Ilustrasi – Cover buku Si Samin (1924) gubahan M Kasim dalam naungan Balai Pustaka. (Foto: dpk.kepriprov).
BUKU lama terlupa itu biasa. Lupa bukan dosa. Di sastra Indonesia, lupa-lupa jarang disesali. Pembalasan atas nama kehormatan dan ‘pengenalan ulang’ sulit terjadi.
Konon, orang-orang keseringan mengingat Si Doel Anak Betawi (1932) gubahan Aman itu bacaan cerita anak awal di Indonesia. Buku itu terkenal dan laris. Pada masa berbeda, orang-orang kadang mengganti “Betawi” dengan “Jakarta”. Ingatan merujuk buku lekas tergantikan sinetron. Buku lama terlupa berganti mengingat sinetron atau film bertokoh Doel.
Ada nama ‘besar’ tapi makin jarang terucap dalam perbincangan sastra atau tercantum dalam tulisan mengenai kesusastraan anak Indonesia. Di leksikon sastra, ia biasa diingat melalui buku cerita berjudul Teman Doedoek (1936). Buku dianggap penting dalam arus penulisan cerita (pendek) di Indonesia. Pengarang bernama M Kasim. Ingatan dari masa lalu sering Marah Roesli, Merari Siregar, Noer Soetan Iskandar, Abdoel Moeis, Soetan Takdir Alisjahbana, dan Armijn Pane,
Di buku berjudul Bacaan Anak Indonesia Tempo Doeloe (1996), Christantiowati mengingatkan jika awalan terbitan sastra anak Indonesia bukan mutlak melulu Balai Pustaka seperti terjadi dalam anggapan kemunculan sastra Indonesia modern. Ia juga mengajak orang-orang tak lekas membuat konklusi atas sejarah bacaan anak di Indonesia. Orang-orang condong mengingat Si Doel Anak Betawi, bukan Si Samin. Christantiowati menulis: “… jika ditanyakan lebih lanjut tentang dunia bacaan anak masa lalu besar kemungkinan tidak ada jawaban memuaskan yang akan didapat.” Kita sedang bergerak ke belakang untuk mengetahui kehadiran beragam bacaan sambil memberi pernghormatan atas terbitan Si Samin (1924) gubahan M Kasim dalam naungan Balai Pustaka.
Dwianto S (1997) sempat mengingatkan (lagi) bacaan lama bagi para pengamat kesusastraan anak. Ia mengungkapkan: “Cerita Si Samin sangat terkenal. dalam setiap perbincangan mengenai buku anak, Si Samin yang selalu disebut. Si Samin menjadi monumen bersejarah bagi perkembangan buku anak di Indonesia.” Kalimat-kalimat tak berlebihan tapi ‘kedaluwarsa’ bagi jagat bacaan anak Indonesia abad XXI.
itu judul buku tak diakrabi para pengamat dan pembaca saat peradaran buku anak-anak edisi terjemahan dari khazanah sastra dunia terus mengalahkan cerita anak gubahan para pengarang Indonesia. Dwianto mungkin sekadar mengingatkan kepada kalangan terbatas.
Di pelajaran sastra untuk murid-murid, M Kasim itu nama asing. Para mahasiswa mengaku mengikuti kuliah-kuliah sastra terduga tak mengenal atauu mengingat M Kasim. Nama tertinggal di masa lalu. Nama tetap tercantum dalam sejarah dan perkembangan sastra tapi lekas surut dan terlupa.
Pada masa 1920-an, para pengarang di tanah jajahan berusaha memunculkan sastra bercorak modern. Mereka dalam pilihah berbahasa ‘Melajoe’ atau Indonesia. Adu pengaruh sastra terjadi menghasilkan novel-novel bakal dianggap ‘awalan’. Pada masa setelah Perang Dunia II, novel-novel mereka masuk dalam pengajaran sastra sampai masa Orde Baru. Murid-murid dikutuk dengan tugas membaca novel masa 1920-an dan 1930- memicu ‘pusing’ dan jemu. Sastra Indonesia terbaca aneh dan ruwet jika masih melulu novel-novel dari masa kolonial. Di situ, murid-murid atau para mahasiswa sulit mengenali M Kasim atau mengetahui gubahan cerita-cerita.
Pada 1924, M Kasim mempersembahkan buku cerita berjudul Si Kasim. Judul jarang muncul dalam seminar atau obrolan orang-orang mengaku pengamat sastra anak. Judul buku tak setenar Si Doel Anak Betawi. Nama pengarang pun ‘terkalahkan’ dan ‘terpinggirkan’ oleh nama-nama dianggap ‘besar’.
