Ribuan warga Palestina bergerak menuju Gaza utara, yang beberapa bulan terakhir menjadi sasaran serangan hebat pasukan Israel. Foto: BBC/Anadolu via Getty Images
GAZA, (ERAKINI) - Ribuan warga Palestina memulai perjuangan baru untuk kembali ke rumah usai Israel menarik sebagian pasukannya dari wilayah Gaza sejak Jumat (10/10). Namun, perjalanan mereka tidaklah mudah.
Ribuan warga mencoba kembali ke rumah mereka di Gaza utara dan selatan, meski banyak bangunan telah hancur. Rekaman menunjukkan ribuan warga Palestina bergerak menuju Gaza utara, yang beberapa bulan terakhir menjadi sasaran serangan hebat pasukan Israel.
Warga yang mengungsi mengatakan perjalanan pulang sangat sulit, karena kondisi jalan, kelaparan, dan biaya transportasi yang tinggi.
“Saya meninggalkan keluarga saya dan mulai berjalan ke utara. Ribuan orang di sekitar saya sedang berjuang. Menyewa mobil sekitar 4.000 shekel (USD1.227), jauh di luar kemampuan kebanyakan orang,” ujar Alaa Saleh, salah seorang pengungsi, kepada BBC, dikutip Sabtu (11/10/2025).
“Jalan panjang dan sulit, tidak ada makanan atau air,” tambah guru yang sebelumnya melarikan diri dari Kota Gaza bersama istri dan enam anaknya ke Khan Younis di selatan.
Sementara Wael Al-Najjar, yang menuju rumahnya di Jabalia di utara, mengatakan ia tidur di trotoar yang dingin bersama anaknya menunggu kesempatan untuk memulai perjalanan pulang. “Meski rumah hancur, meski hanya puing, kami akan kembali, mendirikan tenda, dan kembali ke komunitas kami,” ucapnya
Menurut Mahmud Bassal, juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, sekitar 200.000 warga telah kembali ke Gaza utara pada Jumat. Di sisi lain, tim pertahanan sipil terus mengevakuasi jenazah dari reruntuhan, sementara lembaga bantuan memperingatkan bahwa pasokan makanan, air bersih, dan bahan bakar masih sangat langka.
Israel Masih Kuasai Setengah Jalur Gaza
Militer Israel menyatakan telah menarik sebagian pasukannya dari beberapa wilayah Gaza setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Jumat pagi. Meski demikian, tentara Israe masih menguasai setengah Jalur Gaza.
Gencatan senjata ini dimulai setelah pemerintah Israel menyetujui fase pertama kesepakatan yang dimediasi Presiden AS Donald Trump pada Kamis, yang mencakup pengembalian sandera. Fase-fase berikutnya masih dalam proses negosiasi.
Berdasarkan kesepakatan, Hamas memiliki waktu hingga Senin pukul 12.00 waktu setempat untuk membebaskan semua sandera Israel, termasuk 20 yang diyakini masih hidup dan jenazah hingga 28 sandera yang meninggal.
Israel juga akan membebaskan sekitar 250 tahanan Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup, dengan sebagian dibebaskan ke Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Sekitar 1.700 warga Palestina lain yang ditahan di Gaza juga akan dibebaskan.
Kesepakatan ini juga memungkinkan truk bantuan masuk ke Gaza tanpa hambatan. Sekitar 600 truk bantuan diperkirakan akan masuk setiap hari, meski detail distribusi masih belum jelas.
Sebelumnya, PBB menyatakan lebih dari 500.000 warga Gaza menghadapi kondisi kelaparan dan krisis akibat perang dua tahun terakhir, meski Israel membantah adanya kelaparan di wilayah itu.
Di Israel, keluarga sandera menyambut baik kabar gencatan senjata, meski Hamas mengakui belum mengetahui keberadaan semua jenazah sandera yang meninggal.