Ilustrasi untuk cerita pendek (cerpen) berjudul 'Kabut Sunyi Gunungwangi' karya Dody Widianto. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini).
RONpernah tiga kali lolos dari kematian. Ia pernah hampir tertangkap saat puluhan lesatan peluru terus mengejar dirinya yang berusaha kabur. Entah karena memang takdirnya, ia masih disisakan nyawa yang satu itu dari Tuhan agar ia terus hidup. Atau memang ada sesuatu yang lain yang melindungi Ron, dan ia tak pernah sadar. Pekerjaannya yang penuh risiko memang begitu adanya, tetapi Ron tak pernah kapok. Pundi-pundi uang adalah ganjaran yang setimpal atas pilihannya itu.
Jalan pasar Jonggrangan padat. Mobil jip merah yang Ron kendarai menepi. Ponselnya berbunyi. Ron mendengar suara dari kejauhan. Sebentar lagi tiba di perbatasan masuk Jawa Tengah, menembus pekat dan rimbunnya hutan pinus perbukitan menoreh Kaligesing. Suara dari sana begitu antusias. Lalu pesan “hati-hati” terus saja ia dengar berulang-ulang lewat suara itu. Ron hanya bisa mengangguk-angguk sambil terus memutar setir kanan kiri.
Kabut perlahan turun. Jarak pandang terbatas mungkin hanya 5 meter ke depan. Ron memelankan laju. Hari masih terlalu pagi bahkan mungkin burung-burung dan tonggeret belum terbangun. Hiruk pikuk suara orang pasar di belakang yang serupa dengung lebah perlahan samar dan hampir tak terdengar. Ron hampir masuk Kaligesing. Sesuai yang dijanjikan di titik koordinat dari GPS-nya di ponsel. Ia membuka dan tercantum gambar sandi rahasia tempat mereka harus bertemu. Namun, perutnya keroncongan minta diisi. Ia lalu mencari warung kopi langganan pinggir jalan di perbatasan provinsi.
Tunggu aku 15 menit lagi ya. Atau mungkin setengah jam. Waktu selalu relatif dari sudut pandang yang berbeda bukan?
Ron mengetik pesan. Asap kopi hitam mengepul. Dua mobil pribadi terlihat di seberang jalan. Berkejaran. Ron memegang gagang cangkir. Menghirup. Meniup. Menyesap. Serupa kenangan, betapa aroma dan rasa kopi di warung langganannya tak pernah bisa dilenyapkan. Ia membuka lagi ponselnya. Sebuah gambar di WA: pohon cemara, gunung, dan bunga. Ia mengingat-ingat hutan pinus di perbatasan itu. Tentu saja tak ada hutan cemara di sekitar tempat itu. Itu usahanya agar jika ponselnya tersadap, keberadaannya akan susah dilacak. Ia sering memakai kode dan sandi saat transaksi.
Ia masih berusaha memahami inisial G. Ia tersenyum. Ketemu. Gunung_Bunga. Gunungwangi. Tempat wisata hutan pinus. Ia kembali tersenyum. Menyesap lagi kopi hitam di depan mejanya. Sepiring tempe goreng beraroma daun bawang menusuk-nusuk hidungnya. Empat cabai kecil bergelimpangan di atasnya. Ron langsung memakan habis semua.
Selepas menuntaskan hajat perutnya, ia bergegas. Jip kembali melaju di jalanan sempit. Menelusup ke dalam rimbun pinus-pinus. Setelah Kalilo, ia akan sampai di perbatasan dusun. Hutan pinus Gunungwangi sesuai titik sandi. Namun, sesampai di depan lokasi, ia menemukan sebuah rumah kecil sebelum pintu masuk hutan pinus. Seorang perempuan sedang menjemur pakaian. Satu balita bermain tanah di pelataran dengan sekop plastik kecil. Ron seolah tak pernah lupa dengan postur dan rambut perempuan itu. Ia memelankan laju mobil. Melihat dengan saksama dari dalam. Ia lalu berhenti di pinggir jalan. Gegas turun untuk memastikan dan akhirnya mereka saling pandang. Perempuan itu langsung menggendong balita yang tadi bermain tanah. Ia bergegas masuk. Pintu langsung ditutup.
