Brigjen Katamso termasuk salah satu petinggi TNI AD yang menjadi sasaran G30S di Yogyakarta. Ironisnya, ia diculik dan dibunuh oleh anak buahnya sendiri. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Brigjen Katamso Darmokusumo termasuk salah satu petinggi TNI AD yang menjadi sasaran Gerakan 30 September (G30S PKI) di Yogyakarta. Ironisnya, ia diculik dan dibunuh oleh anak buahnya sendiri.
Pada saat gugur pada tahun 1965, Katamso menjabat sebagai Komandan Korem 072 Yogyakarta dan berpangkat kolonel. Kemudian pangkatnya dinaikkan satu tingkat secara anumerta menjadi brigadir jenderal (brigjen).
Katamso lahir pada tanggal 5 Februari 1923 di Sragen, Jawa Tengah. Ia mendapatkan pendidikan militer bersama Pembela Tanah Air (PETA) dan mendapatkan pangkat Shodanco. Setelah Jepang hengkang dari Indonesia, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Selama masa agresi militer Belanda, Katamso menjadi salah satu perwira yang memimpin pasukan melawan Belanda.
Tahun 1946 saat menjadi Kapten, ia terlibat dalam usaha penumpasan pemberontakan DI/TII. Tahun 1957, Katamso mengikuti pendidikan Seskoad di Bandung. Setelah selesai pendidikan ia dipercaya memimpin Batalyon A Operasi 17 Agustus untuk memadamkan pemberontakan PRRI.
Selesai operasi utama, Katamso kembali diangkat sebagai Asisten Operasi Resimen Team Pertempuran II Diponegoro di Bukit Tinggi. Tahun 1959 ia diangkat menjadi Letnan Kolonel dan Agustus 1959 diangkat menjadi Kepala Staf Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus.
Ia selanjutnya diangkat menjadi pejabat Kepala Staf Resimen Team Tempur I/Tegas yang berada di Riau. Katamso lalu ditarik ke Jakarta untuk diperbantukan pada Asisten III Kepala Staf Angkatan Darat, kemudian sebagai Komandan Pusat Pendidikan dan Infantri SD di Bandung.
Namanya benar-benar bersinar ketika ia terlibat dalam upaya pembebasan Irian Barat, yang pada saat itu masih dikenal sebagai Irian Jaya. Operasi Militer Pembebasan Irian Barat, yang berlangsung pada tahun 1961 hingga 1962, menjadi sebuah episentrum perjuangan dan keberanian bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia.
Irian Barat, yang masih menjadi bagian dari Belanda setelah proklamasi kemerdekaan, menjadi target utama bagi Pemerintah Indonesia yang bertekad untuk menyatukan seluruh wilayah nusantara di bawah satu bendera.
Brigjen Katamso Darmokusumo memimpin dengan kepemimpinan yang kuat selama operasi tersebut. Keberanian dan keuletannya dalam menghadapi pasukan Belanda menjadikan nama Katamso dikenang sebagai salah satu arsitek keberhasilan pembebasan Irian Barat.
Keberhasilan operasi ini bukan hanya sekadar kemenangan militer, tetapi juga menunjukkan tekad dan semangat bangsa Indonesia untuk meraih kedaulatan penuh atas wilayahnya.
Salah satu taktik yang diterapkan oleh Katamso dalam operasi ini adalah memanfaatkan kekuatan pasukan yang tangguh dan strategi gerilya. Ia memahami bahwa medan yang sulit dan kondisi geografis Irian Barat memerlukan pendekatan yang cermat dan efektif. Kepemimpinan taktisnya membawa kesatuan pasukan Indonesia melalui hutan belantara dan pegunungan, mengatasi tantangan yang sulit sepanjang perjalanan.
