SUGIANTO memetik cabai di ladangnya seperti biasa. Matahari baru muncul di ufuk timur. Sinar keemasannya memberi kehangatan pada tanah yang sedikit lembab. Aroma dedaunan yang terguyur embun pagi memenuhi udara, dan Sugianto menarik napas panjang, menikmati momen damai sebelum hari panjangnya dimulai. Tangannya kotor, tapi hatinya tenang, seakan semua masalah dunia berada jauh dari dirinya.
Kala ia hendak menaruh keranjang cabai di atas gerobaknya, seorang kurir muncul membawa sepucuk surat dan menyerahkan kepadanya. Amplop tebal itu terasa aneh di tangannya, berbeda dari surat-surat biasa yang datang dari kantor desa atau toko kelontong. Kertasnya licin, putih bersih, dan cap resmi di sudut membuat jantungnya berdebar tak menentu. Di sudutnya tertulis nama PT Mentari Energi Semesta Nusantara (MESN), sebuah korporasi besar yang konon telah menjalin kerjasama dengan pemerintah untuk mengelola sumber daya cahaya matahari.
Ingatan Sugianto pun seketika melayang pada sebuah acara talk show di sebuah stasiun radio beberapa bulan lalu. Dalam acara tersebut, PT MESN disebut-sebut sebagai pionir energi bersih, yang memasang panel surya raksasa di sejumlah kota dan desa, memasok listrik untuk industri, sekolah dan fasilitas publik lainnya. Beberapa tetangganya pernah bilang bahwa suatu saat jangan kaget bila nanti dipungut iuran untuk sinar matahari.
Dengan jari-jari yang masih kotor, perlahan, ia membuka amplop dan membuka surat dan membaca isinya. Matanya sontak melebar membaca kalimat: “Anda diwajibkan membayar iuran penggunaan sinar matahari, yang dikelola melalui sistem pajak pemerintah bekerja sama dengan PT Mentari Energi Semesta Nusantara.”
Kalimat itu terdengar absurd, seperti lelucon buruk yang dibuat untuk menakutinya. Tangan Sugianto bergetar saat ia membacanya lagi dan lagi, guna memastikan itu bukan kesalahan matanya. Ia menundukkan kepala, lantas menatap ladangnya yang seketika terlihat asing.
“Apa-apaan ini?” gumamnya, memperhatikan setiap helai daun dan cabai kecil yang kini seolah membawa hutang tak terlihat. Hatinya marah dan bingung sekaligus. Bagaimana mungkin sesuatu yang alami seperti matahari bisa diklaim dan dijadikan objek iuran. Ia pun segera berlari ke rumah kepala desa, Pak Rahmat, yang sedang menyiapkan teh untuk sarapan.
“Pak Kades, ini serius? Saya ditagih harus bayar cahaya matahari!” ucapnya, sambil menyodorkan surat yang dibawanya.
Pak Rahmat mengernyit, membacanya dengan teliti. “Ya, ini... ini serius. Pemerintah lokal memang bekerja sama dengan korporasi energi surya untuk mengenakan iuran. Mereka mengklaim cahaya matahari sebagai sumber daya yang dikelola secara komersial.”
Sugianto menggeleng, hampir tak percaya. “Jadi, kita harus bayar untuk cahaya matahari?” Suaranya penuh campuran amarah dan ketidakpercayaan. Ia menatap langit biru, seolah langit itu bersalah karena terlalu terang.
Pak Rahmat menghela nafasnya. “Sepertinya begitu, Sug. Mereka menyebutnya iuran, tapi dikumpulkan melalui sistem pajak resmi. Ini legal, tapi memang aneh.” Ia menatap Sugianto dengan mata lembut, campuran iba dan kekhawatiran.
Desa pun akhirnya heboh. Para tetangga Sugianto datang. Sebagian menatap ladang dan langit yang seolah kini penuh utang. Bisik-bisik muncul di setiap sudut, membentuk gelombang kekhawatiran. Suasana desa yang biasanya santai kini terasa tegang, penuh ketidakpastian.
Warga mulai berdiskusi. Ibu-ibu gelisah. Beberapa pria menggaruk-garuk kepala, berpikir keras. Kata-kata “iuran untuk matahari” terdengar lucu, tapi menimbulkan ketakutan nyata di hati mereka.
