Toko Brand Mewah Gucci hingga Versace Jadi Sasaran Perusakan Massa, Paris Porak-poranda
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Gelombang demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar, dan memburuknya layanan publik di Prancis berujung kerusuhan dan penjarahan di sejumlah kota. Sedikitnya 1.800 orang ditangkap setelah sekitar 550.000 demonstran turun ke jalan pada Sabtu (17/10/2026).
Paris menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah. Sehari setelah demonstrasi, Minggu (18/10/2026) jalanan ibu kota Prancis dipenuhi pecahan kaca, puing-puing, sepeda hangus, dan bangkai mobil yang terbakar.
Sejumlah toko dijarah, sementara fasad pertokoan rusak akibat aksi vandalisme. Toko-toko brand mewah dunia, mulai dari Gucci, Versace hingga Ralph Lauren, turut menjadi sasaran perusakan.
BBC melaporkan, sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (17/10/2026). Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, kelompok perusuh memanfaatkan situasi untuk merusak bangunan, membakar kendaraan, dan menjarah pertokoan.
Polisi menangkap sekitar 1.800 orang dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Perdana Menteri Sébastien Lecornu juga melaporkan sekitar 150 personel kepolisian terluka.
Di Paris, kerusakan terlihat pada bagian depan sejumlah toko mewah, termasuk gerai Ralph Lauren, Gucci, dan Versace. Pecahan kaca berserakan di trotoar, dan pekerja mulai membersihkan sisa-sisa kerusakan pada Minggu pagi.
Sejumlah laporan media juga menyebut gerai Hermès, Louis Vuitton, dan Rolex menjadi sasaran penjarahan di kota-kota lain di Prancis. Di Bordeaux, toko Louis Vuitton dilaporkan turut menjadi sasaran, sedangkan di Marseille penjarahan dilaporkan menyasar sejumlah gerai kelas atas.
Di Paris, coretan bernada perlawanan terhadap kelompok kaya turut menghiasi sejumlah bangunan. Di antaranya tulisan “tax the rich” dan “eat the rich”, yang mencerminkan sentimen antikemewahan di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Namun, tidak semua aksi perusakan tersebut dapat dikaitkan langsung dengan tuntutan demonstran. Seorang pemilik toko pakaian di dekat Place de la République mengatakan kepada BBC bahwa tokonya dijarah selama lebih dari satu setengah jam. Berdasarkan rekaman kamera pengawas, ia menilai para pelaku memanfaatkan demonstrasi untuk melakukan penjarahan, bukan memperjuangkan tuntutan terkait biaya hidup maupun kondisi sekolah.
Kerusuhan juga meluas ke Marseille dan Lille. Di Marseille, massa menerobos gedung balai kota menggunakan pagar logam sebagai pendobrak. Di Lille, sebuah gerai McDonald's dibakar dan toko Apple dijarah.
Sementara itu, kebakaran melanda kantor pariwisata Lyon dan balai kota Limoges. Di Limoges, api menyebabkan sebagian bangunan berusia 143 tahun itu runtuh, dengan pejabat setempat menyatakan sebagian besar bangunan tidak dapat diselamatkan.
Gelombang protes yang semula berpusat pada tuntutan perbaikan pendidikan kini dibayangi kerusakan dan kerugian ekonomi. Penjarahan toko-toko mewah menjadi salah satu gambaran paling mencolok dari kerusuhan tersebut, ketika kemarahan sosial berkelindan dengan tindakan kriminal yang merugikan pemilik usaha dan masyarakat.


















