Ilustrasi untuk cerita pendek (cerpen) berjudul 'Ilham' karya Dadang Ari Murtono. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini).
SEPULANG kerja, seorang lelaki memutuskan duduk sebentar di pinggir jalan merenungkan hidupnya yang begitu-begitu saja, hidup yang berkisar antara rumah dan kantor, antara istirahat dan pekerjaan – sebuah rutinitas yang menjemukan. Dan pada saat itulah, seseorang menghampirinya sambil mengulurkan sebuah buku.
“Ambillah,” kata si seseorang.
“Apa ini?” si lelaki bertanya.
“Apa aku mengenalmu?”
“Sebuah novel,” jawab si seseorang.
“Novel yang kau tulis. Dan ya, kau mengenalku. Semua orang mengenalku. Kalian semua menyebut aku sebagai Ilham.”
“Ilham?” si lelaki mengulang sambil meraih novel yang terulur kepadanya.
“Novel yang aku tulis?”
“Ilham,” Ilham menjawab sambil mengangguk dan tersenyum.
“Novel yang kau tulis.”
“Aku tak ingat aku pernah kenal seseorang bernama Ilham,” kata si lelaki sambil mengamati buku itu baik-baik.
“Dan aku tak ingat aku pernah menulis sebuah novel."Si lelaki mendongak dan Ilham sudah tak ada di sana.
Sesampainya di rumah, lelaki itu membuka dan membaca novel yang ia rasa tak pernah ia tulis. Sebuah novel yang tidak terlalu tebal, hanya sekitar dua ratus halaman dan diketik menggunakan huruf Times New Roman 12 spasi 1,5.
Bab pertama novel tersebut berkisah tentang hari-hari biasa dari seorang lelaki biasa yang menghabiskan hidupnya antara rumah dan kantor, antara istirahat dan pekerjaan – sebuah rutinitas yang menjemukan.
“Ini seperti kisah tentang diriku,” si lelaki bergumam.
Maka ia membaca dan terus membaca. Ia bahkan lupa makan lupa mandi. Ia membaca dan terus membaca. Dan tahu-tahu, ia telah menamatkan novel tersebut sebelum pukul sebelas malam.Si lelaki menghela napas besar.
“Ini novel yang sangat bagus,” ia kembali bergumam sambil menutup halaman terakhir novel. “Benar-benar sangat bagus meski kisah yang diceritakan biasa saja.”
Si lelaki menimang-nimang novel tersebut dan membolak-baliknya. Ia memeriksa sampul putih tanpa ilustrasi dari novel itu dan terkejut ketika mendapati namanya tertera di bawah judul sebagai pengarang. Aneh sekali ia tidak melihat itu ketika membacanya pertama kali tadi. Hal itu membuat ia teringat pada apa yang dikatakan Ilham.
“Benarkah aku yang menulis novel ini?” si lelaki merasa ragu.
Ia kemudian meraih ponselnya, membuka Google, dan mengetikkan judul novel tersebut di kolom pencarian.
Tidak ada. Tidak ada satu pun hasil pencarian untuk novel dengan judul seperti itu.
Si lelaki kemudian menyalin paragraf pertama novel tersebut di kolom pencarian Google. Dan sekali lagi, tak ada satu pun hasil pencarian yang muncul.
Si lelaki membuka sembarang halaman novel tersebut secara acak, menyalin paragraf secara acak di mesin pencarian, dan sekali lagi ia tidak menemukan satu pun hasil pencarian yang sesuai.
“Apakah ini benar-benar novel yang aku tulis dan belum pernah terbit?” si lelaki semakin bimbang.
Malam itu, si lelaki tidak bisa tidur. Ia berguling-guling di atas ranjangnya dengan si novel teronggok di samping bantal. Berkali-kali si lelaki mengambil novel tersebut, memeriksanya baik-baik, membuka dan membaca secara acak, dan berpikir.
“Novel ini,” pikir si lelaki, “memang sepertinya bercerita tentang kehidupanku yang membosankan dan apa-apa yang ingin aku lakukan dengan kehidupanku yang membosankan. Jika aku ingin menulis novel, pasti novel seperti inilah yang akan aku tulis.”
Si lelaki kemudian bangkit. Ia mengambil novel tersebut. Ia membaca namanya yang tertera di sampul – ditulis dengan huruf Times New Roman ukuran 12, sedikit lebih kecil ketimbang judul di atas namanya yang menggunakan ukuran 14. Ia teringat apa yang dikatakan Ilham. Novel yang kau tulis. “Barangkali ini memang benar-benar novel yang aku tulis,” pikir si lelaki.