Selain itu, diplomasi juga menjadi bagian penting dari strategi Katamso. Meskipun menggunakan kekuatan militer, ia juga berusaha membuka jalur negosiasi dengan pihak Belanda untuk mencapai solusi damai. Inisiatif ini menunjukkan kebijakan diplomatik yang bijaksana untuk mengakhiri konflik tanpa harus mengorbankan lebih banyak nyawa.
Pada Agustus 1963 Katamso ditarik ke Kodam VII Diponegoro, dan 4 bulan kemudian dilantik sebagai Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro di Yogyakarta. Katamso sempat berencana membangun gedung baru untuk sekolah dan melatih kemiliteran bagi mahasiswa. Namun, rencananya gagal menyusul meletusnya G30S PKI.
Pada saat terjadi pemberontakan G30S, Kolonel Katamso Darmokusumo menjabat sebagai Danrem 072 Yogyakarta. Mengutip Ensiklopedia Sejarah Indonesia Kemdikbud, Kolonel Katamso diculik pada hari Jumat, 1 Oktober 1965, sekitar pukul lima sore. Ia dijemput paksa oleh segerombolan pasukan TNI AD yang sudah terpengaruh Gerakan 30 September.
Gerombolan penculik bersenjata lengkap berangkat dari Markas Yon “L” dengan mengendarai dua unit truk dan sebuah kendaraan perintis bertipe Gaz. Dari Markas Yon “L” gerombolan ini bergerak menuju rumah dinas Kolonel Katamso yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, nomor 48 di daerah Kotabaru.
Pada saat kelompok penculik itu datang, Kolonel Katamso sedang berbincang dengan Mayor Sutomo, Komandan Yon C Klaten dan Kapten Rahmat, Kapten Cab 072. Mayor Sutomo datang untuk membicarakan kondisi terkini saat itu, sedangkan Kapten Rahmat sedang bertugas piket garnisun.
Gerombolan penculik itu kemudian memerintahkan Kolonel Katamso untuk ikut bersama mereka. Di bawah todongan senjata, Kolonel Katamso akhirnya terpaksa mematuhi perintah tersebut. Kapten Rahmat pun juga ikut dibawa oleh bersamanya ke Markas Yon “L” di Kentungan.
Pada dini hari tanggal 2 Oktober 1965, Kolonel Katamso dibunuh oleh gerombolan G30S. Kolonel Katamso dibunuh di sebuah lokasi di ujung selatan asrama prajurit di dalam kompleks Markas Yon “L”.
Bertindak sebagai pemimpin kelompok eksekutor adalah Sertu Alip Toyo. Letkol Sugiyono telah terlebih dahulu dihabisi oleh gerombolan G 30 S beberapa saat sebelum Kolonel Katamso dieksekusi.
Sertu Alip Toyo menghantamkan kunci mortir ke bagian belakang kepala Kolonel Katamso, namun Kolonel Katamso masih hidup. Pada kondisi sekarat, Kolonel Katamso masih sempat mengucapkan kalimat terakhir, “Dik Wisnu, aku masih cinta Presiden Sukarno.” Yang dimaksud “Dik Wisnu” adalah Mayor Wisnuraji, Komandan Batalion “L” yang sudah terhasut G30S.
Karena Kolonel Katamso masih hidup, gerombolan pembunuh itu kemudian melempari kepalanya dengan batu-batu besar, sehingga Kolonel Katamso wafat di lokasi tersebut. Gerombolan pembunuh itu kemudian mengubur jenazah Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono di lubang yang sudah mereka siapkan.
Jenazah Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono kemudian ditemukan sekitar dua minggu kemudian dan baru bisa diangkat pada 21 Oktober 1965. Jenazah Kolonel Katamso ditemukan berada di atas jenazah Letkol Sugiyono. Setelah diangkat jenazah, keduanya dibawa ke Kes Rem 072 di Ngupasan Yogyakarta dengan kawalan kendaraan RPKAD. Jenazah keduanya diberikan penghormatan terakhir sebelum dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.