Search

Pentagon Akui Serangan Iran Masih Tembus, Menhan AS: Kita Tak Bisa Hentikan Semuanya

WASHINGTON (ERAKINI) - Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth pada Rabu (4/3/2026) mengakui bahwa tidak seluruh serangan Iran berhasil dicegat, meskipun ia menegaskan bahwa militer Amerika Serikat telah menguasai ruang udara Iran dalam waktu singkat.

Dalam keterangannya di Pentagon, Hegseth menyatakan bahwa Washington telah mengerahkan kemampuan maksimal untuk memperkuat sistem pertahanan udara demi melindungi personel AS dan sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran dalam konflik yang kini meluas di berbagai titik kawasan.

“Ini tidak berarti kita dapat menghentikan semuanya, tetapi kami memastikan bahwa pertahanan maksimal dan perlindungan pasukan maksimal telah disiapkan sebelum kami melakukan serangan,” ujar Hegseth kepada wartawan.

Pernyataan tersebut menjadi pengakuan terbuka bahwa serangan drone maupun rudal tambahan dari Iran masih berpotensi menimbulkan dampak dan korban di pihak Amerika. Sebelumnya, Presiden Donald Trump dan para pejabat pertahanan telah memberi sinyal bahwa konflik ini kemungkinan akan memakan korban lebih lanjut serta berlangsung dalam jangka waktu yang tidak singkat.

Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, dalam kesempatan yang sama menegaskan situasi genting tersebut. “Anggota militer AS masih berada dalam bahaya, dan kita harus menyadari bahwa risikonya masih tinggi,” katanya.

Serangan Mematikan di Kuwait

Ketegangan meningkat setelah enam prajurit Amerika tewas akibat serangan pesawat nirawak Iran pada Minggu lalu. Serangan itu menghantam pusat operasi di kawasan pelabuhan sipil di Kuwait, beberapa kilometer dari pangkalan utama Angkatan Darat AS.

Menurut keterangan keluarga salah satu korban, anggota unit logistik yang berbasis di Iowa, bangunan yang menjadi sasaran berupa struktur menyerupai kontainer pengiriman dan disebut tidak dilengkapi sistem pertahanan memadai.

Hegseth juga membuka kemungkinan bahwa perang dapat berlangsung lebih lama dari proyeksi awal pemerintahan Trump. Ia menyebut konflik bisa berjalan hingga delapan pekan, bahkan lebih, meskipun ia enggan menetapkan tenggat waktu pasti.

“Anda bisa mengatakan empat minggu, tetapi bisa enam, bisa delapan, bisa tiga,” ucapnya. “Pada akhirnya, kita yang menentukan kecepatan dan tempo. Musuh kehilangan keseimbangan, dan kita akan terus membuat mereka kehilangan keseimbangan.”

Ia menambahkan bahwa pengiriman tambahan pasukan terus dilakukan, termasuk pengerahan jet tempur dan pesawat pembom. Amerika Serikat, tegasnya, siap mengalokasikan waktu yang diperlukan demi memastikan keberhasilan operasi.

Sementara itu, Teheran menyatakan tekad untuk melumpuhkan infrastruktur militer dan ekonomi di kawasan Timur Tengah, menandakan bahwa konflik masih jauh dari mereda dan berpotensi meluas.

Presiden Trump sendiri sebelumnya menyebut operasi militer kemungkinan berlangsung sekitar empat hingga lima pekan. Namun, ia juga menegaskan kesiapan untuk menghadapi skenario yang lebih panjang. “Siap untuk berlangsung jauh lebih lama dari itu,” ujarnya.

Dengan eskalasi yang terus meningkat dan ancaman serangan balasan yang belum mereda, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang konflik berkepanjangan yang dampaknya dapat meluas melampaui batas wilayah perang saat ini.