Esai ‘Menjahit Peradaban dari Puing-Puing Perang’
Wibowo Prasetyo
BAGAIMANA menjelaskan perang kepada anak-anak tanpa mencabik imajinasi mereka? Tak ada bahasa yang cukup lembut untuk menggambarkan bom yang menghancurkan rumah atau perkampungan mereka. Bagaimana bisa menenangkan ibu-ibu yang kehilangan bayinya. Kata-kata seperti tercekat di tenggorokan. Perang, meski dirajut dalam alasan kedaulatan, tetaplah akan meninggalkan luka yang mengoyak hati umat manusia.
Bagi seniman, perang bukan semata runtuhnya tubuh dan bangunan, melainkan matinya makna. Setiap bom yang meledak, tak hanya membunuh, tapi menghapus mural di dinding, membakar manuskrip di rak-rak tua, meruntuhkan panggung teater, dan membisukan lagu yang belum sempat dinyanyikan. Gereja dan masjid berubah jadi gudang logistik atau dapur umum, dan puisi ditulis dengan pensil patah dalam remang bunker.
Tapi dalam kondisi seperti itulah seni bersuara paling jujur. Menolak bungkam ketika dunia kehilangan bahasa.
Luka Peradaban yang Terbakar
Tak ada perang yang netral. Setiap rudal yang melesat bukan hanya menghancurkan tubuh dan bangunan, tapi juga menyasar ingatan, mengebom masa lalu, membakar makna yang kita warisi bersama. Dalam laporan UNESCO tahun 2023, tercatat lebih dari 300 situs budaya di Ukraina rusak akibat invasi Rusia. Di Irak, ISIS membakar Perpustakaan Mosul yang menyimpan ratusan ribu manuskrip kuno. Palmyra—kota peradaban dari abad pertama—dihancurkan militan. Dan Gaza, tanah berlapis sejarah dari bangsa Filistin hingga arsitektur Ottoman, kini tinggal puing dan bayang-bayang.
Reruntuhan itu bukan sekadar batu yang roboh atau genting yang berserakan, melainkan serpih-serpih identitas yang dilenyapkan. Seperti yang pernah ditulis Milan Kundera bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Maka seniman berkarya bukan untuk memuaskan galeri, tapi untuk merawat sejarah agar tak menjadi debu.
Di Aleppo, anak-anak menggambar matahari dengan krayon di dinding yang bolong oleh peluru. Di Mosul, senar oud masih dipetik pelan di dalam rumah yang nyaris runtuh. Di reruntuhan Irpin dan Borodyanka, mural-mural Banksy tumbuh di antara retakan di semua dinding kota.
Dan di panggung yang jauh dari garis tembak, Roger Waters—mantan personel Pink Floyd—mengangkat luka-luka itu ke sorotan lampu. Dalam konsernya, ia lantunkan The Bravery of Being Out of Range. Lagu ini adalah gugatan terhadap mereka yang menjatuhkan bom sambil menyeruput anggur merah di ruang rapat ber-ac. Dalam wawancaranya dengan majalah , Waters berkata seni bukan pelarian, melainkan senjata nurani.

