“Ti, aku bisa jelaskan.”
“Tak ada Mas. Sudah cukup jelas.”
“Aku mohon sekali ini saja. Kau sudah dititipkan orangtuamu agar aku merawatmu sampai kakek nenek. Namun, aku tak bisa melawan takdir bukan?”
“Bukankah kau yang memilih nasibmu sendiri? Tak usah menyalahkan yang lain.”
“Telah kususuri ujung Jogja sampai perbatasan timur Purworejo hanya untuk mencarimu. Dari Godean, Nanggulan, Sleman. Ternyata takdir menemukan kita di sini. Di dalam rimbun hutan pinus. Anak itu juga darah dagingku Ti. Aku mohon.”
“Sudah ada akta perpisahan. Hak asuh ada padaku. Apa lagi? Aku tak suka dengan caramu mencari uang yang tidak benar itu.”
Ron terdiam. Masih tergugu di depan pintu serupa pinus-pinus di depannya yang masih menjulang tegak tinggi, dingin, dan bisu. Betapa jalan yang dipilihnya membuat segalanya berantakan. Serupa kertas yang diremas lalu ia robek-robek. Dan perempuan di depannya menginginkan kertas itu halus kembali. Ia tak pernah menginginkan perpisahan. Bahkan ia baru tahu jika anaknya sudah sebesar itu. Dulu, ia meninggalkannya saat masih di kandungan. Ia tak akan pernah tahu apakah anak itu akan memanggilnya Bapak atau malah akan memanggilnya Om. Ludah yang berusaha ia telan serupa duri. Sakit di tenggorokan. Sejenak ia mengusap sudut mata. Ia tahu tak boleh cengeng. Malu dengan tato naga yang memeluk punggung atas sampai ke depan perutnya yang gembul.
“Kalau kau tak memafkanku, izinkan aku ini meminta maaf pada anakmu. Ia anakku juga Ti. Aku mencarimu bertahun-tahun setelah perpisahan itu. Kau tahu, hanya rindu yang kuasa membawaku ke sini. Cincin pernikahan yang kau tinggal di rumah, aku selalu membawanya dalam tas. Berharap jika aku mati, di mana pun tempatnya, namamu akan selalu kubawa. Aku akan terus di depan pintu sampai aku bisa memeluk anakku dan meminta maaf padanya.”
Sejenak hening. Ron masih berdiri mematung di depan pintu rumah kecil yang hanya terbuat dari tembok GRC. Kasau dan tiangnya hanya dijunjung dari kayu-kayu albasia yang kecil. Ron melihat jajan dan makanan tergantung di depan. Mungkin mantan istrinya sembari jualan di depan pintu masuk wisata. Hingga hampir setengah jam, pintu yang terbuat dari triplek berderit. Terbuka perlahan. Ron gegas menoleh. Ternyata luluh juga. Mereka berdua bertemu lagi dalam tatap bisu. Saling pandang. Namun, entah sihir apa, ketika Ron perlahan masuk, Ti langsung memeluknya, menangis, memukul-mukul punggung Ron. Kecewa, sedih, duka, senang, berkecamuk dalam dada. Dan entah bisikan apa, atas nama rindu yang mereka pendam begitu lama, mereka tuntaskan dendam itu di atas ranjang. Dalam hening, sunyi, dan dingin. Ketika suara samar tonggeret jadi saksi seusai mereka menyatukan diri.
