7 Film Besar Hollywood Diselesaikan Sutradara Pengganti, Terbaru The Batman Part II
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Pergantian sutradara di tengah produksi bukan hal baru di Hollywood. Perbedaan visi kreatif, konflik di lokasi syuting, hingga persoalan pribadi membuat sejumlah film besar harus diselesaikan oleh sineas lain.
Terbaru, Warner Bros. dan DC Studios mengumumkan bahwa Steven Soderbergh akan membantu Matt Reeves menyelesaikan produksi The Batman Part II. Reeves tengah menghadapi urusan keluarga, tetapi menegaskan bahwa dirinya tidak mundur dari proyek yang dibintangi Robert Pattinson tersebut.
“Saya sangat berterima kasih kepada Steven yang telah membantu saya menyelesaikan pengambilan gambar utama di tengah masa sulit ini,” tulis Reeves melalui media sosial X.
Kasus ini berbeda dari sejumlah pergantian sutradara sebelumnya yang diwarnai konflik dan kontroversi. Kolaborasi Reeves dan Soderbergh justru menjadi bentuk dukungan profesional agar produksi tetap berjalan.
Berikut tujuh film Hollywood yang harus melibatkan sutradara pengganti untuk menyelesaikan produksinya, seperti dirangkum dari Variety, Sabtu (17/10/2026):
1. Spartacus (1960): Stanley Kubrick Menggantikan Anthony Mann
Film epik tentang pemberontakan gladiator Romawi ini awalnya disutradarai Anthony Mann. Namun, setelah dua pekan syuting, aktor sekaligus produser Kirk Douglas meminta studio menggantinya karena menilai Mann kehilangan kendali atas produksi.
Douglas kemudian menunjuk Stanley Kubrick, yang sebelumnya menyutradarai dirinya dalam Paths of Glory.
Hasilnya: Spartacus meraih empat Piala Oscar dan Golden Globe untuk film drama terbaik. Film tersebut juga menjadi film terlaris Universal Pictures hingga kesuksesan Airport pada 1970.
2. Bohemian Rhapsody (2018): Dexter Fletcher Menggantikan Bryan Singer
Produksi film biografi Freddie Mercury ini menghadapi masalah ketika Bryan Singer tidak kembali ke lokasi syuting setelah libur Thanksgiving. Laporan mengenai kedisiplinan dan konflik di lokasi produksi turut membayangi proyek tersebut.
Studio kemudian menunjuk Dexter Fletcher untuk menyelesaikan sekitar sepertiga terakhir film.
Meski Fletcher mengambil alih bagian akhir produksi, Singer tetap memperoleh kredit tunggal sebagai sutradara sesuai aturan Directors Guild of America (DGA). Fletcher mendapat kredit sebagai produser eksekutif.
Hasilnya: Dibintangi Rami Malek, Bohemian Rhapsody sukses di box office dan meraih empat Piala Oscar, termasuk Aktor Terbaik untuk Malek.
3. Justice League (2017): Joss Whedon Menggantikan Zack Snyder
Pergantian sutradara Justice League menjadi salah satu kasus paling kontroversial dalam perfilman Hollywood modern.
Zack Snyder meninggalkan proyek tersebut saat memasuki tahap pascaproduksi untuk berkabung setelah putrinya meninggal dunia. Warner Bros. kemudian menunjuk Joss Whedon, sutradara The Avengers, untuk menyelesaikan film dan melakukan sejumlah perubahan besar.
Versi yang dirilis pada 2017 menuai kritik dan memicu kekecewaan penggemar Snyder. Desakan untuk menyaksikan visi asli sang sutradara akhirnya berujung pada perilisan Zack Snyder's Justice League pada 2021, dengan durasi lebih dari empat jam.
Snyder kemudian mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah menonton versi Whedon. Ia menggambarkan masa perilisan film tersebut sebagai periode yang sangat berat bagi dirinya dan keluarga.
Hasilnya: Kontroversi film ini terus menjadi bahan perbincangan, sementara perilisan versi Snyder memberikan kesempatan kepada penonton untuk melihat pendekatan berbeda terhadap cerita yang sama.
4. The Island of Dr. Moreau (1996): John Frankenheimer Menggantikan Richard Stanley
Produksi The Island of Dr. Moreau dikenal sebagai salah satu kekacauan terbesar dalam sejarah Hollywood.
Richard Stanley telah mengembangkan proyek tersebut selama empat tahun sebelum mulai menggarapnya bersama Marlon Brando. Namun, produksi di Australia segera dilanda berbagai persoalan.
