Ilustrasi untuk esai berjudul 'Puisi: Menyingkap Kedok Kepalsuan' kiriman dari S. Prasetyo Utomo, sastrawan, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes. (Ilustrasi: Pixabay).
KEPALSUAN, dusta, dan kedok yang menyelubungi perilaku manusia seringkali diangkat penyair dalam puisi. Penyair memanfaatkan simbol, satire, paradoks, ,dan kritik untuk untuk menyingkap kebusukan-kebusukan perilaku manusia. Kedok kepalsuan itu merambah hal-hal yang berkaitan dengan jatidiri seseorang, pergulatan kebenaran sejati, ketercerabutan identitas budaya, pergulatan sosial, dan pendidikan.
Saya memilih lima puisi yang menyingkap kedok kepalsuan. Kelima puisi itu adalah ‘Topeng’ karya Sapardi Djoko Damono, ‘Kanak-Kanak’ karya Saini KM, ‘Celana 3’ karya Joko Pinurbo, ‘Percakapan di Satu Desa’ karya D. Zawawi Imron, dan ‘Sajak Palsu’ karya Agus R. Sarjono. Ketajaman satire, paradoks, dan kritik menjadi kekuatan para penyair untuk menyingkap solilokui menyingkap selubung dusta dalam atmosfer individu, sosial, dan kekuasaan.
Kelima penyair ini menyingkap simulacrum, membongkar segala kedok dusta dan kepalsuan yang menyelubungi realitas kehidupan sehari-hari. Berkembanglah tafsir puisi tentang masyarakat kostumer dalam diskursus kapitalisme mutakhir. Saya terkesima dengan imaji penyair untuk menyingkap kedok kepalsuan yang tersembunyi dalam pergolakan jiwa manusia. Penyair memasuki fenomena bawah sadar ke dalam kawasan psikoanalisis untuk mengekspresikan diksi, idiom, dan simbol-simbol dalam puisi yang mereka ciptakan.
Puisi ‘Topeng’ karya Sapardi Djoko Damono menyingkap segala kedok kepalsuan manusia dalam pergulatan hidup. Manusia berusaha menyembunyikan kepribadiannya di balik kedok-kedok kepalsuan dan dusta. serupa topeng, yang berlapis-lapis. Kebutuhan manusia untuk bermain peran, berbohong, dan menipu mencipta berbagai perangai. Perilaku manusia berkembang menjadi destruktif. Tiap kali manusia mesti menanggalkan kedok yang melapisi perilakunya, selalu terdapat kedok baru, seperti petikan berikut ini:
Ia gemar membuat topeng.
Dikupasnya wajahnya sendiri
satu demi satu
dan digantungkannya di dinding.
"Aku ingin memainkannya," kata seorang sutradara.
Malam hari, ketika lakon dimainkan,
ia mencari wajahnya sendiri
di antara topeng-topeng yang mendesah,
yang berteriak,
yang mengaduh
: tapi tak ada.
Ternyata ia masih harus mengupas wajahnya sendiri
satu demi satu.
Dalam larik puisi selanjutnya dikisahkan manusia mesti melucuti kedok dalam teater kekuasaan. Kebenaran yang dibisukan dalam perkembangan jiwa anak-anak telah digenggam dominasi kekuasaan. Dalam pandangan penyair, kebenaran merupakan upaya pembebasan yang mesti diperjuangkan.
Dengan bahasa satire, Saini KM mengekspresikan otoritas kekuasaan yang membelenggu perilaku manusia terhadap kebenaran dalam puisi ‘Kanak-Kanak’. Dialog batin mengenai hakikat kebenaran telah menjadi sihir yang memikat untuk meredakan konfrontasi manusia saat berhadapan dengan hegemoni kekuasaan.
Ketaksadaran manusia akan kebenaran yang diperjuangkan, berakhir dengan kegelisahan yang terus-menerus mencapai teror. Empati manusia terhadap pembungkaman kebenaran menjadi pertimbangan penyair dalam menyusun larik-larik puisinya:
Kebenaran yang sederhana.
kebenaran kanak-kanak yang dibisukan akankah dilupa
dan tidur dalam hati mereka yang lembut?
Tangan besi menutup mulut kanak-kanak dan hampir merebut nafas mereka
Bergeleparlah kata-kata mereka yang putih
merpati dalam kurungan rusuk
Cuma sementara.
Akan tiba saat mereka jadi pemuda
Saat kebenaran menemukan api di sorot mata
baja di tangan muda perkasa
dan apakah artinya
Dan apakah artinya jasad manusia,
apakah harga hati dan nyawa bagi kebenaran
yang harus lolos dan dinobatkan di muka bumi?
Puisi ini mengajarkan pada pemuda untuk melakukan konfrontasi terhadap dominasi kekuasaan yang membungkam aspirasi untuk menemukan hakikat kebenaran.
Penyingkapan kedok kepalsuan perilaku manusia dalam mencari jati diri hidup diekspresikan Joko Pinurbo dalam puisi ‘Celana 3’. Krisis identitas karena konsumerisme yang menggerogoti kepribadian seseorag menjadi obsesi penyair untuk menyingkap janji-janji palsu tentang gaya hidup.
