Ilustrasi untuk cerita pendek (cerpen) berjudul 'Lelaki Empat Nama' karya Tin Miswary. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini).
SEORANG lelaki tua, bermata cekung seperti lekuk tempurung, tampak sibuk menata barang dagangannya di atas terpal biru langit yang terhampar di pinggir jalan. Ia duduk bersila di atas tikar pandan yang telah lecek dimakan usia, tubuh kurusnya yang bagai ranting ditegakkan perlahan. Di atas sana, matahari bersinar terang, menyiram cahaya kuning yang membakar atap-atap kota. Angin dari utara berembus pelan, membelai wajahnya yang kian mengerut ditindas waktu.
“Mampir, Nak!” serunya, menyapa seorang pemuda berkacamata hitam yang duduk di balik kaca mobil yang terbuka separuh. “Lihat-lihat dulu, Nak. Siapa tahu ada yang cocok,” ujarnya dengan nada membujuk, mencoba memancing perhatian. Pemuda itu pun akhirnya membuka pintu dan turun; mengedarkan pandangan, melihat tumpukan pakaian yang di matanya bagai gulungan sampah.
“Ini semua pakaian bekas, saya jual murah-murah. Belilah satu! Dari pagi belum ada yang laku.” Lelaki tua berkaus putih itu tampak menyeka keringat yang mulai bercucuran dari dahinya, menetes bagai titisan hujan di ujung talang. Di depannya, si pemuda memasang ekspresi masam, kedua tangannya terbenam dalam saku celana.
“Aduh, Pak. Bagaimana, ya?” sahut si pemuda yang tampak rapi itu. Keningnya mengerut, mencari kata-kata yang tepat. Apa mungkin aku memakai pakaian monza? Dia mengurut-urut keningnya.
“Harusnya Bapak jualan di … hmm, bagaimana, ya?” Dia membungkukkan tubuhnya ke arah lelaki itu, menekan kedua tangan pada lututnya.
“Tidak mungkin lagi, Nak,” sela lelaki tua sambil tangannya merapikan tumpukan pakaian di hadapannya. “Sudah tiga kali saya berganti profesi. Saya harap ini yang terakhir,” katanya sembari matanya menatap si pemuda.
Kening si pemuda tampak mengernyit, “Maksud Bapak?”
“Kalau pun tidak mau membeli tak apa, tapi duduklah dulu,” ujar lelaki itu dengan suara lemah, tangannya yang keriput meraih bangku lesehan plastik warna biru di belakang punggungnya, meletakkan di hadapan pemuda itu.
“Duduklah!”
Dengan gerakan setengah enggan, si pemuda pun meletakkan pantatnya pada bangku kecil itu sembari matanya menatap langit yang masih menyala. Di hadapannya, lelaki tua itu mulai berkisah dengan suara yang nyaris tanpa nada.
Dalam usiaku yang telah menyentuh lima puluh, sudah tiga kali aku berganti nama. Jika ditambah nama pemberian orang tuaku, berarti ada empat nama yang pernah melekat dalam hidupku—setidaknya sampai hari ini. Setiap pergantian itu bukan tanpa alasan; aku melakukannya sebagai upaya memutus rantai dengan masa lalu, berharap bisa menjalani hidup yang selaras dengan nama-nama baru.
Ketika tangisan pertamaku memecah kesunyian di pagi buta lima puluh tahun lalu, orang tuaku memberi nama Salihin dengan harapan aku bisa menjadi orang saleh di kemudian hari. Meskipun aku tak mungkin menjadi nabi, setidaknya aku bisa hidup terpuji layaknya sufi-sufi agung, seperti diceritakan Teungki Liyah—guru mengajiku di balai bambu. Namun takdir punya selera lain. Ketika usiaku baru lima tahun, Ayah dan Ibu memutuskan berpisah. Sebabnya tidak muluk-muluk—hanya karena pantat Ibu pernah dicolek kepala desa di rumah kenduri—ketika aku masih berada di awang-awang.
Saat itu, Ayahku yang bekerja sebagai sopir bus antarkota jarang sekali pulang. Hidupku berubah dalam sekejap, dan semuanya bermula ketika Ayah sedang dalam perjalanan mengangkut penumpang ke Medan. Saat itulah, wajah Ibu—yang menurut banyak orang mirip Meriam Bellina kebelet kencing—berhasil menjerat Keuchik Majid, hingga akhirnya Ibu hamil.
Semua itu baru terbongkar ketika usiaku menginjak lima tahun. Adalah Om Midi, tetangga kami yang wajahnya bisa membuat setan berlarian menabrak tembok, yang membuka rahasia itu. Ia kesal karena Keuchik Majid sudah berhenti memberinya ‘sumbangan wajib penutup aib’. Maka, dengan mulut berengsek yang tak bisa dikunci, ia menyulut amarah Ayah hingga mendidih seperti kawah Krakatau yang siap meledak.