Aktor Rob Morrow mengundurkan diri, sementara Val Kilmer dilaporkan terlibat dalam sejumlah ketegangan di lokasi syuting. Dua hari setelah produksi dimulai, Stanley dipecat oleh New Line Cinema.
Sutradara veteran John Frankenheimer kemudian mengambil alih. Namun, pergantian tersebut tidak serta-merta menyelesaikan masalah karena ketegangan antara pemain dan kru tetap berlanjut.
Hasilnya: Film tersebut gagal memenuhi harapan komersial dan memperoleh banyak nominasi Razzie Awards, penghargaan yang mengapresiasi film-film terburuk.
5. Superman II (1981): Richard Lester Menggantikan Richard Donner
Superman II awalnya diproduksi bersamaan dengan film Superman pertama. Namun, ketegangan antara sutradara Richard Donner dan produser Alexander serta Ilya Salkind membuat produksi sekuelnya dihentikan sementara.
Tim produksi kemudian memprioritaskan penyelesaian film pertama yang dirilis pada 1978. Ketika proyek sekuel dilanjutkan, Donner akhirnya diberhentikan meskipun sebagian besar adegan telah selesai direkam.
Richard Lester ditunjuk sebagai pengganti dan melakukan pengambilan gambar ulang dalam jumlah besar agar memenuhi persyaratan kredit sutradara.
Hasilnya: Film yang dibintangi Christopher Reeve tetap sukses, meskipun proses pergantian sutradaranya menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah waralaba Superman.
6. Brave (2012): Mark Andrews Menggantikan Brenda Chapman
Film animasi Pixar Brave mengalami pergantian sutradara di tengah pengembangannya. Brenda Chapman menghabiskan enam tahun mengembangkan cerita dan menulis skenario yang terinspirasi dari hubungannya dengan sang putri.
Chapman menjadi perempuan pertama yang menyutradarai film panjang Pixar. Namun, ia kemudian digantikan Mark Andrews akibat perbedaan visi kreatif dengan pimpinan Pixar saat itu, John Lasseter.
Pergantian tersebut menarik perhatian karena film ini menghadirkan Merida sebagai tokoh utama perempuan dengan cerita yang berpusat pada hubungan ibu dan anak.
Hasilnya: Brave meraih Piala Oscar untuk Film Animasi Terbaik. Chapman dan Andrews sama-sama memperoleh kredit sebagai sutradara.
7. Solo: A Star Wars Story (2018): Ron Howard Menggantikan Phil Lord dan Christopher Miller
Film yang mengisahkan masa muda Han Solo ini awalnya digarap Phil Lord dan Christopher Miller, duo sutradara yang dikenal melalui pendekatan komedi dan gaya produksi fleksibel.
Pada Juni 2017, Lucasfilm memutuskan berpisah dengan keduanya setelah proses pengambilan gambar berlangsung selama beberapa bulan. Studio menyebut perbedaan visi kreatif sebagai alasan utama.
Ron Howard kemudian ditunjuk untuk mengambil alih ketika sebagian besar adegan telah direkam. Laporan saat itu menyebut perbedaan pendekatan mengenai nada cerita dan metode pengambilan gambar menjadi sumber ketegangan.
Hasilnya: Biaya produksi film ini membengkak hingga sekitar US$275 juta. Meski meraup sekitar US$392 juta di seluruh dunia, pendapatannya dinilai mengecewakan untuk film dengan anggaran sebesar itu.
Pergantian Sutradara Tak Selalu Berujung Kegagalan
Ketujuh film tersebut memperlihatkan bahwa pergantian sutradara dapat terjadi karena beragam alasan, mulai dari persoalan pribadi hingga benturan visi kreatif dan konflik produksi.
Hasil akhirnya pun berbeda-beda. Spartacus, Bohemian Rhapsody, dan Brave berhasil meraih penghargaan bergengsi. Sebaliknya, The Island of Dr. Moreau mengalami kegagalan komersial, sementara Solo: A Star Wars Story menghadapi tekanan finansial meski melibatkan nama-nama besar.
Dalam kasus The Batman Part II, keterlibatan Steven Soderbergh tidak berarti Matt Reeves kehilangan posisi sebagai sutradara. Reeves menegaskan dirinya tetap memimpin film tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa keterlibatan sineas lain tidak selalu menandakan pergantian kepemimpinan. Dalam kondisi tertentu, kolaborasi justru menjadi cara untuk menjaga produksi tetap berjalan di tengah tantangan yang tidak terduga.


