Kini, seabad berlalu, kita telat membuat peringatan dan penghormatan kepada buku berjudul Si Samin(1924) gubahan Mohamad Kasim. Novel tipis cetak ulang: 1928, 1941, 1949, 1957, 1971, 1974, 1977. Balai Pustaka memiliki kepentingan dalam cetak ulang Si Samin. Apakah novel itu laku dan laris? Kita mendingan memberikan jawaban ‘tertunda’. Balai Pustaka itu penerbit milik pemerintah. Cetak ulang pada masa kolonial gamblang dalam kepentingan pengadaan buku dianggap tak melanggar atau membelok dari misi-misi pengajaran kolonial. Sastra masuk dalam penciptaan ‘tertib’, ‘patuh’ dan ‘baik’.
Pada masa kekuasaan Soekarno, Si Samincetak ulang mungkin bermaksud ‘melestarikan’ atau memenuhi kebutuhan bacaan anak-anak khas (berkepribadian) Indonesia. Pada masa Soeharto berkuasa atau masa 1970-an, novel itu cetak ulang saat Balai Pustaka makin keranjingan menerbitkan buku-buku pelajaran untuk beragam jenjang sekolah. Pada masa 1970-an, anak atau remaja masih mungkin membaca Si Samin. Mereka menikmati imajinasi kesilaman berbarengan perintah-perintah Soeharto bertajuk pembangunan nasional.
Kini, kita meragukan orang-orang abad XXI masih membaca Si Samin. Buku itu berusia 101 tahun. Cerita berbahasa Indonesia citarasa lama. Anak-anak sekarang agak kesulitan menikmati cerita bila tak menggunakan kamus atau glosarium. Novel itu tetap penting dibaca untuk mengetahui derajat bacaan anak masa lalu dan kepekaan mendokumentasi zaman.
Cerita menguak masa lalu. Kita membaca dan memberi tafsir untuk mengetahui lakon anak-anak berlatar masa kolonial. Di situ, pembaca memang sulit menemukan suasana kolonial tapi mengerti anak-anak mengalami hari-hari di tanah jajahan. Mereka dalam bimbang modernitas, belum sampai ke perlawanan atau gugatan kolonialisme.
Pada hari menggembirakan, Samin dan teman mandi di sungai. Mereka dalam ‘kesenangan hati dan perasaan yang bebas’. Menit-menit berlalu, tubuh mereka kedinginan dan takut kemunculan hantu saat hari menjelang gelap. Gembira lekas berubah: “Pahlawan kecil-kecil itu berlompatanlah seperti orang yang dihalau musuh, berebut-rebut mencari pakaiannya. Sekarang terjadilah hiru biru: ada yang kehilangan celana, ada yang kehilangan baju, ada yang tak melihat kopiahnya, ada yang tarik-menarik dan tolak-menolak.” Mereka tampak tak (terlalu) melarat merujuk tubuh berpakaian meski sederhana. Pembaca belum terjebak tragedi kolonialisme dan pakaian di kalangan bumiputra.
Adegan kelucuan: “Si Bahaudin baru mengenakan sebelah kaki celananya tetapi karena takut ditinggal kawannya, berlarilah ia. Amat lucu rupanya karena kaki celananya sebelah lagi berjela-jela seperti ekor rupanya. Dengan terengah-engah sampailah pahlawan-pahlawan yang gagah berani itu ke jalan raya. Masing-masing pun mulailah memeriksa, benarkah miliknya yang sudah terpakai kepadanya.” Mereka harus mengenali celana, baju, dan kopiah milik sendiri gara-gara tergesa naik dari sungai. Ketakutan kepada hantu-hantu memicu mereka berlarian kencang. Kejadian mengakibatkan pertengkaran. Kopiah-kopiah tertukar.
Berpakaian mengajarkan kesopanan. Anak-anak mengerti pakaian tak sekadar menutup tubuh. Pakaian mengesahkan kesanggupan membentuk derajat dan sadar berada dalam arus kemodernan. Kees Van Dijk (2005) menerangkan pakaian berlatar masa kolonial: “… pakaian di Indonesia lebih dari sekadar menandai perbedaan dan persamaan dalam masyarakat pribumi. Pakaian juga memberikan media untuk mengekspresikan sikap terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan dan politik asing.” Kasim melalui tokoh Samin tak kebablasan menguak pakaian dalam adu kepentingan kolonial, kapital, atau iman.
Samin mengetahui kepatutan dalam berpakaian dan penentuan hari-hari untuk mengenakan baju baru. Pada hari penuh girang, bapak pulang dari pasar membawakan baju baru. Samin dibelikan baju baru. Bapak berpesan: “Tapi jangan dipakai hari-hari. Satu-satu kali saja, waktu ada keramaian sebab mahal harganya.” Baju baru memang membahagiakan tapi anak wajib besabar menantikan hari saat tampil gagah atau anggun.