Sejak hari itu, dunia masa kecilku seperti runtuh. Aku merasa tersesat dalam gua gelap dan pengap, tempat manusia purba beranak-pinak ribuan tahun silam. Bukan hanya karena perceraian orang tuaku, tapi juga karena satu noda yang tak akan pernah pudar—meski dicuci seribu tahun dengan air es dari Kutub Utara.
Anak haram! Begitulah teman-teman memanggilku. Kata-kata itu menancap seperti duri. Ingin rasanya aku lari, menembus padang sabana, menyelam ke laut terdalam, lalu terbang bersama burung-burung dan bersembunyi di balik awan yang memeluk hujan.
Dengan menumpang bus PMTOH yang suaranya seperti lenguh kerbau di tengah sawah, akhirnya aku sampai ke Medan. Saat itu, usiaku sudah menginjak lima belas. Aku mendapati kota itu begitu riuh: kendaraan yang saling menyalip, pejalan kaki yang menyeberang sembarangan dan asap berbau sangit yang membubung di langit.
Setelah terlunta-lunta hampir dua minggu, seperti musafir di padang pasir, akhirnya aku bertemu Bang Ocang. Laki-laki dengan cambang lebat bagai rumput kering itu dikenal sebagai perampok paling sadis di kota Medan. Namun, Bang Ocang sangat baik padaku. Dia memberiku makan, minum, pakaian dan tempat berteduh.
Aku hidup bersama Bang Ocang sampai usiaku menginjak dua puluh lima tahun. Waktu yang cukup lama itu telah mengubah hidupku. Aku mengikuti jejak Bang Ocang, menjadi perampok yang sangat ditakuti di sana. Saat itu, pada suatu petang yang redup, atas saran Bang Ocang, aku mengganti namaku menjadi Robert. Ini adalah pergantian namaku yang pertama, sebab aku merasa sudah tak layak lagi menyandang nama Salihin, terlalu berat.
Tak perlu kautanya berapa banyak perut yang telah kutikam demi mengisi perutku sendiri. Tak usah pula kautanya berapa banyak wanita yang kutampar tengkuknya, kucabik harga dirinya, lalu kujarah perhiasannya. Yang paling kuingat, kejahatan terakhirku sebagai Robert adalah membunuh seorang nenek yang sedang salat di sebuah gubuk reyot. Aku tikam ia untuk mengambil emas yang disimpannya dalam kaleng biskuit. Untuk apa dia menyimpan emas sebanyak itu? Bukankah harta tidak dibawa mati?
Menginjak usia tiga puluh—setelah Bang Ocang mati ditabrak truk pengangkut semen, aku pun berhenti merampok. Saat itu, pada suatu senja yang muram—ketika matahari memberi isyarat untuk tenggelam—aku bertemu dengan seorang pemuda seusiamu di terminal kota yang bising. “Bertobatlah!” katanya saat itu.
“Lebih baik kau mengemis dengan baju lusuh daripada membunuh orang-orang tak berdosa. Tuhan akan mengampunimu jika engkau benar-benar bertobat. Dan, orang-orang akan mengasihimu.”
Aku duduk menekur tanah, merenungi kata-kata itu, dan lalu aku pun mengubah jalan hidupku. Yang pertama aku lakukan adalah mengganti namaku menjadi Faqiruddin. Aku berharap nama ini cocok dengan profesi baruku setelah menjalani pertobatan yang mendadak itu.
Aku pun mulai menjalani aktivitasku dengan tekun dan penuh penghayatan. Aku menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk mengemis di kota Medan yang ramai; berjalan tertatih-tatih dari pintu ke pintu, memasuki gang berbau anyir dan pasar beraroma rempah. Dari hasil meminta-minta aku bisa mendirikan sebuah gubuk sederhana di sebuah kampung di Deli Serdang, kampung yang begitu sejuk dan damai.
Tanpa sengaja, pada suatu pagi yang dingin, ketika hendak berangkat mengemis, aku kembali bertemu dengan seorang pemuda seusiamu. Dia menegurku dan mengajakku singgah di sebuah warung yang menguar aroma kopi.
“Aku lihat tubuhmu begitu sehat dan bugar,” katanya sambil menatap wajahku dengan lekat.
Aku hanya tersenyum, melempar pandanganku ke langit, pada merpati yang saling berkejaran di udara. “Coba kaulihat ke sana,” katanya lagi, dengan suara sedikit meninggi.
Dia menunjuk sekelompok pemuda yang sedang mengangkut kayu di pundak mereka, berjalan terbungkuk-bungkuk seperti kiwi.
“Mereka mengeluarkan keringat untuk mendapatkan uang halal. Aku pikir kau harus meniru mereka. Jika pun tidak sanggup seperti mereka, kau bisa berdagang kecil-kecilan. Yang penting, jangan lagi mengemis, sebab mengemis adalah kehinaan.”
Dia berhenti sejenak, membuat satu penekanan penting, “Nanti di akhirat wajahmu akan hitam seperti jelaga.”