Sugianto berdiri di tengah-tengah warga. “Kalau kita semua bayar iuran untuk matahari, bagaimana nasib ladang kita?” Suaranya tegas tapi getir. Beberapa orang menunduk, menghitung-hitung hasil panen yang tipis. Keringat dingin muncul di dahi beberapa warga.
Seorang petani sepuh, Pak Darman, menepuk bahu Sugianto. “Kita harus melawan, Dek. Kalau tidak, nanti kita pun mungkin bisa diminta iuran untuk bintang, bulan, juga angin.” Pak Darman lalu menatap setiap pemuda yang hadir, menanamkan keberanian.
Hari berikutnya, Sugianto dan beberapa pemuda berinisiatif menulis surat protes ke kantor pusat PT MESN. Adapun warga yang lain menempelkan sejumlah spanduk di beberapa penjuru desa, bertuliskan: “Langit dan Matahari Milik Kita Semua!” Warna cerah spanduk dengan tulisan menonjol terlihat di antara pepohonan hijau, menjadi simbol perlawanan yang sederhana tapi kuat.
Tak lama, datang surat balasan singkat dari PT MESN. Intinya: “Iuran harus tetap dibayar, atau proses hukum akan berjalan.”
Warga membaca surat balasan itu berkali-kali. Setiap kata terasa menekan dada mereka.
Sugianto tak menyerah. Ia mengajak seluruh pemuda desa menggelar rapat umum di tengah ladang. Semua orang berdiri melingkar, wajah mereka serius. Angin pagi membelai wajah mereka, seolah memberi semangat kecil. Mereka tahu ini bukan sekadar iuran atau pajak, tapi harga kebebasan atas hidup mereka sendiri.
“Kita harus bersatu,” kata Sugianto. “Jika satu orang melawan, mudah disingkirkan. Tapi, jika satu desa bersatu, siapa yang berani?” Suaranya menggetarkan udara, menembus kebingungan warga. Beberapa orang bertepuk tangan. Ada secercah harapan yang menyalakan mata mereka.
Rapat memutuskan membuat daftar tuntutan berupa pencabutan iuran matahari, pengakuan hak tradisional atas sinar matahari, dan penolakan eksploitasi korporasi di desa itu. Setiap orang meneken surat tuntutan tersebut. Tak ketinggalan, warga juga mengunggah video pendek terkait rapat dan tuntutan mereka ke media sosial. Dalam salah satu bagian video terlihat Sugianto berjalan di ladang sambil berbicara menghadap kamera. Kata-kata Sugianto sederhana tapi membakar hati.
Video itu lantas viral. Orang-orang dari desa lain membagikannya. Banyak yang menulis komentar mendukung perjuangan mereka. Beberapa jurnalis datang, ingin menyaksikan sendiri desa yang berani melawan korporasi.
PT MESN panik. Beberapa pejabat tingginya datang ke desa, menawarkan negosiasi dan kompensasi finansial. Mobil-mobil hitam melintasi jalanan desa, mengganggu ketenangan desa. Tapi, warga tetap tegas dengan tuntutannya. Mereka tidak tergoda oleh uang atau janji manis.
“Bukan soal uang, kami menuntut soal hak hidup di tanah kami sendiri dan cahaya yang kami butuhkan,” sebut Sugianto. Ia menatap mata setiap pejabat, memastikan mereka mengerti tekad warga.
Negosiasi warga dan PT EMSN berjalan berlarut-larut. Media terus menyoroti desa kecil itu.
Sebagai kepala desa, Pak Rahmat memberi dukungan penuh. “Kami berdiri bersama warga kami, bukan untuk korporasi,”tegasnya.
Selang satu bulan setelah muncul tuntutan warga terhadap PT MESN, seorang ilmuwan energi surya datang ke desa. Ia membawa alat pengukur cahaya dan dokumen penelitian, seraya tersenyum penuh rasa hormat pada Sugianto. Warga berkumpul, penasaran, menyimak setiap kata ilmuwan itu.
