Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyaksikan Presiden AS Donald Trump berbicara kepada para wartawan dalam konferensi pers bersama di kediaman Trump, Mar-a-Lago, di Palm Beach, Florida. (Foto: AFP).
WASHINGTON, (ERAKINI) – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memunculkan babak baru yang menghebohkan. Sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa Israel telah membagikan informasi intelijen kepada Washington mengenai dugaan rencana baru dan lebih spesifik dari Iran untuk membunuh Presiden AS, .
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap potensi pecahnya kembali konflik terbuka antara Washington dan Teheran setelah serangkaian serangan militer terbaru yang melibatkan kedua negara.
Menurut laporan yang mengutip sejumlah sumber anonim yang memahami persoalan tersebut, badan intelijen Amerika selama ini memang terus memantau berbagai informasi terkait kemungkinan ancaman terhadap Trump. Namun, peringatan yang disampaikan Israel kali ini disebut memiliki karakter berbeda karena mengarah pada dugaan rencana yang lebih rinci dan teridentifikasi.
Washington disebut telah menerima "aliran informasi intelijen yang terus-menerus" mengenai potensi ancaman terhadap Trump. Namun, laporan terbaru dari Israel disebut sebagai informasi baru yang berkaitan dengan sebuah skenario serangan yang lebih spesifik.
Laporan serupa juga dimuat oleh The Wall Street Journal, yang menyebut intelijen tersebut mengindikasikan adanya dugaan plot baru yang sedang menjadi perhatian serius aparat keamanan Amerika.
Ancaman terhadap Trump bukanlah isu baru dalam hubungan panas antara AS dan Iran. Pemerintah Iran selama bertahun-tahun secara terbuka menyatakan keinginannya untuk membalas kematian Qassem Soleimani, komandan militer Iran yang tewas dalam serangan drone AS atas perintah Trump pada Januari 2020 saat masa jabatan pertamanya.
Ketika dimintai tanggapan terkait laporan tersebut, pihak Gedung Putih tidak memberikan komentar rinci. Seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya hanya merujuk pada pernyataan Trump yang disampaikan sehari sebelumnya. "Mereka ingin melenyapkan pemimpin AS — yaitu saya. Saya masuk dalam daftar apa pun. Tadi pagi saya melihat nama saya ada di setiap daftar mereka," ujar Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One saat perjalanan pulang dari Konferensi Tingkat Tinggi NATO.
Pernyataan itu semakin menarik perhatian setelah muncul informasi mengenai langkah pengamanan yang tidak biasa selama perjalanan kepulangan Trump dari Turki.
Presiden AS tersebut diketahui meninggalkan Turki menggunakan pesawat Air Force One lama, sementara pesawat kepresidenan barunya yang merupakan hadiah dari Qatar diterbangkan lebih dahulu menuju Inggris. Trump kemudian berganti pesawat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Washington.
Keputusan tersebut memicu berbagai spekulasi, terutama karena pesawat baru itu tengah menjalani perjalanan internasional pertamanya. Sejumlah pengamat menduga pergantian pesawat berkaitan dengan faktor keamanan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran, yang secara geografis berada relatif dekat dengan wilayah Turki.
Laporan The New York Times menyebut pergantian pesawat dilakukan atas rekomendasi dan permintaan United States Secret Service sebagai langkah antisipasi keamanan.
Meski demikian, dalam konferensi pers terpisah, Trump tidak memberikan jawaban langsung mengenai tingkat ancaman yang dihadapinya. Ia hanya kembali menyinggung berbagai dugaan upaya yang disebut berasal dari Iran untuk mengancam keselamatannya.
Hingga kini belum ada bukti publik yang dapat mengonfirmasi keberadaan rencana pembunuhan tersebut. Pemerintah Iran juga belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan yang beredar di media Amerika.