Samin dan teman-teman senang baju baru. Mereka mengerti baju baru harus disimpan dan diharapkan menimbulkan girang saat dipakai. Mereka berpikiran lugu, belum terbujuk dalam kritik dan ralat peradaban. Jean Gelman T (2005) mengungkapkan: “Kostum dan tingkah laku merupakan sumber yang kaya bagi sejarah masyarakat kolonial. Tubuh manusia dikolonisasi sebagaimana halnya tanah dan sumber dayanya.”
Tanda-tanda modernitas tak cuma baju. Anak-anak mengidamkan sepatu. Mereka menganggap benda itu istimewa, tak sembaarang kaki boleh mengenakan untuk berjalan dalam beragam kepentingan. Pembaca mendapatkan ketegangan pemaknaan sepatu di mata kaum tua dan anak-anak. Pada masa kolonial, orang bersepatu berarti orang ‘sekolahan’, ‘orang kantoran’, atau ‘orang berpangkat’. Sepatu memberi pembuktian peradaban kaki mengikuti laju modernitas.
Samin dan teman-teman belajar berdagang. Mereka mendapat laba. Samin ingin mewujudkan keinginan membeli sepatu tapi terbantahkan bapak. Debat kecil terjadi. Omongan bapak menimbulkan derita: “Apa guna sepatu? Anak orang kaya-kaya dan orang berpangkat saja yang patut bersepatu.” Bapak mewakili kaum kolot: mencurigai sepatu.
Argumentasi berdasarkan pengalaman dan pengamatan: “Pakaian kita patutlah dengan pencaharian kita. Kalau kita telah bersepatu hendaknya di rumah pun duduk di atas kursi atau di atas tikar permadani, tidur di atas katil, makan cukup, gulai jangan sambal terasi berganti dengan sambal belacan sahaja. Aku ini tidak sepakat dengan kelakuan kebanyakan orang zaman sekarang.” Pemahaman sepatu digabungkan dengan pelbagai benda menandai kemodernan. Ia menuduh orang-orang menampilkan diri bersepatu kadang kehidupan di rumah belum pantas. Sepatu sengaja dipamerkan di tatapan mata orang lain meski menguras uang.
Samin bersedih diceramahi bapak. Impian bersepatu bakal gagal. Ia bercakp barenga teman-teman mengenai sepatu. Bercerita kesedihan gara-gara sepatu, Samin kebablasan omongan: “Semuanya kawan-kawan sudah bersepatu, aku sendiri yang belum, mau aku mati rasanya.” Anak tak bersepatu menanggung malu. Kita berimajinasi anak-anak masa lalu mengetahui zaman telah berubah dan zaman bersepatu itu kelaziman. Sedih dan malu membuat Samin sakit. Keluarga pun geger mengetahui Samin sakit parah dipicu kegagalan membeli sepatu. Bapak merasa bersalah. Kesembuhan Samin diharapkan berlanjut pembelian sepatu.
Kemenangan milik Samin: “Selama di pekan tiadalah lepas sepatu itu dari pelukan Samin. Bau kulit yang baru itu lebih harum pada perasaannya daripada minyak wangi. Sesampai di rumahnya, Samin pun mencoba sepatunya. Berjalanlah ia pergi balik dalam rumah. Raja yang sedang dinobatkan memakai mahkotanya tiada seriang Samin yang sedang memakai sepatunya.” Samin masih bocah. Ia menginginkan sepatu bukan bertujuan menjadi sosok berkiblat Barat. Di pergaulan, ia sadar teman-teman telah bersepatu. Samin belum memerlukan argumen besar dan panjang agar kaki bersepatu.
Henk Schulte Nordholt (2005) mengamati silam: “Hierarki kolonial diekspresikan dalam kerangka alas kaki pada tingkat lokal di kalangan orang Indonesia.” Alas kaki itu sandal dan sepatu. Dulu, derajat bumiputra tak lekas ditinggikan saat kaki bersepatu. Segala peraturan diberlakukan agar kaum bersepatu itu terbatas. Kaum terjajah diperssulit mengenakan sepatu. Sekolah dan pekerjaan-pekerjaan baru perlahan memungkinkan bumiputra bersepatu meski tetao diremehkan kaum Eropa terbiasa memamerkan identitas melalui sepatu.
Novel gubahan M Kasim menjadi referensi untuk nostalgia dan permainan tafsir modernitas. Baju dan sepatu diceritakan dalam adu kepentingan. Pembuatan makna tampak berbeda antara kaum tua dan anak-anak. Pembaratan terjadi tanpa harus mengikutkan idiom atau jerat-jerat kolonialisme. Pengarang menggamblangkan lakon anak-anak memang mengalami pembaratan tapi tak lekas menguak aib-aib penjajahan. Novel ditulis dan terbit pada masa kolonial tak mengharuskan memuat debat bertema kolonialisme. Kita agak maklum dengan siasat pengarang dan kebijakan Balai Pustaka.
