Warga di seluruh Jepang rela menerobos salju untuk memberikan suara dalam pemilu dadakan yang digelar Perdana Menteri Sanae Takaichi, Minggu (8/2/2026). Foto: Getty Images via BBC
JAKARTA, (ERAKINI) – Warga di seluruh Jepang rela menerobos salju untuk memberikan suara dalam pemilu dadakan yang digelar Perdana Menteri Sanae Takaichi, Minggu (8/2/2026). Ini merupakan pemilu pertama yang digelar di tengah musim dingin dalam 36 tahun terakhir di .
Dilansir BBC, biasanya pemungutan suara digelar saat cuaca lebih bersahabat. Namun, Takaichi memutuskan memanggil pemilu lebih awal untuk mencari mandat publik tak lama setelah memenangkan pemilihan ketua partai.
Sejumlah wilayah, termasuk Prefektur Niigata di Jepang bagian tengah, melaporkan hujan salju lebat pada Minggu (8/2). Kementerian Perhubungan Jepang menyatakan 37 jalur kereta dan 58 rute feri ditutup, serta 54 penerbangan dibatalkan hingga Minggu pagi. Salju juga turun secara tidak biasa di Tokyo saat warga berangkat ke tempat pemungutan suara.
Jajak pendapat menunjukkan koalisi Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi dengan Partai Inovasi Jepang yang berhaluan populis berpotensi meraih hingga 300 dari total 465 kursi di Majelis Rendah.
Hasil ini menjadi titik balik bagi LDP, yang sebelumnya kehilangan mitra koalisi lama serta mayoritas parlemen akibat skandal korupsi dan melonjaknya biaya hidup. Setelah dua perdana menteri dari LDP mengundurkan diri karena tingkat kepuasan publik anjlok, Takaichi muncul sebagai figur populer di mata pemilih.
Ia berhasil menarik dukungan publik dengan janji pemotongan pajak dan pemberian subsidi. Namun, para pengkritik meragukan apakah komitmennya untuk meningkatkan belanja negara akan membantu perekonomian Jepang yang lesu, mengingat utang pemerintah Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara maju.
Pengamat menilai popularitas pribadi Takaichi dapat mendongkrak perolehan suara LDP dalam pemilu ini. Namun, cuaca bersalju berpotensi mengganggu tingkat partisipasi pemilih, terutama di wilayah utara dan timur Jepang.
Jumlah pemilih dalam pemungutan suara awal kali ini, yang dilaporkan hampir mencapai 4,6 juta orang, turun 2,5 persen dibandingkan pemilu terakhir pada 2024. Penurunan tersebut dikaitkan dengan faktor cuaca.
Sebagai pengagum mantan pemimpin Inggris Margaret Thatcher, Takaichi sejak lama bercita-cita menjadi “Iron Lady” Jepang. Dikenal sebagai sekutu dekat mendiang mantan PM Shinzo Abe, ia mengusung pandangan serupa, termasuk kebijakan pertahanan yang kuat dan nasionalisme.
Meski memiliki pandangan tradisional soal gender dan keluarga, jajak pendapat menunjukkan Takaichi justru sangat populer di kalangan pemilih muda berusia 18 hingga 30 tahun. Tingkat persetujuan terhadap pemerintahannya sebagian besar berada di atas 70 persen sejak ia pertama kali menjabat pada Oktober lalu.
Ia juga memiliki basis pengikut kuat di media sosial, dengan 2,6 juta pengikut di X. Video kampanye LDP yang menampilkan dirinya ditonton lebih dari 100 juta kali dalam waktu kurang dari 10 hari.
Perempuan berusia 64 tahun itu bahkan menjadi ikon fesyen yang tak terduga, seiring maraknya fenomena “sanakatsu” — yang kira-kira berarti “Sanae-mania”. Tas jinjing kulit hitam yang kerap ia bawa dilaporkan ludes terjual, sementara pulpen berwarna merah muda yang ia gunakan dalam konferensi pers pertamanya menjadi viral.
Sosiolog Universitas Tokyo, Yuiko Fujita, menilai antusiasme ini berlatar pada politik Jepang yang secara tradisional didominasi oleh pria lanjut usia.
“Fakta bahwa perdana menteri kini seorang perempuan, dengan latar belakang yang berbeda dari kebiasaan masyarakat, menciptakan perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang berubah,” ujarnya kepada Nikkei Asia.
Namun, sebagian pihak belum yakin popularitas tersebut akan berujung pada perolehan suara.
“Ini bukan pemilu presiden, melainkan pemilu parlemen, di mana kandidat LDP sebagian besar adalah laki-laki yang ternodai skandal masa lalu,” kata profesor ilmu politik Universitas Sophia, Koichi Nakano, kepada BBC.
Sejak 2023, LDP terseret skandal penggalangan dana yang berujung pada pengunduran diri empat menteri kabinet dan penyelidikan korupsi.
Pemilu dadakan ini menjadi pertaruhan bagi Takaichi karena partainya kini menghadapi oposisi yang lebih solid. Mantan mitra koalisi lama LDP, Komeito, telah bergabung dengan Partai Demokrat Konstitusional Jepang untuk membentuk blok oposisi terbesar di Majelis Rendah.
Tantangan besar lainnya bagi LDP adalah meyakinkan pemilih bahwa kebijakan belanja besar-besaran tidak akan memperburuk rapuhnya kondisi keuangan Jepang.
Paket kebijakan pemerintah memang dapat memberi bantuan jangka pendek bagi rumah tangga, tetapi “gagal menyentuh persoalan mendasar berupa produktivitas yang lemah dan stagnasi upah riil,” tulis Masahiko Takeda, peneliti senior bidang Asia di Australian National University, dalam artikelnya pekan ini.
Selain itu, Takaichi dinilai telah menjerumuskan dirinya ke dalam “masalah besar dalam kebijakan luar negeri dan keamanan dengan memusuhi China,” ujar Nakano.
Takaichi memicu kemarahan Beijing, mitra dagang terbesar Tokyo, akhir tahun lalu setelah menyatakan Jepang dapat merespons dengan pasukan bela diri sendiri jika China menyerang Taiwan.
Ketegangan tersebut membawa hubungan kedua negara, yang memang secara historis tidak mudah, ke titik terendah dalam lebih dari satu dekade.
Di sisi lain, Takaichi juga berupaya mempererat hubungan dengan Presiden AS Donald Trump, seiring Tokyo mencari stabilitas lebih besar dalam relasinya dengan Washington, sekutu terdekatnya. Pada Jumat lalu, Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Takaichi—sebuah langkah langka dari seorang pemimpin Amerika Serikat.