Memanas! AS Hantam 90 Target Iran, Trump Ancaman Bakal Beri Dampak yang Jauh Lebih Parah
Akhmad Baihaqi Arsyad
TEHERAN, (ERAKINI) - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki babak yang semakin berbahaya. Militer AS melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah strategis Iran, sementara Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pada Kamis pagi bahwa operasi militer terbaru mereka telah selesai dilaksanakan. Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut pasukan AS menyerang sekitar 90 sasaran militer Iran yang tersebar di sejumlah lokasi penting.
Target yang dihantam meliputi sistem pertahanan udara, fasilitas pemantauan pesisir, gudang penyimpanan rudal dan drone, aset angkatan laut, hingga jaringan logistik militer yang berada di sepanjang garis pantai Iran.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Trump mengklaim bahwa Iran telah membuka jalur komunikasi dengan Washington dan menunjukkan keinginan untuk mencari jalan damai. “Iran telah menghubungi kami dan mereka ingin membuat kesepakatan,” ujar Trump.
Sementara itu, jurnalis Axios, Barak Ravid, melaporkan bahwa militer AS juga menggunakan rudal jelajah untuk menghancurkan dua jembatan rel kereta api di wilayah utara Iran pada Rabu. Serangan tersebut menjadi yang pertama menyasar infrastruktur sipil Iran sejak gencatan senjata yang diberlakukan pada 8 April lalu.
Akibat serangan itu, jalur kereta yang menghubungkan Teheran dengan Mashhad terpaksa dihentikan. Penghentian layanan terjadi hanya beberapa jam sebelum prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dijadwalkan berlangsung di kota suci tersebut.
Perusahaan Kereta Api Republik Islam Iran mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai “serangan kriminal oleh musuh AS-Israel.” Otoritas perkeretaapian menyatakan tim perbaikan telah diterjunkan ke lokasi, sementara moda transportasi darat disiapkan untuk melayani penumpang yang terdampak.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa serangan udara AS yang berlangsung selama dua hari telah menyebabkan sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya mengalami luka-luka.
CENTCOM juga mengungkap bahwa pada 7 Juli lalu, militer AS telah menggempur sekitar 80 target militer Iran, termasuk lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam. Operasi tersebut disebut sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran setelah tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz menjadi sasaran serangan.
Pihak militer AS menegaskan bahwa operasi terbaru bertujuan menjaga keterbukaan Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia. Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara yang sempat menjadi harapan untuk mengakhiri konflik dengan Iran kini telah berakhir.
Presiden AS itu kemudian memerintahkan operasi militer baru dan memperingatkan Iran agar tidak kembali menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. “Ini adalah balasan atas pengeboman kapal yang dilakukan Iran kemarin,” tulis Trump melalui Truth Social. “Jika hal itu terjadi lagi, dampaknya akan jauh lebih parah!”
Media pemerintah Iran melaporkan rentetan ledakan di sejumlah wilayah pesisir selatan setelah pengumuman serangan terbaru dari CENTCOM. Suara jet tempur terdengar di atas Pulau Kish, sementara ledakan mengguncang kota pelabuhan Bandar Abbas, Konarak, Chabahar, hingga Sirik. Beberapa kawasan bahkan dilaporkan mengalami gangguan listrik.
Skala operasi kali ini disebut lebih besar dibandingkan serangan-serangan sebelumnya. Sirene peringatan bahkan sempat berbunyi sedikitnya dua kali di Bahrain, lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat.
Menurut pejabat militer AS, tujuan utama operasi tersebut adalah untuk “semakin melemahkan” kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Jalur strategis itu selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia.
Selain wilayah pesisir, ledakan juga dilaporkan terjadi di Bushehr yang menjadi lokasi kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Serangan turut menghantam sejumlah kota pelabuhan lain di selatan negara itu. Di Iranshahr, sebuah serangan dilaporkan menewaskan seorang petugas pemadam kebakaran yang sedang bertugas di area bandara.
Untuk pertama kalinya sejak April, serangan AS juga dilaporkan menyasar infrastruktur jembatan. Media Iran menyebut sebuah jembatan rel kereta di Provinsi Golestan menjadi target serangan. Garda Revolusi Iran menyatakan dua jembatan pada jalur menuju Mashhad turut dihantam, meski belum ada kepastian apakah keduanya merupakan lokasi yang sama.
Meski mengakui meningkatnya ketegangan, Trump menegaskan bahwa operasi militer tersebut tidak dimaksudkan menjadi konflik berkepanjangan. “Apa pun yang terjadi akan berlangsung sangat cepat,” kata Trump.
Namun, ia juga memberi sinyal bahwa Washington mungkin akan melanjutkan operasi hingga seluruh target strategis dianggap telah diselesaikan. Trump bahkan kembali mengungkap ancaman lama terhadap sejumlah infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik, fasilitas desalinasi air, dan Pulau Kharg yang merupakan pusat utama produksi minyak negara tersebut.
Ketegangan terbaru bermula setelah tiga kapal tanker diserang pada Selasa. Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan balasan ke Iran, yang dibalas Teheran dengan menyerang sejumlah lokasi militer AS di kawasan Teluk Arab.
Meski demikian, Iran tetap bersikeras bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara memberi hak kepada mereka untuk mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, sebuah klaim yang terus menjadi sumber perselisihan dengan Washington dan sekutunya.


















