Ilustrasi cover Kumpulan cerpen Yudhi Herwibowo, Umbira dan Keajaiban-Keajaiban di Kotak Ajaibnya (bukuKatta, 2022) yang diulas S. Prasetyo Utomo.
DONGENG masih menjadi roh penciptaan cerpen Indonesia mutakhir, merasuk ke dalam struktur narasi, yang membangkitkan keasyikan pembaca. Cerpen hadir dengan tafsir baru, konflik yang lebih kompleks, dan merambah konteks sosial kontemporer.
Kumpulan cerpen Yudhi Herwibowo, Umbira dan Keajaiban-Keajaiban di Kotak Ajaibnya (bukuKatta, 2022) menghadirkan sejumlah cerpen yang memikat, justru karena mengangkat realitas sosial yang getir dengan kemasan dongeng.
Dalam buku kumpulan cerpen terbarunya, Yudhi Herwibowo memanfaatkan dongeng yang menyusup dalam struktur narasi. Di antaranya “Cermin Retak”, “Lemari”, “Umbira dan Keajaiban-Keajaiban di Kotak Ajaibnya”, dan “Imarai dan Bulir Cahaya”. Kehadiran dongeng dalam struktur narasi cerpen-cerpennya memperkaya tafsir pembaca terhadap realitas sosial politik yang ingin disampaikannya.
Yudhi Herwibowo menghadirkan peristiwa sejarah dan realitas sosial yang getir, bahkan beraroma pembantaian manusia. Cerpen “Cermin Retak” berlatar pembantaian Tionghoa di Batavia pada masa kekuasaan Valckenier, Gubernur Jenderal VOC tahun 1740. Cerpen “Lemari” dengan latar narasi pembantaian suami-istri yang dilakukan lelaki-lelaki berseragam.
Cerpen “Umbira dan Keajaiban-Keajaiban di Kotak Ajaibnya” dengan latar perkosaan terhadap Umbira hingga ajal. Cerpen “Imarai dan Bulir Cahaya” dengan latar gadis kecil yang menghindari kekejian ayah tiri setelah ibu kandungnya meninggal dunia.
Dongeng sengaja dikembangkan Yudhi Herwibowo untuk mengemas kepedihan penindasan atau bahkan pembantaian terhadap manusia-manusia lemah untuk kepentingan-kepentingan nafsu birahi, ketamakan, dan keserakahan kekuasaan.
KECENDERUNGAN Yudhi Herwibowo terhadap dongeng yang dikembangkan dalam struktur narasi terasa lebih liat dalam novel Cara Terbaik Menulis Kitab Suci (baNANA, 2021). Dalam novel ini, ia menemukan keasyikan mengemas dongeng ke dalam struktur narasi.
Ia mengembangkan karakter tokoh-tokoh cerita yang menggerakkan konflik-konflik yang mengundang empati pembaca untuk terus mengikuti perkembangan struktur narasinya.
Dalam cerpen “Cermin Retak”, kehadiran dongeng memang tidak dominan. Dongeng itu dikembangkannya untuk memberi latar mitologis terhadap tokoh Mei Hua yang hidup pada masa kekuasaan Valckenier, Gubernur Jenderal VOC tahun 1740.
Berbeda dengan dongeng “Cermin Ajaib” yang menuturkan kepercayaan diri seorang gadis, cerpen “Cermin Retak” menuturkan kepedihan-kepedihan hidup yang dialami Mei Hua. Dongeng mengantarkan narasi kelam kehidupan tokoh cerita, yang berakhir dengan tragedi.
Akan tetapi, kehadiran dongeng itu telah mengantarkan fantasi-fantasi yang kaya motif ke hadapan pembaca untuk lebih tajam memaknai nilai-nilai humanisme. Dongeng dihadirkan pengarang sebagai katarsis depresi psikologis yang diakibatkan kekejian kaum kolonial.
Dalam cerpen “Lemari”, dongeng tentang lemari berbeda dengan narasi yang diimajinasikan C.S. Lewis tentang Lucy yang menemukan lemari besar dan mendapati di balik lemari itu ada sebuah negeri indah bernama Narnia.
Kontradiksi dengan C.S. Lewis, Yudhi Herwibowo menyampaikan motif tentang lemari untuk menarasikan kenangan-kenangan tokoh mengenai masa silam yang kelam, bahkan pembantaian yang dilakukan “orang-orang berseragam” terhadap kedua orang tua tokoh utama.