Ia menjelaskan bahwa meskipun korporasi telah bekerja sama dengan pemerintah untuk memungut iuran atas energi matahari, kebijakan ini berpotensi merusak ekosistem lokal dan membebani warga. Ia menambahkan, jika dibandingkan standar internasional tentang energi bersih dan hak masyarakat atas energi terbarukan, kebijakan semacam ini tetap kontroversial dan menimbulkan pertanyaan etis yang serius.
Warga tercengang, merasa lega sekaligus marah karena selama ini mereka dipermainkan secara ilmiah dan sosial. Para warga mulai menyadari bahwa hak mereka atas energi matahari bukan sekadar formalitas. Mereka semakin memiliki argumen kuat untuk menuntut perubahan atau perlindungan yang lebih adil.
Berita tentang pandangan ilmuwan itu pun menyebar. Pemerintah, yang awalnya bekerja sama dengan korporasi, terpaksa membuka penyelidikan resmi. Dan akhirnya iuran untuk matahari dibatalkan, sementara praktik PT MESN yang janggal kian mendapat sorotan tajam publik.
Kabar pembatalan kerjasama itu membuat warga desa bersorak, saling berpelukan. Tawa mereka menggema di antara pepohonan. Desa itu kini bukan sekadar tempat tinggal, tapi simbol perlawanan rakyat terhadap kebijakan aneh yang mengancam hidup mereka.
Untuk merayakan kemenangan, mereka lalu menggelar pesta sederhana di ladang. Meja-meja kayu ditata dengan penganan tradisional: klepon manis berwarna hijau, lemper harum yang baru dikukus, dan jagung bakar yang bau hangusnya menusuk hidung dengan menggugah selera. Tak lupa, minuman tradisional ronde dan wedang jahe ikut tersaji. Musik gamelan terdengar dari pengeras suara sederhana. Beberapa perempuan menari dengan anggun. Anak-anak berlari-lari, wajah mereka bersinar penuh kegembiraan, sementara orang dewasa saling berbagi makanan, tersenyum, dan melempar guyonan ringan.
Lampu minyak dan lentera kertas menerangi ladang dengan cahaya temaram keemasan. Bayangan pepohonan berkelebat di tanah, seolah ikut merayakan kemenangan warga. Harum dedaunan bercampur dengan wangi makanan, menciptakan sensasi hangat yang sulit dilupakan.
Sugianto tersenyum menatap warga yang bergembira, merasakan energi persatuan dan kebanggaan yang membara dalam setiap tawa dan langkah kaki mereka.
Setelah pesta sederhana di ladang berakhir, Sugianto berjalan sendiri menyusuri jalan yang basah oleh embun malam. Lampu-lampu kecil yang dipasang warga sudah dipadamkan, meninggalkan kegelapan yang hangat dari sisa tawa dan percakapan. Ia membiarkan udara malam yang segar memenuhi dadanya. Langit di atas tampak lebih luas, seolah baru saja dibersihkan dari awan dan keruwetan pikiran manusia. Untuk sesaat, ia merasa semua baik-baik saja.
Di tengah keheningan, ponselnya bergetar, memutus tenang yang baru saja ia peluk. Sugianto merogoh saku dan menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan dari nomor asing: “Langit memang milik semua. Tapi, beberapa pihak masih mengawasi, dan aturan baru bisa muncul kapan saja. Tetap waspada.”
Jantung Sugianto berdebar, tapi ia tidak panik. Baginya, pesan itu terasa sebagai sebuah peringatan, bukan ancaman langsung. Ia kembali menatap bintang yang bertaburan, tersenyum tipis, dan berkata dalam hati, “Kalau mereka mencoba lagi, satu desa ini akan siap. Bahkan langit pun akan menjerit bersama.”
Ia menutup mata sejenak, membiarkan angin malam meresap ke dalam dirinya. Meski kemenangan atas kebijakan iuran matahari terasa manis, toh ia tahu perjuangan menjaga hak warga belum sepenuhnya selesai. Kendati begitu, ia kini merasakan hubungan yang lebih dalam dengan tanah, langit, dan seluruh warga desa -- sebuah ikatan yang tak bisa digantikan oleh aturan apapun.
***
Djoko Subinarto, Penulis lepas yang tinggal di Cimahi. Selain aktif menulis, juga aktif bersepeda dan berkebun.