Perdana Menteri Palestina Mohammed Mustafa menghadiri pertemuan mengenai rencana pemulihan dan rekonstruksi Gaza di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki Israel. (Foto: Reuters).
RAMALLAH, (ERAKINI) - Di tengah puing-puing kehancuran yang ditinggalkan oleh agresi brutal selama dua tahun terakhir, harapan mulai tumbuh dari tanah Gaza yang hancur. Perdana Menteri Palestina, Mohammed Mustafa, secara resmi mempresentasikan sebuah rencana strategis lima tahun senilai USD65 miliar atau senilai Rp1.076,62 triliun untuk membangun kembali Jalur , wilayah yang telah lama menjadi simbol penderitaan sekaligus perlawanan rakyat .
Rencana ini dipaparkan pada pertemuan bersama perwakilan PBB, diplomat internasional, serta mitra-mitra strategis lainnya di Ramallah, sebagai langkah awal untuk membangun masa depan Gaza yang bermartabat, berdaulat, dan terintegrasi sepenuhnya dengan Tepi Barat dalam satu negara Palestina yang utuh. “Kami memiliki visi yang jelas: Gaza akan pulih, tumbuh, dan menjadi bagian integral dari negara Palestina yang merdeka dan terhubung,” tegas Mustafa.
Tiga Tahap Pemulihan Gaza: Membangun Ulang dengan Martabat
Peta jalan rekonstruksi ini akan dilakukan dalam tiga fase utama, mencakup 18 sektor vital, mulai dari perumahan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, tata kelola pemerintahan, hingga reformasi sistem keamanan sipil. Program ini juga mencakup pembentukan satu pemerintahan Palestina yang bersatu, menghapus jurang perpecahan antara Gaza dan Tepi Barat yang telah berlangsung sejak tahun 2007.
“Rencana ini bukan sekadar membangun kembali bangunan fisik, tetapi juga merekatkan kembali struktur sosial dan politik Palestina,” tambah Mustafa.
Langkah ini mendapat pijakan dari deklarasi KTT Liga Arab di Kairo, Maret 2025, serta didukung oleh kolaborasi nyata dengan Mesir dan Yordania, termasuk dalam pelatihan satuan kepolisian yang akan menjaga keamanan sipil pasca-rekonstruksi. Diskusi teknis juga telah dimulai dengan Uni Eropa, terutama terkait sistem kepabeanan, pengawasan lintas batas, dan mekanisme ekonomi lintas wilayah yang aman dan berkelanjutan.
Uni Eropa sendiri dikenal sebagai salah satu donor terbesar untuk rakyat Palestina, dan dinilai strategis dalam mendukung implementasi penuh dari program ini.
Lebih dari sekadar pembangunan, program ini memiliki tujuan jangka panjang yang lebih besar: mempersatukan kembali Palestina secara politik dan teritorial, serta membentuk kembali landasan kredibel untuk berdirinya negara Palestina yang diakui secara internasional.
Mustafa menekankan bahwa, dalam 12 bulan ke depan, Otoritas Palestina menargetkan untuk bisa kembali menjalankan pemerintahan penuh di Jalur Gaza, sesuatu yang tidak terjadi sejak Hamas mengambil alih wilayah tersebut lebih dari satu dekade lalu.
Di forum terpisah, Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF, menyuarakan dukungannya terhadap langkah ini, dan menyebut bahwa perdamaian yang berkelanjutan di Gaza akan memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi regional, termasuk bagi Mesir, Yordania, Lebanon, dan Suriah, negara-negara yang terimbas langsung oleh ketegangan di Palestina.
“Perdamaian adalah keuntungan bersama. Membangun Gaza adalah kepentingan seluruh kawasan,” ujar Georgieva dalam pertemuan tahunan IMF–Bank Dunia di Washington.
Rencana pemulihan Gaza ini bukan hanya soal pembangunan infrastruktur. Ini adalah simbol tekad rakyat Palestina untuk bangkit dari reruntuhan, menata kembali hidup mereka, dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Di tengah blokade dan agresi yang terus berlanjut, inisiatif ini adalah jawaban penuh harapan bahwa Palestina tidak menyerah, Palestina sedang bangkit.