Lemari membangkitkan fantasi-fantasi baru tentang trauma psilologis, bahkan kemudian menjadi trauma sejarah pembantaian “orang-orang berseragam” yang memuntahkan peluru, menghabisi nyawa manusia.
Yudhi Herwibowo sengaja membuka tafsir terhadap kekejian “orang-orang berseragam” yang bisa dimaknai sebagai militer, atau bisa juga sebuah organisasi tertentu. Ia tak menyebut angka tahun peristiwa itu terjadi. Ia memberikan kebebasan ruang penafsiran bagi pembaca.
Suasana paradoksal juga menjadi bagian struktur narasi cerpen “Umbira dan Keajaiban-Keajaiban di Kotak Ajaibnya”. Tokoh Umbira, yang artinya gembira, menerima kenyataan hidup yang getir. Kotak ajaib tempatnya bersembunyi juga tak memberikan keajaiban perlindungan. Umbira menerima kekerasan (manusia berkarakter) monster di rumah.
Ketika ia melarikan diri dari rumah, ia mendapat kekerasan seksual 14 anak dan meninggal dunia. Kematian membebaskan Umbira dari penderitaan dan kekerasan-kekerasan yang diterimanya. Dongeng telah dimanfaatkan pengarang untuk “membebaskan” tokoh dari berlapis-lapis penderitaan.
Dongeng menjadi dunia fantasi serupa “persembunyian” semu bagi kekerasan fisik dan seks, yang dilakukan dengan cara biadab. Melalui cerpen ini, pengarang ingin menyampaikan pesan bahwa dongeng menjadi “fantasi” yang menyembunyikan berlapis-lapis penderitaan tokoh utama.
Kekerasan dan kekejaman juga mewarnai struktur narasi “Imarai dan Bulir Cahaya”. Yudhi Herwibowo memang tidak menyusun struktur narasi serupa dongeng “Putri Clairess”, peri cahaya di hutan Tropicalea.
Akan tetapi, pertolongan bulir cahaya terhadap Imarai memberikan pembebasan gadis itu dari kekerasan ayah tiri. Bulir cahaya telah menuntun Imarai meninggalkan rumah setelah ibu kandungnya meninggal dunia, menghindari ayah tiri yang kejam.
Bulir cahaya itu menuntun Imarai sampai ke rumah paman, dan setelah itu lenyap tak berbekas. Cerpen ini telah dicipta dengan struktur narasi yang digali dari imaji pengarang tentang “bulir cahaya” yang serupa dengan peri cahaya, yang memberikan pertolongan kepada manusia.
***
KEEMPAT cerpen Yudhi Herwibowo yang mengangkat dongeng menjadi bagian roh pengembangan struktur narasi untuk mengekspresikan betapa keji kekerasan dan tragedi yang menimpa tokoh utama. Keempat cerpen itu menjadi menarik bagi saya, karena dongeng menjelma narasi baru, yang sanggup mengalirkan realitas sosial.
Dongeng mengantarkan berbagai persoalan sosial, kekerasan seks, kebusukan sejarah kekuasaan yang keji, dan pembantaian yang dilakukan “orang-orang berseragam”. Dongeng mengantarkan pengertian bahwa militer dan dominasi kekuasaan patriarkhi masih menjadi ancaman dalam kehidupan. Korban yang tertindas adalah kaum minoritas, rakyat jelata, dan kaum perempuan, bahkan gadis di bawah umur.
Kehadiran dongeng yang menyusup dalam struktur narasi cerpen pernah dilakukan Kuntowijoyo. Cerpen “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri” merupakan teks yang memanfaatkan dongeng yang digali dari akar tradisi masyarakat untuk mengisahkan pengucilan terhadap seseorang yang kemudian menikah dengan peri.
Kuntowijoyo sungguh memiliki selera humor tinggi karena memanfaatkan bahasa satire, mengolok-olok perilaku masyarakat. Yudhi Herwibowo memanfaatkan dongeng untuk mempertajam fokus empati kemanusiaan terhadap tokoh-tokoh yang menjadi korban kekerasan. Ia berobsesi pada kekejian hegemoni kekuasaan, bukan kebusukan perilaku masyarakat sebagaimana Kuntowijoyo.
***
S. Prasetyo Utomo
Sastrawan, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Cerpen-cerpennya termaktub dalam beberapa Kumpulan Cerpen Kompas Pilihan. Nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.
Karya Novelnya: Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022).
Karya Kumpulan cerpennya: Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022), Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).