Setelah menceramahiku, si pemuda itu pun pamit sembari membayar sejumlah uang kepada pemilik warung, berjalan bersungut-sungut dan hilang di balik pohon.
Lama aku termangu di warung itu, mengetuk-ngetuk bibir cangkir dengan sendok kecil, mengeluarkan suara gemerincing seperti tiang listrik dilempar batu. Dengan langkah gontai, aku bangkit dan kembali ke gubukku. Celengan dari kaleng susu itu aku banting ke tanah. Aku injak-injak sampai lumat.
Tujuh senja berlalu, aku pun menjual habis barang-barangku; papan dan kayu-kayu yang aku bongkar dari gubuk kecilku. Kujual murah-murah. Bermodal hasil penjualan barang-barang dan sedikit simpanan yang kumiliki dari hasil mengemis, aku pun memutuskan kembali ke kampungku di Bagok, kampung kecil yang dikelilingi tambak-tambak ikan.
Sebelum pulang aku sempat berbelanja pakaian bekas di beberapa lapak barang loak di Medan. Aku ingin berdagang kecil-kecilan di kampung. Aku pun kembali mengganti namaku untuk ketiga kalinya. Sekarang namaku Abu Tajir.
Setiba di kampung aku mendapat dua kabar duka sekaligus. Ibuku yang sudah menjadi istri kelima Keuchik Majid meninggal dunia. Dia meninggal bersama suami barunya dalam sebuah kecelakaan di jalan raya, ditabrak bus yang kebetulan dikemudikan Ayahku. Seminggu setelah Ibu dicambuk malaikat, Ayah mengakhiri hidupnya di penjara dengan memakan obat nyamuk bakar. Dia memakannya seperti kerupuk.
Saat itu, usiaku sudah empat puluh tahun. Aku menjadi pedagang pakaian bekas di kota kecil ini. Setiap hari aku harus bertengkar dengan Satpol PP. Mereka mengubrak-abrik barangku seperti rombongan lembu merusak ladang. Untung saja aku sudah berubah menjadi pedagang. Andai saja itu terjadi dua puluh tahun lalu—saat aku masih memakai nama Robert—mungkin perutnya yang buncit itu sudah kurobek pakai belati.
Dan, kautahu? Yang paling aku sesalkan dalam hidup adalah bertemu dengan orang-orang sepertimu. Ketika aku masih jahat, orang-orang sepertimu mengingatkanku agar tidak membunuh dan menyakiti orang lain, padahal aku merampok demi mempertahankan hidup. Ketika aku beralih menjadi pengemis, orang sepertimu mengejekku sebagai sosok hina, padahal aku tidak menyakiti orang lain.
Dan … kau wajib dengar ini, ketika aku menjadi orang baik-baik seperti sekarang, orang-orang sepertimu memandangku sebelah mata, padahal aku sedang berjuang mencari uang halal. Mereka menatap daganganku dengan bibir menguncup. Begitu pun pemerintah, mereka menganggap orang-orang sepertiku sebagai benalu yang harus dicincang sebelum bertumbuh. Ketika aku jahat, mereka menyuruhku menjadi baik. Ketika aku baik, mereka menginjakku.
Begitulah, sampai akhirnya aku bertemu denganmu hari ini. Kini usiaku sudah menginjak lima puluh, tidak semuda dulu. Apa kau ingin menyarankan agar aku mengubah namaku untuk keempat kalinya? Apa aku harus memakai nama Doktorandus biar bisa jadi DPR?
Setelah mendengar cerita si lelaki tua, si pemuda berkacamata hitam itu pun bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk pantat yang dihinggapi debu. Dia berdiri, menatap langit yang masih membara. Dari kejauhan terlihat mobil pikap melaju terburu-buru, membuat asap di belakangnya terbang membura.
Lelaki tua itu mengumpulkan dagangannya dengan tergesa, seperti orang memungut padi di tengah hujan, lalu berjalan terhuyung-huyung, meninggalkan si pemuda yang masih berdiri bagai tembok.
“Hei, Pak Tua! Jangan lari!
Suara Satpol PP terdengar bagai gemuruh.
Si pemuda berkacamata hitam berdiri kaku, matanya masih tertuju ke jalanan berdebu yang sebentar tadi dilalui si lelaki tua. Di hatinya timbul sesuatu yang tak ia kenali—seperti rasa malu yang terlambat datang. Ia melangkah pelan kembali ke mobil, membuka pintu dengan ragu. Di dalam kabin, ia memandang wajahnya sendiri lewat cermin spion. Mata di balik kacamata hitam itu tampak kosong.
Lalu, ia menekan pedal gas sekuat tenaga, membuat kendaraan itu memelesat bagai kilat. Di ujung jalan, dia menabrak gerombolan lembu yang sedang melintas. Dalam kondisi tubuh remuk, dia ingat sesuatu: bahwa dosa paling besar bukanlah kegelapan, tapi ketakutan pada cahaya.
Tin Miswary,
Menulis cerpen, esai dan resensi buku di sejumlah media. Berdomisili di Bireuen.