Presiden AS Donald Trump menandatangani kebijakan baru imigrasi yang bikin perusahaan perekrut pekerja asing terampil gigit jari. Biaya pendaftaran visa H-1B resmi naik menjadi USD100.000 per tahun. Foto: BBC
Trump menyebut selama ini adanya penyalahgunaan program H-1B dan menegaskan visa hanya akan diberikan bila pembayaran dilakukan. Kebijakan ini mulai berlaku 21 September 2025 dan hanya berlaku untuk permohonan baru.
"Perusahaan diwajibkan membayar jumlah tersebut untuk setiap pekerja selama enam tahun, kata Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, dilasir BBC, Sabtu (20/9/2025).
“Perusahaan harus memutuskan apakah orang itu cukup berharga untuk membayar USD100.000 per tahun kepada pemerintah, atau sebaiknya pulang dan mempekerjakan orang Amerika,” lanjut Lutnick.
Visa H-1B adalah visa kerja yang berlaku selama tiga tahun dan dapat diperpanjang untuk tiga tahun berikutnya. Melalui program ini memungkinkan perusahaan di AS mendatangkan pekerja terampil dari luar negeri ke industri tertentu.
Warga India seperti Chauhan mendominasi program tersebut (72%), disusul warga negara Tiongkok (12%). Berasarkan data tahun 2023, mayoritas pemegang visa H-1B bekerja di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika, dimana 65% di antaranya di bidang terkait komputer. Gaji tahunan median mereka mencapai USD118.000.
Para pengkritik sejak lama berpendapat bahwa visa H-1B merugikan tenaga kerja Amerika. Sementara para pendukungnya, termasuk miliarder Elon Musk, menilai program ini memungkinkan AS menarik talenta terbaik dari seluruh dunia.
Sebelumnya, biaya administrasi H-1B hanya sekitar USDD1.500. Data US Citizenship and Immigration Services (USCIS) menunjukkan jumlah aplikasi untuk tahun fiskal berikutnya turun menjadi 359.000, terendah dalam empat tahun. Amazon menjadi penerima manfaat terbesar pada tahun lalu, disusul Tata, Microsoft, Meta, Apple, dan Google.
Tahmina Watson, pengacara imigrasi, menyebut kebijakan ini bisa menjadi “paku terakhir di peti mati” bagi banyak kliennya, khususnya bisnis kecil dan start-up.
“Biaya USD100.000 ini akan berdampak menghancurkan. Banyak perusahaan kecil tidak bisa menemukan pekerja lokal untuk posisi tersebut,” ucapnya.
Jorge Lopez, pakar imigrasi dari Littler Mendelson PC, menilai biaya tinggi itu akan mengerem daya saing Amerika di sektor teknologi dan industri lain. Beberapa perusahaan bahkan mempertimbangkan relokasi ke luar negeri. Sejak 2004, jumlah aplikasi H-1B dibatasi maksimal 85.000 per tahun. India tercatat sebagai negara asal terbesar pemohon visa ini.
Trump sebelumnya berjanji mempermudah perekrutan talenta asing saat berkampanye, bahkan sempat mengusulkan pemberian green card bagi lulusan perguruan tinggi. Namun, pada 2017 ia justru memperketat pemeriksaan aplikasi H-1B, membuat tingkat penolakan melonjak hingga 24% pada 2018.
Kebijakan baru ini kembali memicu perdebatan sengit antara pihak yang menilai H-1B merugikan tenaga kerja lokal dan mereka yang melihatnya sebagai jalan bagi AS untuk tetap kompetitif dalam perebutan talenta global.