh dibelenggu, tetapi jarinya tetap hafal jalan menuju tombol posting hoaks. Mulut tetap terbiasa berkata kasar. Hati tetap mudah iri melihat rezeki orang lain. Kebiasaan itu sudah menjadi milik dirinya sendiri, bukan lagi bisikan dari luar.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij al-Salikin menjelaskan hal ini dengan sangat tepat. Menurutnya, nafsu yang sudah lama dibiasakan pada keburukan akan terus bergerak ke arah itu meski tekanan luar berkurang. Kebiasaan buruk yang sudah mengakar berjalan dengan tenaganya sendiri.
Ramadan memang mengurangi tekanan dari luar, tapi tidak otomatis mencabut akar yang sudah tumbuh jauh ke dalam.
Di sinilah Ramadan sejatinya bekerja. Bukan otomatis membersihkan manusia hanya karena setan dikurangi tekanannya dari luar. Ramadan memberi kesempatan berjuang melawan sifat kesetanan yang sudah lama bersarang. Tanpa gangguan eksternal, kita bisa melihat lebih jelas cermin diri, mana dorongan yang benar-benar datang dari nafsu sendiri, dan seberapa dalam sudah berakar.
Kalau di bulan ini pun kita masih mudah marah, masih suka ghibah, masih nyaman dengan kebohongan kecil, itu bukan karena setan lolos dari belenggunya. Itu karena sifat setan sudah terlanjur kita rawat, kita biarkan tumbuh, dan kita jadikan kebiasaan.
Dan justru karena sifat itu datang dari dalam, kita punya kuasa mengubahnya. Tidak ada yang bisa mengubah karakter seseorang kecuali dirinya sendiri, dengan pertolongan Allah.
Ramadan bukan pengekang setan dari luar, tapi undangan membersihkan setan rawatan kita sendiri. Pintu terbuka lebar tinggal kita mau masuk tidak.