Sudah hampir subuh ketika si lelaki membuka laptop dan mulai mengetik ulang seluruh isi si novel. Mengetik ulang novel tersebut, ternyata, tak secepat ketika membacanya. Pukul tujuh pagi, si lelaki baru menyelesaikan satu bab. Alarm di ponselnya berdering kencang menandakan waktu bersiap berangkat kerja.
“Peduli setan!” si lelaki berteriak sambil mematikan alarm itu. Ia merasakan gairah yang amat kuat meletup-letup dari dalam dirinya untuk terus mengetik dan mengabaikan hal lain. Maka, untuk pertama kalinya semenjak ia bekerja tiga tahun lalu, ia tidak masuk kantor hari ini.
Ia mengetik dan terus mengetik. Ia tidak mandi, ia tidak sarapan, ia tidak beranjak dari depan laptop. Ia hanya mengetik dan terus mengetik. Dengan kemampuan mengetiknya yang sesungguhnya tidak terlalu baik namun dikuatkan oleh tekad yang menyala-nyala, si lelaki memerlukan waktu dua hari untuk merampungkan pengetikan ulang novel itu – hampir lima puluh ribu kata.
Dan selama waktu itu, ia tidak beranjak ke mana-mana, selain dua kali untuk kencing di kamar mandi dan sekali mengambil camilan serta botol minum dari kulkas. Ponselnya berkali-kali berdering memberitahu panggilan dari kantor. Tapi si lelaki memang benar-benar tidak peduli. Ketika ia telah menyelesaikan pengetikan ulang itu, ia jatuh tertidur. Tidur dengan begitu nyenyak.
Hal pertama yang dilakukan si lelaki setelah bangun adalah berselancar di internet mencari alamat penerbit dan mengirim berkas novel tersebut ke salah satu penerbit yang ia rasa cocok melalui email. Setelah itu, ia makan banyak dan kembali tidur.
Balasan dari penerbit tiba dua hari kemudian, jauh lebih cepat dari apa yang diperkirakan oleh si lelaki sendiri. Si lelaki mendapatkan kontrak penerbitan dan rencana tur ke beberapa kota untuk mempromosikan novel tersebut.
“Ini novel yang luar biasa,” itu yang tertera dalam pengantar surat balasan dari penerbit. “Kami tidak pernah menemukan kisah seperti ini sebelumnya. Ini akan jadi sebuah fenomena.” Si lelaki melonjak saking gembiranya.
Dan memang begitulah kenyataannya. Novel itu benar-benar jadi fenomena. Novel itu terjual hampir dua puluh ribu eksemplar hanya dalam waktu dua bulan semenjak diluncurkan.
Si lelaki kini menghabiskan waktunya untuk keliling dari satu kota ke kota lain. Ia juga menghadiri banyak sekali undangan berceramah, undangan wawancara, undangan menghadiri festival-festival sastra, dan lain sebagainya.
Dengan segala macam kesibukan, si lelaki kini tak perlu lagi bekerja di kantor lamanya. Dan dengan begitu, ia bisa bebas dari rutinitas yang membosankan.
Bulan demi bulan berlalu, lantas berganti tahun demi tahun. Dan sepanjang waktu itu, novel si lelaki terus mengalami cetak ulang serta memenangkan dua buah penghargaan sastra penting. Undangan-undangan untuk berbagai macam acara terus berdatangan. Wartawan-wartawan terus berdatangan. Dan si lelaki semakin sibuk.
Lantas pada suatu ketika, seorang wartawan bertanya kapan si lelaki akan menerbitkan novel keduanya. Si lelaki seperti disentakkan dari sebuah mimpi. Ia tertegun sebentar, lantas menggeleng. “Tunggu saja,” itu akhirnya yang keluar dari mulutnya.
Semakin hari, si lelaki semakin sering mendengar pertanyaan semacam itu. “Sudah hampir empat tahun sejak novel pertama Anda, kami sudah tidak sabar untuk membaca novel selanjutnya. Para pembaca Anda pasti berpikir yang sama.”
“Atau mungkin Anda sedang mengerjakan proyek lain. Kumpulan cerpen, mungkin.”
“Melihat kehati-hatian Anda dalam bekerja, buku selanjutnya pasti lebih mengejutkan dari buku pertama Anda.”
Dan seterusnya.
Dan sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat si lelaki merasa terpojok dan terancam. Kenyataannya, ia tidak pernah menulis dan tidak sedang menulis apa pun. Si lelaki mulai khawatir keluar rumah, mulai takut menghadiri undangan-undangan acara sastra, dan mulai cemas menemui wartawan.
Lalu ia teringat Ilham.
“Di mana ia sekarang ya?” pikir si lelaki.
Sejak kejadian di pinggir jalan waktu itu, si lelaki memang tak pernah lagi bertemu Ilham. Atau lebih tepatnya, Ilham tidak pernah lagi menemui si lelaki. Dan oleh karena itu, si lelaki tak mendapatkan satu naskah baru yang bisa diterbitkan.