Namun, senja tak membiarkan kebahagiaan itu berlangsung lama ketika gelap telah datang. Suara tembakan berulang di udara tiba-tiba mengoyak malam yang sunyi. Ron terbangun ketika tubuhnya masih tanpa sehelai pakaian terkapar di atas ranjang. Ti gegas berlari memeluk anaknya. Ron segera beranjak. Memakai baju. Ron paham mobilnya telah dikenali. Ia harus sembunyi, tetapi di mana? Rumah kecil ini bukan tempat layak untuk sembunyi. Sekali gedor pintu, mereka akan menemukannya. Ti hanya bisa menangis sesenggukan di samping lemari. Menggeleng. Menyesalkan suaminya yang masih ngeyel dengan pilihan hidupnya. Ron berusaha membuka pintu depan. Ti menampik tangan. Mengusap wajah Ron ketika anaknya tiba-tiba menangis. Suara di luar terus meneror. Menyuruh Ron menyerahkan diri. Ron berbalik arah. Membuka pintu samping. Beharap ia mau menyerah saja agar aman, tetapi Ron malah kabur. Berlari ke pintu masuk hutan pinus. Melompati palang pagar yang telah tertutup.
Kelebat bayangan itu menimbulkan curiga. Dua orang mengejar dengan suara letusan di udara. Menyuruh Ron berhenti dan menyerah. Tepat di pinggir jurang, Ron berhenti. Jika terus ke depan, ia akan menggelinding dan mungkin mati. Jika ia berbalik arah, cerita akan berbeda. Ia tak tahu berapa lama akan di penjara. Sedangkan kiriman paketnya belum tersampaikan ke pemesan. Sebuah serbuk putih yang katanya menjanjikan surga rekaan dan khayalan manusia. Ia memang suka mabuk, tetapi bahkan sampai sekarang, Ron yang dicap jahat oleh mantan istrinya itu, belum pernah sekalipun mencicipi seperti apa rasanya benda aneh itu. Ia tak ingin jadi pecandu. Yang ia lakukan hanyalah demi uang ketika itu. Demi anak dan mantan istrinya bisa makan. Ron harus memutuskan secepatnya sebelum gerombolan dari belakang mengejar.
Namun, waktu memang kadang relatif jika dilihat dari kerangka acuan yang berbeda. Ron terlambat. Sebuah ledakan mengenai kaki ketika sebenarnya, pikirannya telah memutuskan untuk menuruni tebing jurang dengan merayap dan berpegangan pada rerumputan. Ron menahan sakit. Perih. Panas. Ngilu. Ron berusaha tak berteriak. Namun, dua lesatan timah panas bersarang di betis kirinya itu, agaknya menahan langkah dan geraknya. Ron tersungkur dan berdaya. Merasa jika lengan kanannya juga telah berlubang dan tembus ke dada. Ketika gerombolan telah mengelilingi tubuhnya dan menyenteri wajahnya, ia tak bisa lagi mengenali wajah mereka satu per satu. Matanya malah perlahan menutup. Lalu seorang kakek tua berjenggot putih datang. Ia begitu sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan ketika itu. Yang terbayang selanjutnya apakah mantan istrinya telah menjebaknya?
“Waktumu telah tiba. Kejahatanmu harus berhenti di sini cucuku. Aku tak rela kau terus merusak dan berbuat kejahatan atas perilakumu itu. Padahal istrimu telah menasihatimu berulang. Sejujurnya, dulu kakek menanamkan Rajah Kalacakra di dadamu beserta taring babi. Kau tak akan tembus peluru. Kakek pernah datang dalam mimpi dan mencegahmu untuk berbuat itu. Sayangnya, lelaki memang tak akan bisa menampik sebuah kenikmatan. Kau baru saja bercampur dengan mantan istrimu tadi. Hal terlarang yang seharusnya tak kau lakukan. Namun, kakek senang. Sebab kejahatan, seperti perjalanan hidup, ia harus punya akhir. Hanya kebenaran yang harus abadi di muka bumi ini.”
Ti masih sesenggukan di dalam kamar ketika tahu, Ron akan menemui takdirnya. Ia yang memesan barang itu. Sebuah pancingan agar ia datang dan menyerahkan diri. Juga tahu kelemahan Ron tentang jimat taring babi dan Rajah Kalacakra yang tertanam di tubuhnya.
Sementara itu, sebelas panggilan tak terjawab dari ponsel di saku celana Ron jadi saksi ketika tubuh Ron sudah tak bergerak lagi. Berselimut kabut sunyi Gunungwangi.
Dody Widianto,
Cerpenis lahir di Surabaya. Karyanya tersiar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Kompas.id, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos dan lainnya. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.