Selebrasi modernitas makin menguat saat Samin dan teman-teman bertambah umur. Mereka telah memenuhi ketentuan sebagai murid di sekolah. Keseharian di rumah, sawah, sungai, dan oasar mendapat penguatan makna saat mereka rutin belajar di sekolah. Belajar pelbagai ilmu membuat Samin mulai bisa membaca dan mengerti dunia. Ia berani memiliki cita-cita. Kehidupan dirasakan berubah gara-gara sekolah. Kebiasaan bermain tak menghilang tapi ketekunan menghadapi buku-buku pelajaran dan catatan meninggikan intelektualitas. Samin menerima berkah modernitas, sadar berada dalam arus perubahan zaman.
Samin memasuki dunia ilmu. Pengalaman baru di sekolah diceritakan kepada adik. Penasaran adik perlahan dijawab: “Satu lidi ditambah satu lidi jadi dua lidi. dua pisang ditambah satu pisang jadi 3 pisang. Satu lupis ditambah dua lupis jadi tiga lupis.” Adik mengimajinasikan pisang dan lupis, bukan berpikiran angka. Adik itu berkata: “Tadi abang makan dua pisang dan lupis di sekolah? Mengapa abng tidak bawakan aku?” Pelajaran berhitung di sekolah dianggap adik pesta makanan. Samin tertawa tapi maklum bila adik berpikiran kelezatan.
Di buku berjudul Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-Batas Pembaratan (1996), Denys Lombard menerangkan sekolah turut menjadi bukti pembaratan atau ‘pembinaan’ agar bumiputra menapaki kemajuan. Sekolah itu seruan ilmu-ilmu menjadi dasar pembuatan masa depan dan kebaruan. Di tanah jajahan, sekolah menggerakkan identitas menuju zaman ‘baru’ terbedakan dari kaum kolot dan lawas.
Di sekolah, Samin bertumbuh bersama ilmu-ilmu ‘baru’. Konon, ilmu-ilmu itu berdatangan atau dipengaruhi Barat, Samin tetap menjadi bocah dalam asuhan keluarga tapi bertualang jauh akibat pelajaran-pelajaran di sekolah.
M Kasim menjadikan Samin sebagai murid pintar. Pamrih mengabarkan sekolah itu ‘kemajuan’ atau ‘kemuliaan’ dibukitkan melalui penokohan Samin. Kasim mengisahkan: ”Sifat si Kasim ada sebuah sifat yang amat baik. Barang sesuatu pekerjaannya dikerjaan dengan rajin dan bersungguh-sungguh hati. Oleh sebab itu tiada heran, pada tiap-tiap tahun ia naik kelas dan terpandang murid yang terpandai dalam kelasnya…” Ia bertambah umur. Ia makin berilmu. Dunia pun terbuka dan terbaca. Sekolah itu pijakan bagi Samin membentuk masa depan.
Sejak awal abad XX, sekolah-sekolah mencipta percik-percik sejarah. Kaum muda dibentuk sekolah berani mengadakan agenda-agenda perubahan melalui Boedi Oetomo dan beragam ‘jong’. Mereka membuktikan dampak-dampak sekolah. Perubahan besar terjadi meski mereka menanggungkan dilema identitas. Samin tak diceritakan dalam arus sejarah pergerakan politik. Kasim memilih alur untuk Samin di perdagngan. Ia berhasil menjadi saudagar. Sosok berpendidikan dan beroleh laba dalam kesibukan berdagang.
Pengarang menampilkan keberhasilan mengesahkan kebaikan-kebaikan. Si Saminsebagai cerita untuk anak-anak memberi hikmah di akhir cerita. Novel berhak bernasihat. Kasim mengisahkan Samin saat dewasa: “Akhirnya orang muda itu menjadi kaya raya sebagai cita-citanya masa kecil. Sungguh pun ia sekaya itu tetapi hatinya tidak berubah. Tiadalah ia lupa asalnya. Sebab itu kekayaannya hanya sedikit yang dipakainya untuk dirinya sendiri. Kebanyakan ditabur-taburkan ke sana kemari akan menolong orang yang miskin dan yatim piatu.”
Samin itu dermawan. Ia memihak kebaikan. Cerita berakhir dengan umpama indah sebagai pedoman hidup Samin: “Uang ini diberikan Tuhan kepadaku, bukannya untuk diriku sendiri. Halku adalah sebagai pengantar surat di kantor pos akan menyampaikan segala kiriman.” Kasim suguhkan cerita masih mungkin terbaca tanpa sungkan bernasihat agar para pembaca tak sia-sia membuka novel berjudul Si Samin, sejak halaman awal sampai akhir. Begitu.