Kini, si lelaki mengutuki dirinya sendiri karena telah bertindak ceroboh dengan tidak meminta nomor telepon atau alamat Ilham waktu itu.
“Benar-benar celaka!” pikir si lelaki.
Tak tahan dengan segala macam pertanyaan mengenai buku baru, si lelaki akhirnya memutuskan untuk mulai menulis. Ia membuka laptop, bersiap mengetik. Dan begitulah ia terdiam di hadapan layar kosong selama berjam-jam.
“Gila,” si lelaki memaki. “Ini benar-benar sulit. Aku bahkan tak tahu kata pertama apa yang mesti aku tulis.”
Si lelaki kemudian membeli buku-buku panduan menulis. Ia membaca semuanya. Ia harus belajar menulis. Dan setelah itu, ia kembali membuka laptop. Dan seperti sebelumnya, ia hanya bengong selama berjam-jam di depan layar kosong.
Si lelaki lalu membuka YouTube. Ia menonton banyak sekali video ceramah dari pengarang-pengarang besar tentang proses kreatif mereka serta tips-tips menulis yang mereka paparkan. Lalu si lelaki kembali mencoba menulis. Ia duduk dengan tenang di depan laptop yang menyala. Berjam-jam. Berjam-jam dan ia hanya bisa menatap layar kosong.
“Omong kosong segala macam teori itu!” si lelaki memaki sekali lagi sambil menutup laptop dengan kasar.
Si lelaki masih berusaha menulis. Ia berusaha mempraktikkan semua teori dalam buku panduan yang ia baca, ia mencoba menerapkan tips-tips dari video ceramah para pengarang yang ia tonton, namun seperti sebelumnya, ia tetap tak mampu mengetik satu kata pun. Si lelaki menjambaki rambutnya sendiri dengan frustasi.
Lalu ia mulai menangis.
Ia menyebut-nyebut nama Ilham berkali-kali.
Lantas tiba-tiba ia bangkit. Matanya berbinar.
“Kalau Ilham tidak datang,” ia bergumam dengan penuh kepercayaan diri, “maka aku yang harus mengejarnya.”
Dan itulah yang kemudian dilakukan oleh si lelaki. Ia mengemasi barang-barangnya, kemudian memulai satu perjalanan. Didorong oleh insting, ia memilih Jakarta sebagai tujuan pertama perjalanannya.
Ia menyewa satu kamar di sebuah hotel yang tidak terlalu mahal, lalu keluyuran ke tempat-tempat yang ia pikir akan membawanya bertemu Ilham. Taman Ismail Marzuki, perpustakaan-perpustakaan, toko-toko buku, kampus-kampus, lantas lorong-lorong yang tak jelas, jalan-jalan kecil yang tak pernah ia tahu sebelumnya, gang-gang kumuh, dan seterusnya.
Namun ia tidak bertemu Ilham di semua tempat yang ia datangi tersebut. Setelah beberapa waktu, ia yakin bahwa Ilham tak ada di Jakarta. Dan ia memutuskan untuk meneruskan perjalanannya ke kota lain.
Bertahun-tahun berlalu dan si lelaki masih terus berjalan dari satu kota ke kota lain, dari Jakarta ke Surabaya, dari Samarinda ke Makasar, dari Bandung ke Semarang, dan seterusnya dan seterusnya. Ia masih terus mencari Ilham. Ia menguras tabungannya, tinggal beberapa hari di satu tempat untuk kemudian pindah ke tempat lain. Ia bertemu banyak orang. Ia mengalami banyak peristiwa. Ia mendengar banyak cerita. Tapi Ilham, bagaimanapun, memang belum ketemu.
Lantas pada satu hari, di sebuah kamar hotel kelas melati di Mojokerto, dalam kondisi putus asa lantaran tabungan yang hampir habis, si lelaki merenungkan semua yang telah ia kerjakan, semua tempat yang telah ia datangi, semua peristiwa yang ia alami, semua cerita yang ia dengar.
“Demi Tuhan,” si lelaki berseru.
Si lelaki mengeluarkan laptopnya. Dan ia tahu apa yang harus ia tulis.
“Ilham?” si lelaki mulai mengetik sambil bergumam, “omong kosong dengan Ilham!”
Bukunya yang sudah terbit: Kumpulan Cerpen: ‘Cerita dari Brang Wetan’ (2022) dan ‘Peta Orang Mati’ (2023). Kumpulan Puisi: ‘Ludruk’ (2016), ‘Jalan Lain ke Majapahit’ (2019) dan ‘Sapi dan Hantu’ (2022). Novel: ‘Samaran’ (2018) dan ‘Cara Kerja Ingatan’ (2020).