Pemerintah Prancis Tuding Kelompok Sayap Kiri Radikal Dalang di Balik Penjarahan Brutal, 1.800 Orang Ditangkap
Thomas Pulungan
PARIS, (ERAKINI) - Pemerintah Prancis menuding kelompok sayap kiri radikal sebagai dalang di balik aksi kerusuhan dan penjarahan brutal saat aksi demonstrasi mahasiswa berlangsung pada Sabtu (17/10/2026). Presiden Prancis Emmanuel Macron memastikan akan menindak tegas semua pihak yang terlibat
“Tidak ada tempat bagi kekerasan di republik kita. Mereka yang terlibat dalam aksi vandalisme, menyerang kantor prefektur dan pertokoan, serta melakukan penjarahan, termasuk di gedung balai kota, akan dibawa ke pengadilan dan dijatuhi hukuman,” tegas Macron melalui media sosial X.
Macron menegaskan, tindakan massa yang berpikiran radikal telah menghalangi para demonstran damai untuk menyampaikan tuntutan mereka. Ia juga menyatakan dukungan kepada aparat penegak hukum yang disebutnya sebagai penjamin hak warga negara untuk menggelar demonstrasi.
Polisi telah menangkap sedikitnya 1.800 orang di berbagai wilayah Prancis setelah kelompok-kelompok massa terlibat bentrokan dengan aparat dan menjarah toko-toko.
Otoritas setempat mengatakan, kelompok-kelompok bermasker pada membakar sejumlah bangunan dan menyerang fasilitas publik, termasuk balai kota, di beberapa kota.
Di Limoges, sebuah kota di Prancis tengah, api melalap balai kota yang berasal dari abad ke-19 hingga menyebabkan atap bangunan tersebut ambruk. Prefek Haute-Vienne, Maurice Barate, mengatakan kepada stasiun televisi LCI bahwa kebakaran itu sengaja dilakukan dan hampir menghancurkan seluruh bangunan. Api berhasil dikendalikan pada Minggu.
“Hak untuk berdemonstrasi merupakan hak fundamental. Namun, secara sengaja dan bersama-sama menebar kekacauan melalui kekerasan bukanlah hak,” tulis Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez di platform X, dilansir AP.
Nuñez menyoroti penjarahan terhadap ratusan tempat usaha di Paris, Marseille, Lyon, Bordeaux, Rennes, Strasbourg, Grenoble, Nice, Limoges, dan sejumlah kota lainnya.
Nuñez dan Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengaitkan sebagian aksi kekerasan dengan kelompok sayap kiri radikal. Kelompok lain kemudian bergabung untuk melakukan penjarahan.
Polisi Paris pada Minggu mengatakan, sebanyak 855 orang ditangkap hanya di wilayah ibu kota Prancis dan sekitarnya.
Menurut data otoritas, sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di seluruh Prancis. Sementara itu, penyelenggara memperkirakan jumlah peserta mencapai sekitar 800.000 orang.

















