Esai ‘Cerita Bersambung dan Sampul Baru’
Bandung Mawardi
SESEORANG masuk ke toko buku. Ia sadar bakal dihajar ratusan lampu meski saat siang. Toko buku sangat dipengaruhi lampu-lampu. Tatanan buku di rak dan meja bakal tampak menggoda bila terkenar sinar lampu. Konon, buku dan lampu bersekutu agar seseorang lekas memutuskan sebagai pembeli. Buku dalam remang-remang ditakdirkan sulit laku. Buku istimewa memerlukan lampu agar terbawa pulang oleh pembeli dan mengesahkan seseorang sebagai pembaca. Mata pengunjung toko buku wajib jeli saat tergoda ribuan buku dan dampak lampu.
Pengunjung itu melihat novel bersampul warna merah lembut. Di sampul, ada gambar penari. Judul buku itu ‘Ronggeng Dukuh Paruk’. Novel gubahan Ahmad Tohari diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (2025). Novel terus cetak ulang. Laris!
Pergantian ukuran buku dan sampul terus dilakukan oleh penerbit. Para pembeli dan pembaca terbujuk untuk memiliki semua edisi, sejak diterbitkan dalam ukuran buku kecil tiga jilid sampai bersampul tebal berwarna merah lembut. Konon, orang ingin menjadi kolektor lengkap buku-buku Ahmad Tohari meski tak semua terbit oleh Gramedia Pustaka Utama.
Ahmad Tohari makin tua tapi ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ masih berlanjut memberi ketenaran dan rezeki. Pada abad XXI, para pengarang baru bermunculan dengan novel-novel memikat. Ahmad Tohar tetap nama pilihan bagi para pembaca beragam umur. Novel dari masa 1980-an tetap “menang” dalam persaingan perdagangan novel di seantero Indonesia.
Pengarang itu beruntung ibarat ‘rezeki tak kunjung padam’. Pada masa lalu, ia pernah mengaku: “Sampai tiga tahun setelah tamat SMA, saya belum pernah membayangkan diri kelak akan jadi pengarang.” Ahmad Tohari sebagai pemuda belum dalam kepastian menempuhi jalan kesusastraan. Ia tetap bergerak meninggalkan Purwokerto menuju kota besar. Di sana, ia makin mengerti sastra dan mencari nafkah. Pada titik kebimbangan, ia memilih pulang ke kampung dengan kesanggupan bersastra.
Pada 1980-1985, ia menulis cerita berjudul ‘’. Cerita mendapat pujian dan kritik. Ia tampil sebagai pengarang cemerlang, hadir dalam keseruan di Indonesia masa 1980-an. Novel memicu beragam debat. Para pembaca dan kritikus berulang meminta penjelasan pengarang. (2003) mungkin bosan menjawab tapi kalimat-kalimat tetap harus diberikan.


















