Perang Israel–Hamas di Gaza genap berlangsung dua tahun pada Selasa, 7 Oktober 2025. Selama dua tahun perang, total korban tewas mencapai 66.600 jiwa. Foto: Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) – Perang Israel–Hamas di Gaza genap berlangsung dua tahun pada Selasa, 7 Oktober 2025. Selama dua tahun aksi brutal Israel, total korban tewas mencapai 66.600 jiwa.
Dalam laporan memperingati dua tahun perang, lembaga pemantau konflik berbasis di AS, ACLED, menyebut Gaza telah mengalami lebih dari 11.110 dan drone, serta sedikitnya 6.250 sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2024.
Korban tewas di Gaza mewakili 14 persen dari total korban konflik di seluruh dunia dalam dua tahun terakhir. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut 1.701 tenaga medis telah tewas selama perang berlangsung.
Sementara itu, pada peringatan dua tahun perang, Israel masih terus melancarkan serangan di Gaza. Dilansir Al Jazeera, drone dan jet tempur menyerang kawasan permukiman Sabra dan Tal al-Hawa di Kota Gaza serta jalan menuju kamp pengungsian Shati di dekatnya.
Sedikitnya 10 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di seluruh Gaza pada Selasa, menurut kantor berita resmi Palestina, Wafa.
Jumlah itu menambah total korban tewas yang kini melebihi 66.600 jiwa sejak perang dimulai. Setidaknya 104 orang telah tewas di Gaza sejak Jumat lalu, hari ketika Trump menyerukan Israel menghentikan kampanye pembomannya.
Reporter Al Jazeera, Hind Khoudary, mengatakan pada Selasa bahwa seorang anak laki-laki ditembak di kepala di Gaza timur, dan sedikitnya enam warga Palestina tewas dalam serangan terpisah di Khan Younis, wilayah selatan Jalur Gaza.
“Semua orang menunggu kesepakatan damai sementara bom terus berjatuhan,” ujarnya dari az-Zuwayda, Gaza tengah. “Pasukan Israel terus menghancurkan seluruh lingkungan tempat tinggal di mana warga Palestina berharap bisa kembali dan membangun hidup mereka,” tambahnya.
Hamas Ingin Jaminan Israel
Di sisi lain, Hamas dan Israel telah menyelesaikan hari kedua negosiasi tidak langsung mengenai proposal Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza. Sementara pejabat tinggi Qatar dan AS menuju ke Mesir untuk bergabung dalam pembicaraan tersebut.
Berbicara di Gedung Putih pada peringatan dua tahun dimulainya perang, Trump mengatakan bahwa ada “peluang nyata” untuk mencapai kesepakatan terkait Gaza, ketika pembicaraan hari Selasa berakhir di resor Sharm el-Sheikh, Mesir.
Namun, hari itu dibuka dengan pernyataan bersama sejumlah faksi Palestina, termasuk Hamas, yang berjanji untuk mengambil sikap perlawanan dengan segala cara, menegaskan bahwa tidak ada yang berhak menyerahkan senjata rakyat Palestina. Hal ini merujuk pada tuntutan utama untuk pelucutan senjata kelompok bersenjata tersebut dalam rencana 20 poin Trump.
Pejabat senior Hamas, Fawzi Barhoum, mengatakan bahwa para negosiator kelompoknya menginginkan diakhirinya perang dan penarikan penuh tentara pendudukan dari Gaza. Namun, rencana Trump tidak jelas mengenai jadwal penarikan pasukan Israel, tanpa memberikan garis waktu spesifik, dan baru akan dilakukan setelah Hamas mengembalikan 48 sandera Israel yang masih ditahan, di mana 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Seorang pejabat senior Hamas yang berbicara kepada Al Jazeera dengan syarat anonim setelah pembicaraan hari Selasa mengatakan bahwa kelompok itu berniat untuk membebaskan para sandera secara bertahap, terkait langsung dengan proses penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Pejabat itu menambahkan, pembicaraan hari Selasa berfokus pada penjadwalan pembebasan sandera Israel serta peta penarikan pasukan Israel, dengan penegasan bahwa pembebasan sandera terakhir harus bertepatan dengan penarikan penuh pasukan Israel.
Adapun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel sedang berada di hari-hari penuh keputusan penting, tanpa secara langsung menyinggung pembicaraan gencatan senjata. Ia menegaskan bahwa Israel akan terus bertindak untuk mencapai seluruh tujuan perang, yakni mengembalikan semua sandera, mengakhiri kekuasaan Hamas, dan memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel.
Meski masih ada perbedaan pandangan, pembicaraan tersebut dianggap sebagai tanda paling menjanjikan sejauh ini menuju akhir perang, dengan Israel dan Hamas sama-sama menyetujui banyak bagian dari rencana Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengatakan bahwa para mediator, yakni Qatar, Mesir, dan Turki, tetap fleksibel dan mengembangkan gagasan baru seiring berjalannya pembicaraan gencatan senjata.
“Kami tidak datang ke meja perundingan dengan gagasan yang sudah tetap. Kami mengembangkan formulasi ini selama pembicaraan berlangsung, dan itu yang sedang terjadi sekarang,” ucapnya.