Puisi-Puisi Zajima Zan
Zajima Zan
Di Penghujung Bulan Puasa
Kata orang-orang, semua hal
tentang bulan ini
akan dirindukan,
Walaupun sebagian mereka
belum merasakan apa-apa:
hanya ada lapar dan penantian malam
Tapi,
di sini
di rumah kecil kita ini
kesunyian meluas
dan perlahan-lahan mendekati tubuh kita
kau berbicara pada ayahmu
yang terkubur dalam matamu
Aku membicarakan selapang dadaku
tempat perasaan-perasaan asing mengilu
Anak perempuan di dekat kita
mulai mendengar
hal-hal yang belum kita pahami
yang belum sempat kita dekati
Seusai ku bantu kau menyusun piring kotor,
kau bawa pergi ke keran air di teras rumah
berlama-lama di sana, berharap yang kau cuci
bersih kembali
Tapi yang kau lihat hanya sebuah titik kemungkinan
dan ada yang memucat di gumpalan-gumpalan asap rokokku
kau mulai berfikir akhirnya:
“Kembali adalah kata kerja yang tidak bisa bekerja,
dan yang paling singkat di antara kita
selalu kedamaian...”
Malam meluas
dan perlahan-lahan mendekati
tubuh kita,
lalu tubuh anak itu juga
Dan kita tidak merindukan apa-apa
2024
Pada Musim Imigrasi
1/
Pada dini hari, ketika kokok ayam jantan memurnikan sunyi
malaikat datang kepada gadis itu, dan bertanya
“Kenapa kau ingin bunuh diri?”
gadis itu bertanya kembali, “Apakah pertanyaan ini bentuk rahmat kepadaku?”
Sunyi seakan abadi
dan sayapnya memenuhi kamar mandi
Tidak ada maut di kamar mandi
lagu subuh keburu menyentuh kening gadis itu
dengan suara panjang dari toa menara masjid
Di kamar mandi, ia memang sering melakukan percobaan bunuh diri
ia bentuk sayatan di pergelangan tangan sepanjang kesedihannya sewaktu ia masih kecil
namun kesedihan itu tidak menemukan urat nadi
ia juga sering mengikat lehernya dengan tali

















