Esai ‘Soekarno Mendramakan Indonesia’
Bandung Mawardi
PADA suatu masa, tersimpan kertas-kertas bersejarah di Istana Bogor. Kertas-kertas lama terdiam dalam arus politik sering mengandung guncangan. Di tatapan mata, kertas-kertas itu drama buatan Soekarno. Pada masa lalu, ia tak sekadar menulis esai, surat dan teks pidato. Soekarno pun menulis drama. Penulisan dilakukan saat ia mengalami pengasingan di Ende dan Bengkulu, masa 1930-an. Ia menanggung nasib dalam ‘drama’ buatan pemerintah kolonial Belanda. Berada jauh dari Jawa, Soekarno justru menggarap drama sebagai tanggapan atas nasib dan hasrat memuliakan Indonesia.
Soekarno mendramakan Indonesia lama terlupa. Orang-orang selalu mengingat Soekarno dengan teks proklamasi dan teks pidato-pidato setiap peringatan Hari Kemerdekaan selama masa revolusi (belum selesai). Ia menulis drama dan menggarap pentas drama. Kerja seni pernah mendapatkan tepuk tangan tapi ‘terdiam’ dalam arus sejarah (drama) Indonesia. Soekarno justru biasa dituduh membuat ‘drama politik’ dan ‘drama sejarah’, sejak berada dalam alur pergerakan politik sampai menjadi presiden.
Tumpukan kertas lama tersimpan dihidupkan lagi oleh Agus Setiyanto dengan penerbitan buku berjudul ‘Bung Karno, Maetsro Monte Carlo: Kumpulan Naskah Bung Karno Selama Masa Pengasingan di Bengkulu’ (2006). Naskah drama (Chungking Djakarta, Rainbow: Poetri Kentjana Boelan, Koetkoethi), dimunculkan lagi meski terduga masih ada naskah-naskah buatan Soekarno belum berhasil ditemukan. Buku terbt tapi perhatian atas posisi Soekarno dalam sejarah dan perkembangan drama (teater) di Indonesia belum mendapat perhatian besar. Ia tetap terlupa di kalangan penggerak teater dan penulisan naskah drama, dari masa ke masa.
Bakdi Soemanto, kritikus teater, sempat memberi pujian tanpa sambutan serius: “Kita pun mendapat tambahan data tentang perkembangan teater di Indonesia. Lebih menggetarkan lagi, tokoh yang ada di belakangnya tidak tanggung-tanggung: Soekarno.” Ia berharap ada studi mendalam mengenai drama-drama Soekarno. Tahun-tahun berlalu, Soekarno dan drama Indonesia tetap terpinggirkan.
Pada 1971, Asrul Sani menguak sejarah teater di Indonesia. Ia sekadar mengajukan penjelasan tanpa pemuatan data dan referensi besar. Di situ, Soekarno tak pernah disebut turut dalam sejarah teater Indonesia. Asrul Sani mungkin tak mau berurusan terhadap misi . Ia melakukan amatan teater dengan mengabaikan Soekarno. Kita cukup mendapat keterangan tentang kemunculan teater modern berlatar masa kolonial.


