Seorang muda yang mencari identitasnya terhadap tubuh dan gaya hidup menyebabkannya kehilangan kesadaran. Inferioritas terjadi karena kuasa kapitalis menawarkan kedok kepalsuan produk negeri adikuasa Amerika yang memberi harga diri palsu:
Ia memantas-mantas celananya di depan cermin
sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya pantat tepos yang sok perkasa
“Ini asli buatan Amerika,” katanya kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca
Ia pergi juga malam itu,
menemui kekasih yang menunggunya di pojok kuburan
Ia pamerkan celananya:
“Ini asli buatan Amerika”
Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang bertengger di dalam celana
Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!”.
Kegigihan petani mengolah sawah menghadapi kuasa kapitalis, diekspresikan dalam paradoks untuk membongkar kedok kebusukan sosial. D. Zawawi Imron mengisahkan aktivitas petani yang tergadai sawah ladangnya. Mereka bekerja keras menggarap sawah, tetapi tetap miskin, tanpa uang untuk menebus sawah ladang yang tergadai.
Dalam petikan puisi ‘Percakapan di Satu Desa’ berikut ini memberi gambaran kepedihan hidup petani menghadapi kuasa kapitalis: besok lusa, tolonglah aku menyabit lalang
buat pengganti atap gubukku
ajaklah Sidun, aku senang padanya
lantaran ketawanya yang menggelegar
dapat mengganjal jiwaku yang sedang lapar
nanti malam, apa jadi engkau ke rumah?
di bawah bulan yang mulai sembuh dari gerhana
sambil menunggu gerhana bulan
bagaimana bisa kutebus
sawah ladangku yang masih tergadai
Inilah puisi yang menyuarakan kepedihan sosial petani menghadapi persoalan kuasa kapitalis.
Kepalsuan dunia pendidikan, kebusukan birokrasi, ekonomi dan kekuasaan diangkat Agus R. Sarjono. Ia menulis ‘Sajak Palsu’ untuk menyuarakan kritik tajam terhadap hegemoni kekuasaan yang menistakan kejujuran, kebenaran, nilai, moral, dan kemurnian jiwa.
Simulacrum yang disingkap penyair ini dicapai dengan cara memandang kebusukan pendidikan sebagai awal mula kebusukan birokrasi dan hegemoni kekuasaan. Agus R. Sarjono menyingkap kedok kepalsuan pendidikan, birokrasi, dan hegemoni kekuasaan dalam larik-larik puisinya berikut ini:
Selamat pagi pak, selamat pagi bu,
ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.
Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dan buku-buku palsu.
Di akhir sekolah mereka terperangah
melihat hamparan nilai mereka yang palsu
Masa sekolah demi masa sekolah berlalu,
mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu,
ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.
Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.
***
Sungguhmenarik struktur batin yang diekspresikan kelima penyair mengenai kepalsuan-kepalsuan yang menyelubungi perilaku manusia, birokrasi, dan hegemoni kekuasaan. Saya menemukan tiga kearifan penyair yang menyentuh kesadaran estetika. Betapa mengesankan puisi Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan D. Zawawi Imron. Kompleksitas makna puisi mereka melampaui puisi penyair lain.
Dengan cara yang sangat kontemplatif, Sapardi Djoko Damono membongkar kedok kepalsuan, dan dusta dengan simbol yang mudah ditafsir pembaca. Puisi ini menawarkan sebuah dialog batin mengenai perilaku manusia yang serupa sutradara dan aktor yang bermain-main dengan berbagai kedok dalam teater kehidupan. Puisi ini memberi kesadaran bahwa manusia penuh kedok saat menghadapi permainan-permainan dalam menjalani peran kehidupan.
Bahasa satire dan simbol yang diekspresikan Joko Pinurbo meledek pembaca. Dengan satire, ia mengaduk-aduk perasaan pembaca. Ia mengolok-olok pembaca untuk mengembalikan kesadaran manusia terhadap pencarian jatidiri yang dilindas kuasa kapital. Ia mencipta simbol-simbol yang mudah dicerna dan dipahami pembaca, seperti menampar batin setiap orang untuk sadar akan kedok-kedok kepalsuan jatidiri mereka. Ia mencipta puisi secara kocak dan cerdas.
Yang tak kalah menarik adalah puisi D. Zawawi Imron. Puisi ini membawa pembaca pada kesadaran sosial tentang petani yang menghadapi kegetiran hidup. Mata batin pembaca terbuka akan penindasan dan penderitaan masyarakat kelas bawah yang tertindas. Penindasan terselubung berkembang dalam masyarakat kelas bawah pedesaan. Mereka menjadi korban kuasa kapitalis, tanpa perlindungan negara. Penyair melancarkan kritik terhadap kuasa kapitalis. Kebenaran tertimbun kesibukan sehari-hari, tersembunyi dalam etos menghadapi kaum kapitalis yang terselubung suasana damai. Ia mengeksplorasi paradoks.
Kekuatan simbol, satire, dan paradoks menghamparkan puisi-puisi yang memiliki kompleksitas tafsir tentang penyingkapan kedok kepalsuan dalam kehidupan mutakhir.