Orang-orang menghadiri acara peringatan dan protes untuk Palestina di luar Universitas Columbia pada 7 Oktober 2025 di New York City. (Foto: AFP).
LONDON, (ERAKINI) – Gelombang solidaritas global terhadap Palestina kembali menggema pada Selasa (7/10/2025), tepat dua tahun sejak peristiwa serangan 7 Oktober 2023. Ribuan orang turun ke jalan di berbagai belahan dunia untuk mengecam agresi militer Israel di Jalur dan menyuarakan keadilan bagi rakyat yang telah lama hidup di bawah penjajahan dan blokade.
Aksi solidaritas berlangsung di sejumlah kota besar, seperti Sydney, Istanbul, London, Washington DC, Paris, New York, Stockholm, Athena, dan Jenewa. Massa menyampaikan protes damai seraya membawa poster dan spanduk bertuliskan pesan-pesan perlawanan, seperti “Gaza Berdarah” dan “Tangan Amerika dan Israel Berlumuran Darah.”
Para demonstran menyerukan diakhirinya kekerasan militer Israel yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa di Gaza, serta menuntut pertanggungjawaban atas kehancuran sistematis yang terjadi selama dua tahun terakhir.
Rakyat Palestina Hadapi Kehancuran, Dunia Tuntut Gencatan Senjata Nyata
Sejak serangan militer Israel dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 67.000 warga Palestina dilaporkan tewas, sementara ribuan lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Jalur Gaza kini berada di ambang kehancuran total, dengan sebagian besar wilayah hancur, akses pangan tertutup, dan masyarakat hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan.
Meskipun diplomasi terus diupayakan, termasuk melalui perundingan tak langsung di Mesir, gencatan senjata yang berkelanjutan belum terwujud. Negara-negara Barat pun mulai menunjukkan perubahan sikap, dari yang semula mendukung penuh Israel, kini mulai mengakui Negara Palestina sebagai bentuk tekanan terhadap kebijakan brutal Tel Aviv.
Di London, ratusan pengunjuk rasa memadati area sekitar King's College sambil mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan “Israel Adalah Negara Teroris.” Beberapa simpatisan Israel terlihat hadir dalam jumlah kecil, namun suasana aksi tetap terkendali.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menuai kritik luas setelah menyebut bahwa unjuk rasa pada tanggal 7 Oktober “tidak mencerminkan nilai-nilai Inggris.” Pernyataannya dipandang menekan suara solidaritas terhadap Palestina dan dinilai membatasi kebebasan berekspresi.
Seorang peserta aksi, Mark Etkind—putra penyintas Holocaust dari London—menyebut pernyataan Starmer sebagai “menyesatkan dan tidak berperikemanusiaan.” Ia menyatakan, “Sebagai keturunan korban genosida, saya berdiri bersama rakyat Palestina yang hari ini juga menghadapi genosida yang sama.”
Di New York City, aksi solidaritas dipimpin komunitas Muslim yang menggelar doa bersama di depan Trump Hotel. Di tempat lain, ribuan warga Yahudi progresif berkumpul di Central Park membentuk lingkaran solidaritas dan menyerukan pembebasan sandera serta gencatan senjata permanen.
Sejumlah pakar hak asasi manusia, akademisi, dan tim investigasi independen dari PBB telah menyampaikan bahwa tindakan Israel di Gaza memenuhi unsur genosida, dengan pola kekerasan yang sistematis, penghancuran infrastruktur sipil, dan pemblokadean bantuan kemanusiaan.
Meski Israel berdalih bahwa tindakannya adalah upaya membela diri, banyak pihak menilai bahwa penggunaan kekuatan berlebihan serta sanksi kolektif terhadap penduduk sipil tidak dapat dibenarkan secara moral maupun hukum internasional.
Sementara aksi damai pro-Palestina kerap dikecam atau dibatasi, sejumlah negara masih memperbolehkan kegiatan pro-Israel berlangsung leluasa. Di Amsterdam, aktivis pro-Palestina menyemprotkan cat merah ke Istana Kerajaan sebagai simbol peringatan atas pembungkaman suara solidaritas. Larangan terhadap demonstrasi Palestina oleh wali kota setempat memicu kemarahan publik.
Di Amerika Serikat, meskipun polisi memperketat pengamanan tempat ibadah dan institusi budaya, tidak ditemukan ancaman nyata yang signifikan. Namun, suasana ketegangan tetap terasa seiring meningkatnya kasus Islamofobia dan antisemitisme secara global.
Serangkaian insiden kekerasan menjadi bukti meningkatnya polarisasi, termasuk penyerangan terhadap sinagoge di Manchester yang menewaskan dua orang, serta penembakan staf Kedutaan Israel di Washington. Sebaliknya, kekerasan terhadap warga Palestina juga terus terjadi, seperti penusukan seorang anak Palestina berusia enam tahun di Illinois dan upaya pembunuhan terhadap seorang balita Palestina di Texas oleh pelaku rasis.
Peringatan dua tahun peristiwa 7 Oktober menjadi momentum refleksi global. Jika sebelumnya simpati dunia banyak mengarah pada Israel, kini narasi perlahan berubah: dunia melihat bahwa rakyat Palestina telah menjadi korban utama dari penjajahan, blokade, dan agresi militer yang berkepanjangan.
Aksi-aksi solidaritas ini bukan hanya ekspresi kemarahan, tetapi bentuk nyata dari desakan moral dan politik untuk mengakhiri penjajahan, menuntut keadilan bagi korban, dan mendorong pengakuan penuh terhadap hak rakyat Palestina untuk merdeka dan hidup bermartabat di tanah mereka sendiri.